Sejarah Kesultanan Banten, Perkembangan dan Peninggalannya

Kerajaan Banten merupakan sebuah kesultanan Islam yang pernah berdiri di Tanah Pasundan, pada abad ke-16 M atau sekitar tahun 1526 M.

Disebutkan dalam sejarah, bahwa Kesultanan Banten memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa.

kerajaan banten

Peninggalan Kesultanan Banten

Di bawah ini adalah beberapa peninggalan Kesultanan Banten yang masih eksis hingga saat ini:

  • Masjid Agung Banten
  • Istrana Keraton Kaibon (saat ini tinggal puing-puing reruntuhannya)
  • Istana Keraton Surosowan
  • Benteng Speelwijk
  • Danau Tasikardi
  • Vihara Avalokitesvara
  • Meriam Ki Amuk

Sejarah Berdirinya Kesultanan Banten

Pada mulanya, Kerajaan Banten merupakan salah satu kadipaten di bawah Kesultanan Demak.

Hanya saja, Banten kemudian memproklamirkan diri sebagai kerajaan merdeka ketika terjadi kemelut perebutan kekuasaan di Demak dan Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan.

Pemimpin pertama dari Kesultanan Banten adalah Sultan Hasanuddin, tepatnya pada periode 1552 M – 1570 M.

Ia lalu menjadikan Banten sebagai pusat perdagangan, serta memperluas kawasannya sampai ke Lampung yang merupakan wilayah penghasil lada di Sumatera Selatan.

Masa Kejayaan Kesultanan Banten

Kesultanan Banten berhasil mencapai puncak keemasan di era kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa (1651 M – 1682 M), di mana Banten berhasil membangun sebuah armada yang kuat.

Sultan Ageng juga sangat menentang Belanda ketika hendak membentuk VOC.

Kerajaan Islam di Jawa Barat ini adalah pemerintahan maritim yang mengandalkan kegiatan perdagangan untuk menopang ekonominya.

Pada masa Sultan Ageng, Banten bahkan melakukan monopoli terhadap hasil lada yang ada di Lampung, dan berperan sebagai perantara perdagangan.

Hal tersebut membuat banten menjadi salah satu kerajaan yang menguasai pusat perniagaan paling penting di masa tersebut.

Ditambah lagi dengan perkembangan perdagangan laut ke berbagai wilayah Nusantara yang dilakoninya, sehingga membuat Banten menjadi kerajaan multi etnis.

Dalam memainkan perannya di sektor perdagangan, Banten bekerjasama dengan beberapa negeri, seperti Denmark, Inggris, dan India. Sedangkan mangsa pasarnya produk pertaniannya, adalah India, Persia, Vietnam, Siam, Filipina, Jepang, dan Tiongkok.

Namun perintah menanam lada yang digaungkan oleh Kerajaan Banten pada tahun 1636 M mulai mendapatkan perlawanan dari masyarakat di Lampung dan Bengkulu karena terkesan memaksa.

Selain mengalami kemajuan pesat di bidang ekonomi perdagangan, pada masa kekuasaan Sultan Ageng, Banten juga mempunyai armada mengesankan yang dibangun mencontoh Eropa.

Banten juga pernah mengirimkan armada laut ke Kerajaan Tanjungpura dan menaklukkannya pada 1661 M.

Keruntuhan Kesultanan Banten

Kesultanan Banten mulai mengalami kemunduran akibat perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa, dengan putranya Sultan Haji.

Pemicunya tidak lain adalah dikarenakan perebutan kekuasaan. Di sisi lain, VOC menggunakan kesempatan tersebut dengan memihak Sultan Haji.

Akibatnya, Sultan Ageng beserta kedua putranya yang lain, yaitu Syekh Yusuf dan Pangeran Purbaya terdesak hingga ke pedalaman Sunda.

Di tahun 1683, Sultan Ageng dan Syekh Yusuf tertangkap lalu ditahan di Batavia, diikuti Pangeran Purbaya yang menyerahkan diri.

Setelah kemenangan tersebut, pemimpin baru, yaitu Sultan Haji memberikan Lampung pada VOC di tahun 1682 M sebagai imbalan atas bantuannya.

Setelah ia naik takhta, kerajaan menjadi semakin panas karena terjadi pemberontakan besar-besaran dari rakyat, serta perebutan kekuasaan.

Tidak tahan dengan tekanan dari berbagai pihak, termasuk Belanda yang dianggap sebagai sekutunya, tidak lama berselang Sultan Haji wafat.

Setelahnya, Sultan Abu Fadhl Muhammad Zainul Abidin ditunjuk menjadi sultan, sejak tahun 1808 M – 18 10 M atau selama 2 tahun.

Selanjutnya, takhta diduduki oleh Sultan Muhyiddin Zainussalihin, di mana pada masa tersebut Banten diserang oleh Gubernur Hindia Belanda karena Sultan dianggap tidak patuh untuk memindahkan pusat ibukota Banten ke Anyer.

