Zaman Megalitikum

Deskripsi: Pengertian Zaman Megalitikum, Ciri-ciri Kehidupan dan Kebudayaan, Pembagian, Peninggalan.


Jauh sebelum terciptanya era kehidupan modern, nenek moyang manusia pernah mengalami zaman Megalitikum, atau yang juga akrab disebut dengan zaman batu besar.

Pada masa tersebut, keadaan bumi telah semakin stabil, namun pemikiran manusia belum begitu berkembang seperti sekarang.

Manusia di era Megalitikum hidup dengan cara-cara tradisional dan sangat bergantung pada alam. Namun, berbagai peralatan dari batu besar telah mulai dibuat, serta digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, pola pikir manusia menjadi semakin maju dan kreatif.

Zaman Megalitikum

Pengertian Era Megalitikum

Zaman Megalitikum juga disebut dengan era batu besar. Hal tersebut dikarenakan pada era Megalitikum manusia menggunakan batu-batu berukuran besar untuk dijadikan sebagai peralatan sehari-hari.

Zaman ini juga menjadi penanda mulai meningkatnya kreativitas manusia. Ciri-ciri era Megalitikum diungkapkan melalui penemuan fosil-fosil oleh para arkeolog.

Di zaman tersebut pula ditemukan peninggalan bersejarah, seperti rumah batu, kapak batu, dan perlengkapan hunian maupun peralatan lain yang terbuat dari bahan bebatuan alami.

Di zaman batu besar, manusia sudah mulai mengenai sistem kepercayaan, meskipun masih di tingkat awal, yakni mempercayai eksistensi roh nenek moyang. Tentunya kepercayaan tersebut didasari oleh pengetahuan manusia yang mulai berkembang.

Kehidupan di Era Megalitikum

Siklus kehidupan pada masa Megalitikum dikelompokkan atas beberapa bagian, di antaranya adalah berikut ini:

1. Kehidupan Sosial

Sebenarnya interaksi sosial telah ada sejak era neolitikum hingga zaman perunggu. Pada masa ini, manusia sudah dapat membuat peralatan dan mulai meninggalkan kebudayaan dari periode zaman batu besar. Selain itu, aturan dan norma juga mulai diberlakukan.

2. Kehidupan Kebudayaan

Megalitikum telah meninggalkan kebudayaan cukup menarik. Bahkan di era modern saat ini, ada beberapa kebudayaan dari era Megalitikum yang masih dilestarikan. Salah satunya adalah pemujaan dan penghormatan terhadap roh nenek moyang.

3. Kehidupan Ekonomi

Pada masa Megalitikum, manusia sudah mulai menggunakan peralatan dari material batu alam. Alat tersebutlah yang kemudian dipakai untuk menunjang aktivitas bercocok tanam maupun mengolah makanan.

4. Kehidupan Kepercayaan

Manusia era Megalitikum mulai berinisiatif membangun bangunan batu dengan ukuran besar sebagai tempat untuk memuja arwah para leluhur yang telah meninggal dunia.

Di kemudian hari, budaya ini menjadi salah satu ciri khas nenek moyang bangsa Indonesia, khususnya sebelum masuknya pengaruh agama, seperti Islam, Hindu, dan juga kolonialisme.

Ciri-Ciri Zaman Batu Besar

  • Telah mengaplikasikan sistem pembagian kerja.
  • Sudah ada pemimpin (kepala suku).
  • Logam mulai dimanfaatkan untuk membuat peralatan sehari-hari.
  • Sudah menerapkan norma-norma dalam komunitas masyarakat.
  • Mulai memberlakukan sistem produksi makanan (bercocok tanam).
  • Menerapkan sistem primus inter pares atau hukum rimba, di mana yang paling kuat berkuasa.

Peninggalan Era Megalitikum

1. Kubur Batu

Peti mati dari bahan batu besar yang digunakan sebagai tempat penyimpanan jenazah, khususnya jenazah pemimpin atau ketua setempat. Kubur batu banyak ditemukan di daerah Wonosari (Yogyakarta), Bali, Bondowoso (Jawa Timur), dan Cepu (Jawa Tengah).

2. Dolmen

Meja batu tempat meletakkan berbagai sesaji untuk memuja roh nenek moyang. Selain difungsikan sebagai tempat sesaji, meja berbentuk pipih ini juga biasanya dipakai sebagai penutup untuk sarkofagus. Jadi, memang cukup multifungsi.

3. Punden Berundak

Bangunan bertingkat yang berfungsi sebagai tempat untuk memuja arwah nenek moyang. Punden berundak juga merupakan konsep dasar dari membangun candi di era kerajaan. Peninggalan zaman Megalitikum satu ini banyak ditemukan di Banten, Garut, dan Kuningan.

