Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, Sejarah dan Masa Kejayaan, Raja-Rajanya

Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kedatuan terbesar di Nusantara. Era Kerajaan bercorak Hindu Buddha tersebut bahkan dipandang sebagai masa keemasan bagi peradaban Jawa Kuno.

Mataram Kuno/Medang telah meninggalkan warisan menakjubkan dalam sejarah Indonesia.

Salah satu peninggalannya yang paling tersohor adalah Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Tidak mengherankan apabila ahli budaya dan sejarah sangat mengelu-elukan Mataram Kuno.

Karena pada periode tersebutlah, budaya, arsitektur, dan seni Jawa mulai berkembang pesat.

kerajaan mataram kuno

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno

Bisa dikatakan bahwa jejak arkeologis peninggalan masa kekuasaan Mataram Kuno merupakan yang paling banyak ditemukan dan paling dikenal, baik oleh kalangan lokal maupun internasional.

Berikut ini adalah beberapa bukti peninggalan Medang yang paling populer:

  • Candi Borobudur
  • Candi Prambanan
  • Candi Sewu
  • Candi Ratu Boko
  • Candi Pawon
  • Candi Gebang
  • Candi Kalasan
  • Candi Sambisari
  • Candi Sojiwan
  • Candi Sari
  • Candi Plaosan
  • Candi Gedong Songo
  • Candi Banyunibo
  • Candi Ijo
  • Candi Bubrah
  • Candi Merak
  • Candi Arjuna
  • Candi Mendut
  • Candi Ngawen
  • Prasasti Canggal
  • Prasasti Mantyasih
  • Dsb

Sejarah Mataram Kuno

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sekitar abad ke-8 M di Jawa Tengah, sebelum akhirnya pindah ke Jawa Timur di abad ke-10 M.

Mataram Kuno atau Medang didirikan oleh Raja Sanjaya, namun dipimpin oleh 2 wangsa, yaitu Wangsa Isyana dan Wangsa Sailendra.

Di awal pemerintahan Raja Sanjaya, Mataram Kuno didominasi agama Hindu Siwa.

Namun, setelah ia wafat dan kekuasaan jatuh ke tangan Takai Panangkaran, agama Buddha sangat disambut dalam kerajaan tersebut. Hal ini tertulis pada Prasasti Kalasan bertahun 778 M.

Berikut adalah rangkuman lebih terstruktur mengenai sejarah Mataram Kuno:

Berdirinya Mataram Kuno

Jejak sejarah tentang masa awal Kerajaan Medang tertulis di Prasasti Canggal berangka 732 M.

Dalam prasasti disebutkan, bahwa sebelum dipimpin Sanjaya, Yawadwipa pernah diperintah Raja Sanna, namun terjadi perpecahan setelah sang raja wafat.

Sedangkan dalam Prasasti Timbangan Wungkal, dan Prasasti Taji bertahun 717 M tercantum nama Sanjaya, yang diduga tahun tersebut merupakan hari kelahirannya.

Menurut Prasasti Canggal sendiri, Sanjaya mendirikan kerajaan baru di Jawa Selatan meneruskan Sanna.

Kejayaan Mataram Kuno

Kerajaan Medang mengalami kejayaan pada periode kepemimpinan Rakai Panangkaran dan Dyah Balitung, dalam rentang waktu 760 M – 910 M (kurang lebih 150 tahun).

Masa tersebut juga digadang-gadang sebagai puncak kejayaan peradaban Jawa Kuno.

Pada masa tersebut, seni serta arsitektur Jawa Kuno semakin berkembang, yang ditandai dengan pembangunan sejumlah arca, monumen, dan candi-candi megah di kawasan dataran Kewu dan dataran Kedu.

Bahkan salah satu candi masuk dalam daftar 7 keajaiban dunia.

Runtuhnya Mataram Kuno

Mataram Kuno mulai mengalami kemunduran setelah kekuasaan Dyah Balitung Berakhir. Selain konflik internal, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan kejatuhan Kerajaan Medang.

Salah satunya adalah serangan dari Kerajaan Sriwijaya, dan bencana alam.

Perpecahan dan sengketa takhta di antara anggota kerajaan semakin memanas setelah Samaratungga meninggal.

Karena putranya yang bernama Balaputradewa tidak menghendaki Rakai Pikatan, yang merupakan pewaris takhta naik memimpin kerajaan.

Perang perebutan kekuasaan tidak dapat terhindarkan. Pada masa tersebut Balaputradewa membangun benteng pertahanan yang saat ini terkenal dengan nama Candi Boko.

Namun Balaputradewa akhirnya melarikan diri ke Sumatra, dan kelak menjadi pemimpin Sriwijaya.

Meskipun begitu, pertentangan Balaputradewa dan Rakai Pikatan tidak berhenti hingga masa kepemimpinan Mpu Sindok di tahun 929 M.

Kerajaan Sriwijaya terus menyerang Mataram Kuno sampai Mpu Sindok terpaksa memindahkan pusat kekuasaan ke Jawa Timur (Daha).

Lokasi Kerajaan

Letak Kerajaan Mataram Kuno diduga ada di kawasan Medang, tepatnya Poh Pitu. Pendapat tersebut berdasarkan pada sumber catatan sejarah yang mengisahkan tentang lokasi Mataram Kuno. Meskipun letak akurat Poh Pitu masih belum jelas sampai saat ini.

Para peneliti memperkirakan, bahwa Kerajaan Medang pernah berdiri di sekeliling sungai atau pegunungan, khususnya utara Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing. Sedangkan di sisi timur adalah Gunung Lawu, dan sebelah barat terdapat Pegunungan Serayu.

