Sejarah Tari Maengket, Tarian Tradisional Terkenal Asal Minahasa

Deskripsi: Pengertian dan sejarah Tari Maengket, daerah asal, makna dan karakteristik pertunjukannya.


Selain tarian Kabasaran dan juga tarian Lenso, Minahasa juga memiliki tarian yang terkenal lainnya yaitu tari Maengket.

Tarian ini dilakukan oleh banyak orang dan ditampilkan secara massal. Tarian ini masih dilestarikan oleh masyarakat Minahasa dan sering ditampilkan di berbagai acara.

Jika Anda ingin mengetahui informasi mengenai tari tradisional ini, simak artikel ini hingga akhir ya karena akan dibahas mengenai sejarah, fungsi dan makna, serta hal–hal yang berkaitan dengan pertunjukan tarian Maengket ini.

Sejarah Tari Maengket

lensabudaya.com

Sejarah dan Asal Usul Tari Maengket

Menurut catatan sejarah, tarian Maengket ini sudah ada dan berkembang di antara masyarakat Minahasa sejak awal abad ke-7.

Masyarakat Minahasa saat itu baru mengenal pertanian. Kemudian membuat sebuah tarian dan pertunjukan sebagai wujud dari rasa syukur atas hasil panen yang menghasilkan tari ini.

Kata Maengket sendiri sebenarnya berasal dari kata ‘engket’ yang berarti tumit yang naik turun.

Sementara kata ‘ma’ di depan ditambahkan sebagai imbuhan, sehingga Maengket berarti menarik dengan tumit yang naik dan turun.

Ada beberapa teori mengenai asal usul dari tarian ini, dimana tarian ini merupakan salah satu dari bagian upacara ritual yang dibuat oleh masyarakat Minahasa untuk dapat menunjukkan budaya gotong royong yang ada dalam kehidupan mereka.

Selain itu, terdapat pendapat atau teori lainnya yaitu tari Maengket ini berasal dari budaya ritual religi yang dilakukan oleh masyarakat purba Suku Malesung, kemudian berkembang mengikuti zaman dan kebiasaan masyarakat, sehingga menjadi tarian ini.

Ada teori lainnya juga yang mengatakan bahwa sebenarnya pada awalnya Maengket merupakan seni yang lebih condong ke arah seni musik dan seni vokal dibandingkan dengan seni tari, seperti yang lebih dikenal saat ini.

Tarian Maengket yang baru dikenal secara luas sebagai pertunjukan seni tari pada abad 20-an ini masih dilestarikan dan juga ditampilkan oleh masyarakat setempat bahkan hingga saat ini.

Perkembangan zaman juga mempengaruhi tarian Maengket, namun masih berdasar kepada kesan dan ciri khas aslinya.

Fungsi dan Makna dari Tari Maengket

Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa tarian ini ditampilkan pada acara upacara panen raya, sebagai sebuah wujud rasa syukur masyarakat Minahasa akan kekayaan alam dan juga kelimpahan hasil panen yang didapatkan.

Meskipun pada awalnya berfungsi sebagai wujud atau bentuk dari rasa syukur terhadap Tuhan, dengan berkembangnya zaman, tarian ini juga ikut berkembang dan berevolusi sehingga menjadi tarian hiburan bagi masyarakat.

Sudah banyak masyarakat Minahasa yang menampilkan tari Maengket ini pada berbagai acara, misalnya penyambutan tamu, festival kebudayaan, pertunjukan seni dan juga berbagai macam acara penting lainnya.

Tarian ini memiliki makna yang dalam bagi masyarakat Minahasa.

Hal itu disebabkan karena sebenarnya gerakan yang ditampilkan berasal dari kebiasaan sehari–hari masyarakat sekitar.

Gerakan tarian seperti membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan dan bernyanyi diiringi iringan musik, menggambarkan kekompakan dan gotong royong masyarakat Minahasa.

Pertunjukan Tari Maengket

selasar.com

Pertunjukan Tari Maengket

Seperti yang sebelumnya sudah dijelaskan, pertunjukan tari ini dilakukan oleh banyak penari secara massal.

Karena dilakukan oleh orang yang banyak, terdapat satu orang yang menjadi pemimpin tarian, sehingga pertunjukan berjalan dengan baik dan juga menghibur.