Banten berhasil diruntuhkan Inggris pada 1813 M.

Letak Kerajaan Banten

Secara geografis, Kesultanan Banten pernah berdiri di wilayah provinsi Banten, khususnya sisi barat pulau Jawa, Lampung, serta sebagian kawasan Jawa Barat Selatan.

Hal tersebut pula yang menjadikan kerajaan Islam ini menjadi penguasa jalur perdagangan dan pelayaran di Selat Sunda.

Raja-Raja Banten

Sejak awal berdiri hingga keruntuhannya, Kerajaan Banten pernah mempunyai beberapa pemimpin yang juga turut menentukan bagaimana nasib dari kesultanan tersebut.

Sebelum akhirnya kesultanan Islam tersebut dihapuskan oleh pemerintah kolonial Inggris di tahun 1813 M.

Berikut ini adalah daftar raja-raja Banten yang pernah berkuasa:

1. Sultan Syarif Hidayatullah

Sunan Gunung Jati merupakan raja ke-2 dari Kesultanan Cirebon yang memiliki andil besar pada masa awal pendirian Kesultanan Banten.

Ia juga merupakan ayah dari pendiri dan raja pertama di Banten, yang tidak lain adalah Maulana Hasanuddin.

2. Sultan Hasanuddin

Raja pertama Banten yang juga dikenal dengan nama Pangeran Sabakingking ini, merupakan pencetus kemerdekaan Banten sebagai wilayah berdaulat yang mandiri. Ia memerintah Banten mulai dari periode 1552 M – 1570 M.

3. Sultan Maulana Yusuf

Pengganti Sultan Hasanuddin adalah Pangeran Pasareyan, ia memimpin sejak tahun 1570 M – 1585 M.

Pada masanya, Kerajaan Padjajaran berhasil ditaklukkan, yang membuat sebagian rakyat Padjajaran melarikan diri ke daerah pegunungan.

4. Maulana Muhammad

Ketika Maulana Yusuf meninggal, tampuk pemerintahan jatuh ke tangan putranya Maulana Muhammad yang saat itu masih berusia 9 tahun.

Sementara menunggu Maulana Muhammad dewasa, kekuasaan dipegang oleh Mangkubumi Jayanegara.

5. Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir

Raja dengan julukan Pangeran Ratu ini menjadi Sultan Banten di usia 5 bulan, sehingga akhirnya ditunjuk wakil sementara, yaitu Mangkubumi Ranamanggala. Pangeran Ratu memimpin Banten di tahun 1596 M – 1651 M.

6. Sultan Ageng Tirtayasa

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng inilah Kerajaan Banten berhasil mencapai masa keemasannya. Banten berhasil diperluas dan pertumbuhan ekonomi menjadi semakin cepat. Ia memerintah pada tahun 1651 M – 1683 M.

7. Sultan Abu Nashar Abdul Qahar

Ketika Sultan Haji naik takhta di tahun 1683, perpecahan mulai terjadi, dan Banten mulai mengalami kemunduran. Hal tersebut dikarenakan Sultan Haji bersekutu dengan Belanda, sehingga menimbulkan pemberontakan dari rakyat.

8. Sultan Abu al-Fadhl

Raja Banten ke-8 ini memerintah selama 3 tahun, yakni 1687 M – 1690 M.

9. Sultan Abu al-Mahasin

Sultan yang bergelar Pangeran Adipati ini berkuasa dari tahun 1690 M – 1733 M.

10. Sultan Abdullah Muhammad

Masa kepemimpinannya cukup lama, yakni pada periode 1733 M – 1750 M. Kemudian dilanjutkan Pangeran Syarifuddin, di mana kekuasaan didalangi oleh Ratu Syarifah Fatima.

11. Sultan Abu al-Ma’ali Muhammad Wasi

Pangeran Arya Adisantikan berkuasa di Banten tahun 1752 M – 1753 M.

12. Raja-Raja Setelah Pangeran Arya Adisantika

Pada periode 1753 M – 1813 M, Kesultanan Banten diperintah oleh beberapa sultan, seperti Sultan Abu al-Nasr Muhammad Arif Zainul Asyiqin, Sultan Aliyuddin I, Sultan Muhammad Muhyiddin Zainussalihin, Sultan Muhammad Ishaq Zainul Muttaqin.

Selanjutnya, diikuti oleh Pangeran Natawijaya, Sultan Aliyuddin II, Pangeran Suramenggala, dan yang terakhir adalah Sultan Maulana Shafiuddin.

Kerajaan Banten berkuasa selama hampir 3 abad dan berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, sebelum diterpa konflik perang saudara dan kolonialisme.

Sehingga membuat kerajaan tersebut kehilangan kekuatan politiknya dan akhirnya runtuh.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close