4. Sarkofagus

Peti jenazah dari batu berbentuk seperti lesung dan dilengkapi penutup. Di bagian dinding depan sarkofagus umumnya dihiasi ukiran binatang serta manusia yang diyakini mempunyai kekuatan magis. Sarkofagus banyak ditemukan di kawasan Bondowoso dan Bali.

5. Arca Batu

Patung atau arca berbentuk manusia atau binatang sebagai lambang nenek moyang. Arca batu umumnya digunakan untuk pemujaan. Peninggalan arca batu yang masih eksis hingga saat ini dapat ditemukan di area Sumatra Selatan dan Sulawesi Selatan.

6. Menhir

Tugu batu tegak dan didirikan di tanah pada kawasan tertentu guna memperingati orang-orang yang sudah meninggal dunia. Keberadaan menhir erat kaitannya dengan kepercayaan dinamisme (arwah nenek moyang menetap di tempat-tempat tertentu).

7. Waruga

Di Pulau Bali, waruga adalah kubur batu tanpa penutup. Sedangkan di Minahasa, waruga terbagi atas dua bagian, di mana bagian atas bentuknya segitiga seperti atap rumah, dan sisi bawah memiliki bentuk kotak vertikal dan terdapat rongga di bagian tengah.

Pembagian Zaman Megalitikum

Berdasarkan catatan dari Von Heine Geldern, budaya pada masa Megalitikum menyebar di Indonesia melalui dua gelombang, yakni:

1. Megalitikum Tua

Era Megalitikum tua mulai menyebar di Indonesia sejak zaman Neolitikum, yaitu 2500 – 1500 SM. Beberapa budaya dan peninggalan dari era ini di antaranya adalah, arca-arca batu, menhir, statis, dan punden berundak-undak.

2. Megalitikum Muda

Periode Megalitikum muda dimulai pada zaman perunggu, yakni sekitar 1000 – 100 SM. Contoh peninggalan dari Megalitikum muda berupa bangunan dolmen, patung dinamis, sarkofagus, dan juga waruga sarkofagus.

Manusia yang Hidup di Era Megalitikum

Pada era zaman batu atau Megalitikum, terdapat beberapa jenis manusia yang hidup di masa tersebut, di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Meganthropus Palaeojavanicus

Nama ini memiliki arti sebagai manusia raksasa dari Jawa. Meganthropus Palaeojavanicus memiliki ciri berupa tubuh yang kekar, rahang serta geraham besar, dan tidak memiliki dagu sehingga tampak seperti kera.

Jenis ini diperkirakan hidup sekitar 1 – 2 juta tahun lalu.

  • Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus Erectus diambil dari bahasa Yunani, yaitu Fithkos atau kera, dan Anthropus yang berarti manusia, sedangkan Erectus adalah tegak. Apabila disatukan, maka Pithecanthropus Erectus berarti manusia kera yang berjalan secara tegak dan lurus.

  • Pithecanthropus Mojokertensis

Sesuai namanya Mojokertensis, fosil manusia purba ini ditemukan di daerah Mojokerto. Von Koenigswald kemudian mengubah namanya menjadi Homo Mojokertensis. Jenis ini diperkirakan pernah eksis sekitar 1,43 – 1,49 juta tahun lalu pada masa zaman batu besar.

  • Pithecanthropus Soloensis

Manusia purba lain yang pernah hidup di zaman Megalitikum adalah jenis Pithecanthropus Soloensis atau lelaki dari Solo. Homo Erectus Soloensis diperkirakan hidup pada pinggiran sungai Bengawan Solo purba di zaman batu, karena fosilnya ditemukan di area tersebut.

Tradisi Megalitikum Masih Eksis Hingga Sekarang

Tanpa disadari, sebenarnya ada beberapa tradisi dari era Megalitikum yang masih dilestarikan hingga saat ini. Salah satunya upacara adat dengan menggunakan bebatuan besar sebagai simbol dari kekuatan magis, dan memberikan penghormatan kepada roh nenek moyang.

Di Nusantara, tradisi kubur yang merupakan budaya Megalitikum dengan ciri menyertakan bekal kubur (benda milik jenazah), seni ukir batu, dan penggunaan patung pada kubur masih dilakukan di daerah-daerah tertentu, seperti Pagaralam (Sumatra Selatan), Toraja, Sumba, Nias, Bali, dsb.

Zaman Megalitikum telah memberikan sumbangsih terhadap peradaban manusia modern saat ini. Apalagi, masih banyak praktik kebudayaan dari era tersebut yang dipraktekkan hingga sekarang.

Jadi, selain meninggalkan jejak sejarah, era Megalitikum juga mewariskan budaya tidak ternilai.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close