Sejarah dan Nilai Moral dari Tari Lenggang Nyai

Deskripsi: Pengertian dan sejarah Tari Lenggang Nyai, makna dan nilai moral yang terkandung didalamnya.


Selain dikenal dengan makanannya seperti Soto Betawi, masyarakat Betawi juga dikenal memiliki seni tari yang indah dan juga unik.

Salah satu tarian yang terkenal dari Suku Betawi tersebut adalah tari Lenggang Nyai.

Tarian yang diciptakan oleh seorang penata tari bernama Wiwiek Widiyastuti pada tahun 2002 ini terinspirasi dari cerita rakyat mengenai Nyai Dasimah.

Jika Anda penasaran mengenai tari Lenggang Nyai ini, simak penjelasannya hingga akhir.

Sejarah Tari Lenggang Nyai

goodnewsfromindonesia.id

Sejarah Lahirnya Tari Lenggang Nyai

Awalnya, Wiwiek Widiyastuti yang berprofesi sebagai penari dan juga penata tari ini ingin membuat karya untuk menambah deretan karyanya.

Hal ini dilakukan oleh Wiwiek karena beliau memiliki tujuan untuk menciptakan satu hingga dua tarian (khususnya tari Betawi) dalam kurun waktu satu tahun.

Pada acara Liga Mandiri yang diselenggarakan di Stadion Gelora Bung Karno oleh PSSI tahun 2002, Wiwiek Widiyastuti diminta untuk membuat tarian Betawi yang akan ditampilkan sebagai pembuka acara tersebut oleh penari yang berjumlah 400 orang.

Jumlah penari yang luar biasa banyak ini kemudian menyebabkan persebaran tari Lenggang Nyai menjadi lebih cepat dan luas setelah diselenggarakannya acara Liga Mandiri pada tahun 2002.

Tarian ini sendiri dibuat dengan terinspirasi dari cerita Nyai Dasimah seperti yang sebelumnya sudah disinggung.

Nyai Dasimah adalah seorang gadis cantik yang berasal dari Betawi yang sangat terkenal karena kecantikannya.

Karena kecantikannya ini, banyak pemuda yang ingin mempersunting Nyai Dasimah dan membuatnya menjadi bingung dalam menentukan pasangan dan pendamping hidupnya.

Kemudian dihadapkanlah Nyai Dasimah terhadap dua lelaki pilihan di mana satu laki–laki berasal dari Indonesia sedangkan yang lainnya berasal dari Belanda.

Lelaki asal Belanda bernama Edward William yang kemudian dipilih oleh Nyai Dasimah setelah berpikir panjang dan matang.

Namun tidak ia sangka bahwa kehidupannya setelah menikah menjadi berubah dan Nyai Dasimah merasa terkekang dalam kerangkeng aturan yang dibuat Edward.

Karena merasa hak dan kebebasannya dirampas, ia kemudian memberontak dan berjuang untuk mendapatkan kebebasan.

Tari Lenggang Nyai

bobo.grid.id

Nilai Moral yang Terdapat di Dalam Tari Lenggang Nyai

Karena tarian ini sangat terinspirasi dari cerita rakyat mengenai kehidupan Nyai Dasimah yang menjadi istri kedua Edward William, nilai moral yang disampaikan juga berkaitan dengan cerita tersebut.

Adapun beberapa nilai moral yang disampaikan oleh Wiwiek Widiyastuti melalui tari Lenggang Nyai ini yaitu:

1. Kebingungan

Fase kehidupan saat Nyai Dasimah kebingungan untuk menentukan lelaki pilihannya dituangkan di dalam gerak selut nyai, gerak nggenjot geblak dan juga gerak tumpeng kepe.

Selain kebingungan saat sebelum menikah, kebingungan juga melanda Nyai Dasimah setelah menikahi Edward William.

Kebingungan dan ketidaktenangan melanda Nyai Dasimah saat merasa bahwa hidupnya terkekang, namun tidak dapat melakukan apapun selama masih menjadi istri dari Edward yang merupakan seorang Kompeni Belanda.

2. Kesedihan

Nilai moral selanjutnya yaitu adalah kesedihan yang digambarkan oleh gerak klunter, gerak puter geong dan juga gerak palang tiga.

Setelah bingung akan masa depan kehidupannya, Nyai Dasimah menjadi bersedih dan kemudian pasrah terlebih ditambah beban menjadi istri kedua.

3. Malu

Ada ragam gerak di mana para penari menundukan kepala dengan ekspresi atau mimik muka murung dalam gerak miwir ampok yang menggambarkan rasa malu dari Nyai Dasimah setelah menjadi istri kedua Edward.

