Sejarah Candi Borobudur

Deskripsi: Sejarah candi Borobudur, cerita penemuannya, dan bagian atau tingkatan candi Borobudur.


Hampir semua orang mengetahui eksistensi Candi Borobudur. Selain sebagai tempat suci agama Buddha, candi yang menjadi warisan dunia tersebut juga merupakan destinasi populer di Indonesia.

Namun, tahukah Anda mengenai sejarah Candi Borobudur yang berabad-abad lamanya?  

Asal Usul Nama “Borobudur”

Bangunan candi yang megah memang cocok menyandang nama ‘Borobudur’ yang terdengar menawan dan perkasa. Sebenarnya bagaimana asal mula nama tersebut berasal? Banyak teori sejarah Candi Borobudur yang memberikan pendapat berbeda.

Ada yang mengatakan bahwa ‘Borobudur’ terdiri dari 2 kombinasi kata yaitu ‘bara’ dan ‘beduhur’. Adapun makna dari ‘bara’ adalah biara atau candi yang diambil dari bahasa Sansekerta.

Sedangkan kata ‘beduhur’ memiliki arti tinggi. Berdasarkan gabungan kata tersebut, ‘Borobudur’ memiliki makna lengkap yaitu candi/biara yang terletak di dataran tinggi.

Teori lain menjelaskan bahwa ‘Borobudur’ terinspirasi dari kata ‘Sambharabudhara’ yang artinya gunung yang memiliki lereng dengan teras-teras.

Dalam kata tersebut memuat istilah ‘bhudara’ yang bermakna gunung. Jadi, nama tersebut diberikan karena struktur candi yang memang menyerupai gunung dengan undak-undakan di bagian sisinya.

sejarah dan asal usul candi Borobudur

dosenwisata.com

Sejarah Pembangunan Candi Borobudur

Waktu Pembangunan

Abad VIII sampai IX merupakan perkiraan sejarah Candi Borobudur bermula. Pada rentang waktu tersebut, pihak yang berkuasa adalah Dinasti Syailendra yang rata-rata menganut agama Buddha aliran Mahayana. Oleh sebab itu, Borobudur diklaim sebagai tempat suci agama Buddha.

Pelopor Pembangunan Candi

Tidak diketahui siapa sosok yang menjadi arsitek Candi Borobudur namun sejarah mencatat bahwa pelopor pembangunan Borobudur adalah Sri Maharaja Samaratungga.

Beliau memimpin Kerajaan Medang antara tahun 781 – 812 M dan merupakan keturunan Dinasti Syailendra.

Raja Samaratungga memang dikenal memiliki antusiasme untuk mengembangkan budaya dan agama. Maka tidak mengherankan kalau beliau bertekad membangun sebuah candi yang akhirnya selesai sekitar tahun 825 M.  

Hal tersebut didasarkan atas temuan 2 prasasti yang bernama Karang Tengah atau Kayumwungan dan Tri Tepusan atau Sri Kahulunan.

Prasasti Karang Tengah menggunakan 2 bahasa yaitu Jawa Kuno dan Sansekerta yang dikeluarkan tahun 824 M.

Bagian dari isi prasasti menyebut Raja Samaratungga dan pembangunan bangunan Jinalaya yang diduga Candi Borobudur oleh para ahli.

Sedangkan prasasti Tri Tepusan yang dikeluarkan pada tahun yang sama menyebut nama Sri Kahulunan. Beliau yang dikaitkan dengan Raja Samaratungga memberi tanah untuk membangun sebuah tempat suci.

Nama bangunan ‘da avidam’ yang berlapis sepuluh juga tercantum. Keterangan tersebut semua mengarah pada Candi Borobudur karena adanya kesamaan ciri-ciri.

Bukti lain yang menguatkan adalah kecocokan antara huruf pada relief Karmawibhangga dengan huruf yang ada pada prasasti Karang Tengah.

Relief tersebut ada di bagian kaki candi sehingga para ahli menginterpretasikan bahwa kemungkinan kuat Dinasti Syailendralah yang memprakarsai.

Maka sampai sekarang Raja Samaratungga dan Wangsa Syailendra selalu dikaitkan dengan sejarah Candi Borobudur karena diduga memiliki peranan penting.  

 Sebelum sampai pada bentuk yang sekarang, tadinya Candi Borobudur dibangun berdasarkan struktur paramida. Setelah itu, barulah bagian undakan dibuat dengan bentuk persegi dan melingkar. Pada sentuhan akhir, bagian pondasi dibuat lebih lebar dan diberi pagar.

Cerita Penemuan Kembali Candi Borobudur

Setelah memakan waktu lama untuk membangun, sayang sekali kejayaan Candi Borobudur tidak berlangsung lama karena terlantar selama berabad-abad.

Terdapat 2 alasan utama yang diasumsikan yaitu pemindahan ibu kota Kerajaan Medang dan erupsi Gunung Merapi.

Barulah pada tahun 1814, gaung bangunan Candi Borobudur terdengar kembali berkat Thomas Stamford Raffles yang menyuruh Hermanus Christian Cornelius untuk memeriksanya.

Langkah tersebut langsung diambil setelah Raffles mendapat laporan dari warga setempat.

Mereka melihat adanya bangunan tersembunyi yang berada di sekitar Sungai Progo dan Elo. Pembersihan yang dilakukan Cornelius kemudian membuahkan hasil dan diteruskan oleh Hartman yang menjabat sebagai residen Kedu pada tahun 1835 M.

Selanjutnya pada tahun 1882, perintah untuk membongkar seluruh bangunan candi dikeluarkan.