Dikatakan, bahwa wilayah Selatan Mataram Kuno berada di pesisir Laut Selatan, serta Pegunungan Seribu. Sementara itu, sungai yang berada dalam cakupan Medang mencakup Sungai Elo, Bogowonto, Opak, Bengawan Solo, dan Progo.

Secara geografi, Bhumi Mataram merujuk pada istilah kuno untuk menyebutkan dataran Kewu, yang merupakan lokasi ditemukannya berbagai penemuan arkeologi, candi-candi, dan prasasti.

Sebagian ahli sepakat, bahwa Mataram Kuno didirikan di area Jawa Tengah, persisnya antara Kedu sampai Prambanan. Hanya saja, letak pastinya belum diketahui. Terlebih lagi, kerajaan ini sempat memindahkan pusat kekuasaan, dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Raja-Raja Mataram Kuno

Seperti telah dibahas, Mataram Kuno dipimpin oleh raja-raja Isyana dan Sailendra, dengan pusat kekuasaan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Di bawah ini adalah daftar penguasa Kerajaan Medang dari kedua Wangsa tersebut sebelum terjadi perpecahan.

1. Sang Ratu Sanjaya (Rakai Mataram)

Raja pertama sekaligus pendiri Mataram Kuno adalah Sanjaya. Namanya disebutkan dalam Prasasti Tengah III, Canggal, Mantyasih, dan Wanua. Ia memerintah sekitar kurun waktu 732 M – 760 M.

2. Dyah Sankhara (Sri Maharaja Rakai Panangkaran)

Rakai Panangkaran merupakan anak dari Sanjaya. Nama Rakai Panangkaran tertulis pada Prasasti Kalasan, Wanua, Mantyasih, dan Tengah III. Ia berkuasa sejak 760 M – 780 M.

3. Dharmottunggadewa (Sri Maharaja Rakai Panunggalan)

Selanjutnya tampuk kepemimpinan dipegang oleh Rakai Panunggalan. Ini tercatat dalam Prasasti Wanua, Tengah III, dan Mantyasih. Kurun waktu pemerintahannya 780 M – 800 M.

4. Dyah Manara (Sri Maharaja Rakai Warak)

Rakai Warak disebut di Prasasti Nalanda, Tengah III, Mantyasih, dan Wanua. Disebutkan, ia memerintah pada tahun 800 M – 819 M.

5. Samaratungga (Sri Maharaja Rakai Garung)

Rakai Garung disebutkan dalam Prasasti Pengging. Dituliskan, ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno sejak 819 M – 838 M.

6. Mpu Manuku (Sri Maharaja Rakai Pikatan)

Raja yang juga dikenal dengan nama Sang Jatiningrat ini namanya disebut dalam banyak prasasti, salah satunya adalah Prasasti Candi Plaosan. Masa kekuasaannya antara 838 M – 850 M.

7. Dyah Lokapala (Sri Maharaja Rakai Kayuwangi)

Mpu Lokapala berkuasa di Mataram Kuno pada tahun 856 M – 880 M. Kisah mengenai Rakai Kayungi ditemukan di Prasasti Siwagrha, Argapura, dll.

8. Dyah Tagwas (Sri Jayakirti Wardhana)

Raja Medang berikutnya adalah Sri Jayakirti Wardhana. Disebutkan dalam Prasasti Er Hangat, Wanua, dan Tengah III, ia memerintah di tahun 880 M – 885 M.

9. Dyah Dewendra (Sri Maharaja Rake Limus)

Rake Limus berkuasa pada 885 M – 887 M, hal tersebut ditegaskan dalam Prasasti Poh Dulur, Tengah III, dan Wanua.

10. Dyah Badra (Sri Maharaja Rakai Gurunwangi)

Rakai Gurunwangi memerintah pada 887 M – 890 M, cerita tentang kepemimpinannya dicatat dalam Prasasti Mungu Antan dan prasasti lain.

11. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang

Rakai Watuhumalang berkuasa pada periode 890 M – 898 M, namanya tertulis di Prasasti Mantyasih, dsb.

12. Dyah Balitung (Sri Maharaja Rakai Watukura)

Rakai Watukura disebutkan dalam Prasati Tulangan, dll. Ia memimpin Mataram di tahun 898 M – 910 M.

13. Dyah Daksottama (Rakryan Mahapatih i Hino Pu Daksottama)

Pengganti selanjutnya adalah Dyah Daksottama, tahun 910 M – 919 M. Daksottama tertulis di Prasasti Palepangan dan Tulangan.

14. Dyah Tulodhong (Sri Maharaja Rakai Layang)

Rakai Layang memimpin di tahun 919 M – 924 M. Bukti kepemimpinannya diabadikan dalam Prasasti Lintakan 919 M.

15. Dyah Wawa (Sri Maharaja Rakai Sumba)

Rakai Sumba merupakan raja Mataram Kuno terakhir yang memerintah di Jawa Tengah pada periode 924 M – 929 M. Kisah tentang Rakai Sumba dan keruntuhan Mataram Kuno disebutkan di Prasasti Culanggi, Sanggurah, dan Wulakan.

16. Mpu Sindok (Rakai Mahamantri Halu)

Pada masa pemerintahan Mpu Sindok, pusat kerajaan dipindahkan ke Jawa Timur, tepatnya Daha. Mpu Sindok juga mengubah nama kerajaan menjadi Dinasti Isyanawangsa.

Kisah mengenai Kerajaan Mataram Kuno memang cukup kompleks, terutama dikarenakan wilayah pemerintahan dibagi atas dua bagian, begitu pula pemimpinnya.

Meskipun begitu, kedua wangsa tetap hidup dengan damai selama beberapa dekade pemerintahan.

Baca juga: Kendaraan Tradisional Indonesia

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close