Cemoohan menjadi makanan sehari–hari Nyai Dasimah, sehingga sang Nyai tidak dapat berbahagia dan menikmati hidupnya seperti sebelumnya.

4. Keyakinan

Setelah sebelumnya memilih menjadi istri kedua Edward William, Nyai Dasimah kemudian mantap dan yakin untuk memilih Samiun karena tersadarkan bahwa hidup sebagai istri kedua membuat kehidupannya tidak bahagia dan terkekang.

Keyakinan terpancar dan disalurkan dalam ragam gerak gibing ukel, gerak gibang dan juga gerak palang miwir.

5. Kebahagiaan

Tidak lagi memikirkan cemoohan dan juga omongan orang lain.

Nyai Dasimah yang yakin dengan pilihannya kemudian menjadi bahagia dan menyadari bahwa kebahagiaan diciptakan oleh dirinya sendiri, dan tidak sepatutnya orang lain menghilangkan kebahagiaan yang ada dalam hidup.

Melalui ragam gerak tusuk Wiwiek Widiyastuti menggambarkan kebahagiaan yang menjadi puncak kebebasan dari Nyai Dasimah.

6. Keberanian

Bersama dengan Samiun, lelaki pilihannya, Nyai Dasimah melawan tentara Belanda dengan berani, tanpa adanya ketakutan. Setelah diajari silat oleh Samiun sang kekasih, Nyai Dasimah menjadi lebih berani lagi.

Ragam gerak silat dibuat untuk dapat menggambar keberanian yang dimiliki oleh Nyai Dasimah dan juga Samiun.

7. Cinta Sejati

Setelah Bersatu dengan Samiun, Nyai Dasimah sangat berbahagia dengan pilihan cinta sejatinya. Kebebasan yang saat ini dirasakannya juga menjadi sumber kebahagiaan Nyai Dasimah.

Untuk menggambarkan nilai moral ini, dibuatlah ragam gerak selut nyai dan juga kepak jimbe selur nyai.

Tari Lenggang Nyai Betawi

gobetawi.blogspot.com

Fungsi dari Tari Lenggang Nyai

Ada empat fungsi yang dimiliki oleh tarian Lenggang Nyai yang dibuat oleh Wiwiek Widiyastuti ini. Adapun keempat fungsi dari tarian ini antara lain adalah:

1. Fungsi Kepentingan Upacara

Saat ini tarian Lenggang Nyai sering ditampilkan dalam berbagai macam acara khususnya dalam festival kebudayaan dan juga upacara, biasanya upacara yang menampilkan tarian ini adalah upacara penyambutan tamu penting.

2. Fungsi Hiburan

Tari Lenggang Nyai memiliki fungsi untuk hiburan yang pada awalnya ditampilkan sebagai pembuka acara Liga Mandiri, sehingga penonton menjadi terhibur dan juga tidak bosan saat sedang menunggu.

Meskipun ditampilkan dalam durasi yang pendek, tarian ini dapat menghipnotis para penonton dan membuat penonton secara otomatis merespon iringan lagu dan juga gerakan para penari, baik dengan hentakan maupun gerakan badan.

3. Fungsi Seni Pertunjukan

Tarian ini membutuhkan persiapan yang sangat matang hingga pada akhirnya dapat ditampilkan. Persiapan yang dimaksud di antaranya adalah koreografi, interpretasi, artistik, tema dan juga konseptual yang menarik.

Penonton dapat menikmati indahnya tarian ini saat ditampilkan, sehingga akan mendapatkan pengalaman estetis dari menonton pertunjukan para penari.

Bukan hanya sebagai hiburan, untuk dapat menikmati dan juga mengapresiasi seni tari ini dibutuhkan konsentrasi dan juga pengamatan yang lebih serius dari penonton.

Sehingga dapat memberikan kepuasan baik pada mata yang melihat maupun hati penontonnya.

4. Fungsi Media Pendidikan

Melalui seni tari secara umum dan tarian Lenggang Nyai secara khusus, para penata tari juga ingin mengembangkan kepekaan akan estetis melalui pertunjukan atau penampilan karya dan juga diikuti dengan penyampaian apresiasi.

Nilai–nilai moral yang bisa kita petik pada tarian ini salah satunya adalah keberanian Nyai Dasimah saat memperjuangkan hak dan juga kebebasan hidupnya.

Cerita kehidupan dari Nyai Dasimah yang diolah oleh Wiwiek Widiyastuti menjadi sebuah tarian indah dan unik yang bernama tari Lenggang Nyai,

Dimana meskipun masih tergolong tarian baru, tarian ini terkenal dan menjadi salah satu lambang Suku Betawi. Apakah Anda ingin mempelajari tarian ini?

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close