Resensi Novel Negeri 5 Menara

Deskripsi: Sinopsis dan resensi Novel Negeri 5 Menara.


Identitas Buku

  • Judul Buku: Negeri 5 Menara
  • Penulis Buku: Ahmad Fuadi
  • Penerbit Buku: Gramedia Pustaka Utama
  • Kota Terbit: Jakarta
  • Cetakan: ke 3
  • Tebal Buku: 339 halaman
  • ISBN: 9789792248616
Resensi Novel Negeri 5 Menara

ebooks.gramedia.com

Sinopsis Novel Negeri 5 Menara

Resensi novel Negeri 5 Menara ini terinspirasi dari kisah nyata yang menceritakan tentang anak-anak pondok Pesantren Madani, Gontor di Jawa Timur. Anak-anak ini memiliki sebuah mimpi besar dan segudang pengalaman mengesankan.

Petualangan mereka berawal dari perkenalan di depan kelas, mereka bernama Alif, Atang, Raja Lubis, Said Jufri, Baso Salahuddin, Dulmaji, dan Teuku.

Pada novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama pelaku utama. Maksudnya yakni novel ini lebih banyak menceritakan tentang kehidupan Alif sebagai tokoh utama. Dia memiliki dua adik perempuan yang masih kecil.

Dimulai dari penggambaran lokasi tokoh Alif di Washington DC tahun 2003 saat musim salju. Dia bekerja sebagai wartawan yang meliput kejadian setiap Negara.

Dengan alur mundur, tokoh utama menceritakan masa kecilnya ketika masih SMP yang mendapatkan nilai tertinggi se-kabupaten di Bukittinggi.

Karena mendapatkan nilai terbaik, Alif bercita-cita masuk SMA negeri yang berbasis umum. Ia ingin menjadi akademisi yang hebat. Namun tentangan dari kedua orang tuanya membuat kecewa.

Karena keinginan orang tua yang menginginkan Alif mendalami agama maka didaftarkanlah ke Pesantren Madani, Ponorogo Jawa Timur.

Dalam sesi perkenalan di dalam kelas, Alif akhirnya memiliki sahabat dari berbagai latar belakang yang mengagumkan. Karena peraturan pesantren yang mengharuskan menggunakan bahasa Inggris dan Arab setiap harinya, mereka bisa fasih berbahasa.

Suatu ketika mereka berenam mendapatkan julukan 5 menara, karena sering belajar di bawah menara area pesantren. Saking seringnya, tempat itu menjadi rumah baru untuk berbagai kegiatan diskusi atau sekadar berkumpul.

Jargon yang sering memberikan semangat, yakni “Man Jadda Wa Jadda”. Dimana artinya yakni barang siapa yang bersungguh –sungguh, pasti akan sukses.

Sebenarnya novel ini lebih banyak menceritakan kehidupan pesantren yang sangat ketat, hingga membuat masing-masing tokoh mengalami konflik batin atau tekanan.

Beberapa kesalahan dan tidak disiplin, membuat mereka sering mendapatkan hukuman dari assatidz (guru) yang bertugas. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para santri yang belajar dengan tekun sekaligus menaklukkan setiap tantangan.

Sejak kecil, Alif yang sering mengasah kemampuan menulis dan senang memotret, mendapatkan kesempatan menjadi wartawan di luar negeri. Alif juga menjadi seorang public speaking handal. Apalagi pesantrennya memberikan fasilitas pada semua santri yang memiliki bakat dan minat pada suatu bidang.

Di bawah pengasuhan Kiai Rais seorang penghapal Qur’an dan hadist, pemain sepak bola, pengajar tafsir, dan lulusan MA di Madina University, Pesantren Madina mencetak generasi para santri yang hebat. Kelima sahabatnya menjadi orang bermanfaat bagi umat manusia.

Unsur Intrinsik Novel Negeri 5 Menara

Anda tentu ingin mengetahui karakter dari setiap tokoh di resensi novel Negeri 5 Menara secara detail, bukan? Setiap informasi dalam suatu karya sastra memberikan pesan yang mendalam. Berikut kami sajikan unsur instrinsik spesial untuk Anda:

Tema

Novel Negeri 5 Menara mempunyai tema utama pendidikan dunia pesantren yang begitu ketat, religi, persahabatan, dan percintaan.

Lokasinya cukup terpencil dari keramaian, hingga pesantren tersebut tidak mendapatkan aliran listrik. Secara tidak langsung, novel ini memberikan pengajaran tentang kesederhanaan menjalani hidup.

Penokohan

Berikut adalah penjelasan penokohan dalam Novel Negeri 5 Menara:

1. Alif Fikri

Alif adalah salah satu santri dari Bukittinggi yang belajar agama di Pondok Madani yang memiliki beberapa sahabat. Memiliki sifat yang pandai, penurut, dan keras kepala atas setiap keinginannya.

2. Amak

Amak adalah panggilan untuk ibu Alif yang memiliki perawakan kurus dan mungil. Sikapnya ramah,

3. Ayah

Ayah adalah orang tua Alif yang memiliki perawakan kecil, tegas, tenang, penyayang, dan seorang guru madrasah.

4. Atang

Atang adalah sahabat Alif di pondok, memiliki perawakan serius, kurus, tinggi, dan berkacamata.

5. Raja Lubis

Raja termasuk sahabat Alif yang penuh percaya diri, hobi membaca kamus bahasa,

6. Said Jufri

Said termasuk sahabat Alif yang berasal dari Surabaya, memiliki perawakan gemuk, hitam, keturunan saudagar Arab yang turun di Ampel, tegas, mantan anak nakal dan berwajah boros.

7. Baso Salahuddin

Baso juga sahabat Alif yang merupakan ketua kelas karena tampak lebih dewasa.

8. Dulmaji

Dulmaji juga sama sahabat Alif yang berasal dari Madura, memiliki perawakan cukup tegas, jujur, paling keras, dan setia kawan.

9. Teuku

Teuku memiliki sifat tergesa-gesa, dan suaranya lantang.

Kesimpulan

Tentu saja Anda tidak akan lama mempertimbangkan untuk membaca novel novel Negeri 5 Menara, bukan? Mengingat, gambaran di atas cukup mewakili pesan apa yang ingin disampaikan penulis.

Misalnya saja kehidupan pesantren yang penuh tantangan, beban, dan disiplin yang tinggi, hingga akhirnya berbuah manis.

Seperti kata pepatah, siapa yang bersungguh-sungguh, akan diberikan kemudahan baginya mencapai apa yang diinginkan.

Bagaimana, resensi Novel Negeri 5 Menara di atas cukup membakar semangat Anda untuk menonton filmnya atau membaca novel tersebut? Selamat menikmati karya inspiratif yang satu ini, ya?

  • Add Your Comment

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close