Untuk menghasilkan pertunjukan yang indah dan menarik, ada beberapa hal pendukung yang harus diperhatikan, sehingga tarian menjadi selaras dan indah.

Ada beberapa hal pendukung pertunjukan yang akan disampaikan kepada Anda mengenai pertunjukan tarian Maengket ini.

Adapun beberapa hal tersebut di antaranya adalah:

1. Iringan Musik

Musik yang mengiringi para penari dalam menampilkan tari Maengket ini merupakan musik tradisional yang juga menggunakan alat musik tradisional khas dari Minahasa, Maluku dan sekitarnya yaitu tambur, tifa dan juga kolintang.

Pada awalnya alat musik tambur lebih sering digunakan dalam mengiringi tarian Maengket ini, namun kemudian berkembang dan ditambahkan dengan tifa dan kolintang.

Irama dari iringan musik ini pada umumnya bertempo sedang, tidak terlalu cepat maupun terlalu lambat.

Jika pada pertunjukan tarian lain terdapat penyanyi khusus untuk menyanyikan syair, hal yang berbeda terjadi pada tarian ini.

Syair yang terdiri dari tiga babak mengikuti babak tarian ini dinyanyikan secara langsung oleh para penari.

Diciptakan oleh Jan Rumagit, Samuel Assa dan juga Johanis Posumah, syair yang dinyanyikan oleh para penari menggunakan beragam bahasa mengingat masyarakat Minahasa yang berasal dari beberapa etnis yang berbeda pula.

2. Kostum atau Busana Penari Tari Maengket

Penari yang menampilkan tarian ini diwajibkan untuk menggunakan pakaian atau kostum adat dari Minahasa, di mana para penari wanita menggunakan baju atasan sejenis kebaya lengkap dengan rambut yang disanggul atau digelung.

Untuk para penari pria, mereka menggunakan baju lengan panjang, celana panjang dan juga penutup kepala khas yang berasal dari Sulawesi Utara.

Kostum yang digunakan oleh pemimpin tarian harus berbeda warna atau corak dengan penari yang lain, agar mudah untuk dibedakan.

Apakah Anda tahu bahwa para penari tidak menggunakan alas kaki apapun saat menarikan tarian ini?

Baik berupa sepatu maupun sendal, para penari tidak diperkenankan untuk menggunakan alas kaki saat menampilkan tarian ini.

Para penari biasanya membawa sapu tangan atau lenso (bahasa Maluku).

3. Babak dan Gerakan Tari

Sebelumnya sudah sempat disinggung mengenai tiga babak yang ada di dalam tari Maengket ini.

Babak tersebut sebenarnya berasal dari gerakan tari, di mana nama ketiga babak tersebut adalah maowey kamberu, marambak dan juga lalaya’an.

  • Maowey Kamberu

Babak tarian pertama ini bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur atas apa yang dimiliki oleh masyarakat terhadap Tuhan untuk hasil panen yang melimpah.

Pada babak ini, gerakan diawali dengan penari yang membuat permohonan kemudian membentuk gerakan gotong royong.

Untuk formasi dari babak ini sendiri, para pria akan berbaris terlebih dahulu untuk membentuk pola setengah lingkaran dan kemudian para penari wanita akan mengikuti pola setengah lingkaran dan menghadap ke penari pria.

  • Marambak

Pada babak ini, masyarakat ingin menggambarkan bagaimana mereka membangun bangunan rumah dengan menggunakan material kayu yang berkualitas tinggi dan juga kokoh.

Para penari akan membentuk pola lingkaran sambil memegang pundak dari penari lain yang ada di depannya.

  • Lalaya’an

Babak ketiga sekaligus babak terakhir pada tarian ini menggambarkan para pemuda yang sedang mencari jodoh. Dahulu, babak lalaya’an ini sering disebut sebagai tarian sosial dari kaum muda.

Pada babak ini, para penari akan membentuk pola atau formasi yang berbentuk lingkaran, di mana mereka akan dibagi menjadi dua baris sambil berpegangan tangan.

Dalam beberapa pertunjukan (tidak semua), penari perempuan akan berhadapan dengan penari laki–laki.

Meskipun perkembangan zaman masih berlangsung hingga saat ini, masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara masih melestarikan tari Maengket.

Apakah Anda juga tertarik untuk menonton pertunjukannya atau bahkan belajar tarian ini?

Baca juga: Pakaian adat Sulawesi Utara

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close