Tujuannya adalah menyelamatkan artefak, relief dan benda berharga lain sekaligus kembali memperindah Candi Borobudur.

Pemugaran Candi Borobudur dilakukan selama beberapa tahap, sebagai berikut:

  • Pemugaran pertama pada tahun 1907 – 1911. Pemugaran dilakukan di bawah pimpinan Theodore Van Erp tersebut menangani bagian atas candi yang berupa stupa berbagai bentuk dan teras yang melingkar
  • Setelahnya, tahap pemeliharaan terus dilakukan demi memperbaiki kerusakan yang ada di bagian-bagian batu dan stupa candi
  • Pemugaran tahap kedua dilakukan pada tahun 1973 – 1983 oleh pemerintah Indonesia yang menggandeng UNESCO. Bagian bawah candi diperbaiki dan stupa-stupa diletakkan pada posisi yang semestinya. Seluruh bagian dibersihkan dan perbaikan disempurnakan

Pada akhirnya, sejarah Candi Borobudur sebagai warisan dunia ditetapkan pada tahun 1991 oleh UNESCO. Sampai sekarang, Borobudur menjadi tempat yang suci bagi pemeluk agama Buddha. Mereka selalu menggunakan candi sebagai lokasi ritual keagamaan seperti Waisak.

Bagian-Bagian Candi Borobudur

1. Kaki Candi (Kamadhatu)

Dalam filosofi agama Buddha, kamadhatu merupakan tingkatan terendah yang menyimbolkan hasrat manusia. Bagian kamadhatu atau kaki candi sudah mengalami perubahan namun masih ada beberapa bagian yang asli.

Kamadhatu Candi Borobudur terdiri dari:

a. Selasar

Bagian selasar candi berfungsi sebagai penahan longsor.

b. Undag

Nama lain undag adalah kaki candi yang berfungsi menghubungkan bagian selasar dengan halaman candi. Undag dibangun dari batu yang disusun untuk menahan beban candi sekaligus menjaga agar candi tidak roboh.

c. Tangga

Candi Borobudur memiliki 4 tangga yang berada pada 4 sisi mata angin. Tangga utama candi menjadi penghubung antara halaman dengan bagian undag.

Sedangkan tangga pada bagian undag menjadi akses menuju selasar dan tangga di selasar merupakan jalan ke arah lorong.

Setiap tangga memiliki bagian antara lain hiasan kepala, anak tangga, pipi tangga, makara berbentuk sulur gulung dan makara berbentuk binatang mitologi.

d. Relief Karmawibhangga

Pada bagian kaki candi terdapat relief yang bernama Karmawibhangga. Relief yang berjumlah 160 panel tersebut bercerita tentang perbuatan baik dan buruk manusia yang pasti akan mendapat balasan.

2. Badan Candi (Rupadhatu)

Tingkatan selanjutnya adalah rupadhatu yang menyimbolkan bahwa manusia sudah mulai meninggalkan keinginan duniawi namun masih memiliki keterkaitan dengan dunia. Oleh sebab itu, posisi rupadhatu ada di bagian tengah bangunan.

Badan Candi Borobudur atau rupadhatu terdiri dari:

a. Relief

Beberapa relief yang ada di Candi Borobudur antara lain Karmawibhangga pada bagian kaki, Lalitavistara pada bagian dinding utama tingkat pertama, Jataka dan Avadana pada bagian lorong dan pagar langkan dan Gandavyuha pada bagian lorong tingkat kedua.

b. Langkan

Langkan merupakan bagian lorong yang terletak di antara tubuh candi dan pagar langkan. Terdapat 4 langkan yang dimiliki Candi Borobudur.

c. Pagar Langkan

Pagar langkan adalah bagian yang membatasi lorong candi atau langkan. Pada sisi dalam dan luarnya terpahat relief cerita maupun relief simbolis.

d. Relung

Patung Buddha diletakkan pada ruangan yang disebut dengan relung. Bagian pucuk relung pada langkan tingkat 1 dibuat bentuk keben sedangkan pada langkan tingkat 2, 3, 4 dan 5 dibuat bentuk stupa.

e. Tangga

Bagian tangga difungsikan sebagai penghubung antar lorong candi. Gapura dengan pahatan makara dibuat untuk menaungi tangga.

3. Kepala Candi (Arupadhatu)

Bagian teratas ini menyimbolkan kesempurnaan karena manusia sudah lepas dari keinginan duniawi. Bagian arupadhatu antara lain:

a. Plateau

Bagian plateau adalah pelataran luas berbentuk bujur sangkar pada sisi luar dan lingkaran pada sisi dalam.

b. Teras

Terdapat 3 tingkatan pada teras yaitu tingkatan I dan II yang diisi stupa berlubang dan tingkatan III yang berisi stupa induk.

c. Stupa

Candi Borobudur memiliki stupa induk yang berbentuk lonceng. Stupa merupakan simbol utama dari agama Buddha.

Sejarah Candi Borobudur yang sangat panjang memang menarik untuk diketahui. Bayangkan saja bagaimana orang zaman dahulu sanggup membuat bangunan batu bersusun di atas bukit. Pasti membutuhkan keahlian dan tekad yang luar biasa.

Dengan mempelajari asal usul dibangunnya candi, maka Anda akan lebih bisa menghargai warisan sejarah. Walaupun bangunan Candi Borobudur sudah bagus, memeliharanya adalah tugas yang terus berlangsung.

Baca juga: Candi Terbesar di Dunia, Indonesia Termasuk di Dalamnya

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close