Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Deskripsi: Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Lokasi, Sejarah, Persebaran Flora Fauna.


Gunung Salak adalah salah satu gunung tertinggi di Jawa Barat. Lokasinya ada di Kabupaten Bogor. Ternyata gunung ini masuk dalam wilayah Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Taman nasional ini dilindungi oleh pemerintah sebagai salah satu upaya konservasi.

Ada banyak jenis tanaman dan hewan yang bergantung pada ekosistem TNGHS ini. Masyarakat pun punya tugas penting untuk bisa menjaga kelestarian hutan yang sudah ditetapkan sebagai taman nasional.

Harapannya, keanekaragaman hayati tetap terjaga di dalam area ini.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Lokasi Taman Nasional

Taman nasional ini ada di ada di Provinsi Jawa Barat. TNGHS sendiri meliputi beberapa wilayah administrasi. Wilayah TNGHS terletak di 3 kabupaten yaitu Bogor, Sukabumi, dan Lebak Banten.

Tapi kantor resmi pengelola TNGHS ada di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Taman nasional ini termasuk sangat luas dengan total area mencapai 1.133,57 km persegi. Nama taman nasional ini diambil dari puncak gunung tertinggi yang ada di dalam areanya yaitu Gunung Halimun (1929 mdpl) dan Gunung Salak (2211 mdpl).

Sebenarnya selain 2 gunung tertinggi tersebut, ada beberapa gunung lain yang masuk dalam kawasan TNGHS. Di antaranya adalah Halimun Utara, Ciawitali, Kencana, Sanggabuana, Sumbul, dan Kendeng Selatan.

Puncak-puncak tersebut sering diselimuti kabut atau halimun (bahasa Sunda).

Sejarah Peresmian Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Wilayah TNGHS memiliki sejarah yang cukup panjang sampai mendapatkan statusnya yang sekarang. Sejarah mencatat bahwa wilayah ini cukup istimewa sejak zaman penjajahan Belanda.

Perjalanan area Gunung Halimun Salak sebagai taman nasional bisa diringkas berikut ini:

  • Tahun 1935 – 1961 masih berstatus sebagai cagar alam di bawah wewenang Djawatan Kehutanan Provinsi Jawa Barat.
  • Tahun 1961 – 1978 wilayah ini ditetapkan sebagai cagar alam dan dikelola oleh Perhutani.
  • Tahun 1979 – 1990 kendali pengelolaan diubah ke Balai Konservasi Sumberdaya Alam III.
  • Tahun 1990 – 1992 pengelolaannya dialihkan ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
  • Tahun 1992 – 1997 statusnya sudah berubah menjadi taman nasional.
  • Tahun 1997 – 2003 TNGHS dikelola oleh Balai Taman Nasional Gunung Halimun (luasnya 40.000 hektar).
  • Tahun 2003 ada penambahan luas wilayah dengan memasukkan bekas hutan produksi milik Perhutani. Total luasnya menjadi 113.357 hektar.

Kondisi Geografis Taman Nasional Gunung Halimun Salak

 Sama seperti namanya, wilayah ini memang didominasi oleh area pegunungan dengan beberapa tebing terjal. Area ini membentang dengan ketinggian mulai dari 500 mdpl sampai 2211 mdpl. Topografinya berupa pegunungan dan perbukitan.

Karena berada di Indonesia, maka hutan di wilayah ini sebagian besar bertipe hutan hujan tropis. Curah hujan di wilayah ini juga sangat tinggi, antara 4000 – 6000 mm per tahunnya. Wilayah ini juga masuk dalam area tangkapan hujan dan menjadi penyedia air bersih untuk wilayah sekitarnya.

Ada lebih dari 115 sungai beserta anak sungai yang masuk dalam area TNGHS. Hulunya ada di daerah pegunungan Halimun Salak.

Ada 3 sungai besar yang mengalir ke arah Laut Jawa yaitu Cikaniki, Cidurian, dan Ciberang. Kemudian ada 9 sungai besar lain yang mengalir ke selatan Jawa.

Ekosistem di Taman Nasional Gunung Halimun Salak 

1. Persebaran Flora

TNGHS merupakan ekosistem hutan hujan tropis yang paling besar di Pulau Jawa. Bahkan wilayah ini memiliki lebih dari 500 spesies tanaman. Jumlah tersebut diduga masih jauh di bawah spesies yang belum diteliti dengan baik.

Ada 3 zona untuk membedakan persebaran flora di wilayah hutan ini yaitu:

  • Zona collin mulai dari ketinggian 500 – 1000 mdpl dipenuhi dengan kayu besar seperti rasamala, puspa, saninten, kiriung anak, dan pasang.
  • Zona sub montana yang membentang dari ketinggian 1000 – 1400 mdpl ditumbuhi dengan tanaman ganitri, Acer laurinum, kayu manis, kileho, buni, Eurya acuminatissima, beringin, dan kimerak.
  • Zona hutan tropis pegunungan yang berada di ketinggian lebih dari 1500 mdpl dipenuhi dengan tanaman podocarpus misalnya kibima, kiputri, dan juga lamuju.

2. Persebaran Fauna

TNGhS menjadi rumah bagi banyak sekali spesies hewan. Mulai dari hewan biasa hingga hewan yang masuk kategori langka. Hewan mamalia misalnya owa, kancil, surili, lutung budeng, kijang, macan tutul, dan anjing hutan hidup di sini.

Kemudian ada juga sekitar 204 jenis burung. 35 jenis di antaranya adalah endemik Jawa. Salah satu yang langka adalah spesies elang Jawa. Ada juga burung langka lain yaitu Cica matahari dan Poksai Kuda.

Karena banyaknya spesies burung yang hidup di TNGHS, wilayah ini sampai ditetapkan sebagai Important Bird area (IBM) oleh organisasi BirdLife.

Selain burung, TNGHS juga dihuni oleh spesies reptil misalnya kodok, ular, kadal biawak, dan kura-kura.

Kondisi Sosial Ekonomi Warga

Meskipun bentuk wilayah ini adalah hutan, tapi TNGHS juga dihuni oleh masyarakat. Sudah banyak penduduk yang datang ke wilayah ini jauh sebelum ditetapkan menjadi taman nasional. Masyarakat adat ini tetap bertahan dengan perekonomian utama dari sektor pertanian.

Masyarakat tersebut bergabung dalam sebuah desa Kasepuhan Banten Kidul. Desa ini hidup dengan mengusung budaya Sunda lama yang masih tradisional dan asli. Masyarakat ini memanfaatkan sumberdaya hayati di sekitar TNGHS untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari.

Kegiatan Wisata di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Meskipun berstatus sebagai taman nasional, tapi wilayah TNGHS masih bisa dikunjungi oleh wisatawan, peneliti, ilmuwan, dan juga mahasiswa. Ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan seperti mendaki gunung, penelitian, pengamatan satwa, dan juga rekreasi.

Berikut ini beberapa spot wisata yang sangat layak Anda kunjungi:

1. Gunung Batu

Bagi wisatawan yang ingin mendaki, tapi tak mau mengambil resiko medan ekstrim bisa memilih Gunung Batu. Lokasinya mudah dijangkau dengan ketinggian 800 mdpl. Tiket masuknya hanya Rp15.000,00 saja dan lokasi ini bisa digunakan untuk latihan mendaki.

2. Curug Nangka

Curug adalah sebutan bagi air terjun. Curug Nangka ada di ketinggian 750 mdpl. Lokasinya pun mudah dijangkau oleh wisatawan biasa. Anda bisa datang dengan membayar tiket sebesar Rp15.000,00 saja.

3. Stasiun Penelitian Cikaniki

Lokasinya berada di Kampung Citalahab. Agar bisa sampai di lokasi ini, Anda bisa mulai tracking lewat kebun teh Nirmala atau lewat jalan setapak. Dari stasiun ini, petugas TNGHS biasanya memantau keberadaan satwa langka.

4. Desa Adat

Di sekitar TNGHS masih ada penduduk yang mendiami desa adat. Setidaknya ada 7 desa adat yang masih menjaga warisan budaya nenek moyang mereka. Di antaranya adalah Desa Kasepuhan Citorek, Ciptagelar, Ciptamulya, Cicarucub, Sirnaresmi, Cisungsang, dan Urug.

5. Kebun Teh Nirmala

Ada 997 hektar perkebunan teh yang ada di wilayah TNGHS. Perkebunan teh ini dikelola dengan baik untuk produksi dan juga wisata. Anda bisa datang sambil berjalan menyusuri perkebunan, menikmati pemandangan, dan juga merasakan seduhan teh segar langsung.

Taman Nasional Gunung Halimun Salak telah menjadi zona penyangga yang bisa menangkap hujan dan menyimpan air tanah.

Kondisi hutan yang rimbun menjadi rumah bagi satwa liar dan langka. Taman nasional ini harus dilestarikan oleh semua lapisan masyarakat.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close