Alasan Mengapa Bumi Berotasi

Sebagai makhluk hidup yang mendiami bumi, kita tentu mengenal adanya perubahan siang dan malam.

Loading...

Dari perubahan tersebut, manusia kemudian menciptakan sistem jam dan hari untuk mencatat perubahan dan perbedaan (zonasi) waktu. Seperti yang kita ketahui, zonasi waktu diperlukan untuk membedakan masing-masing waktu daerah.

Perubahan siang-malam dan zonasi waktu hanya sekelumit dari beragam dampak putaran rotasi bumi lainnya.

Dengan kata lain, putaran (rotasi) bumi menyebabkan adanya perubahan waktu tersebut, yang merupakan faktor eksternal terpenting untuk menunjang sebuah ekosistem dan biota yang terkandung di dalamnya.

Tapi kalau dipikir-pikir, mengapa sih bumi bisa berputar? Mengapa putarannya seolah tidak bisa kita rasakan? Mari kita simak ulasan berikut ini.

Alasan Mengapa Bumi Berotasi

image via canva.com

Sebab Bumi Berotasi

1. Bumi Berotasi Sejak Terbentuk

Lebih dari 4,6 miliar tahun yang lalu, ruang angkasa hanyalah berisi hamparan awan debu dan gas yang terapung-apung tak menentu.

Bumi yang sekarang terdiri dari daratan dan lautan seperti yang kita kenal, saat itu masih terbentuk dari kumpulan-kumpulan debu dan gas bekas sisa-sisa fenomena Big Bang.

Akibat pengaruh gravitasi, debu dan gas bergerak saling tarik-menarik.  Tarikan paling kuat berasal dari tengah-tengah kumpulan, sehingga menyebabkan debu dan gas tersebut tertarik ke pusat dengan gerakan berputar.

Lama-lama, partikel-partikel itu memadat, dan pada akhirnya terciptalah daratan.

Jita mempelajari Hukum II Newton mengenai aksi dan reaksi, kita pasti paham bahwa benda yang bergerak pada laju tertentu akan cenderung tetap bergerak.

Inilah yang bisa menjelaskan bahwa putaran saat bumi masih berbentuk gas dan debu tidak hilang begitu saja, namun menyebabkan bumi berotasi.

2. Bumi Berotasi untuk Mempertahankan Kedudukan

Berotasi atau berputar pada sumbu adalah cara sebuah benda untuk bertahan pada kedudukannya di ruang hampa. Selain itu, dengan berotasi, sebuah benda bisa mempertahankan bentuknya. Setiap benda yang bergerak memiliki momentum.

Untuk benda yang bergerak melingkar (berotasi), memiliki momentum sudut yang menentukan laju dan arah putarannya.

Saat sebuah benda berputar pada porosnya, dan tidak ada resultan momen gaya luar yang bekerja pada sistem, maka berlaku kekekalan momentum sudut.

Setiap benda yang sedang berputar cenderung mempertahankan putarannya selama tidak ada yang mengganggu putaran tersebut.

Saat kita bermain gasing, putarannya tidak akan bertahan lama karena terganggu oleh berbagai hal, seperti gesekan tanah dan lainnya.

Sementara bumi kita berputar dengan tanpa gangguan apapun di ruang hampa, sehingga sampai saat ini masih terus berputar pada sumbunya. Luar biasa, bukan?

Putaran Bumi Tidak Bisa Dirasakan

Tahukah kamu, kalau bumi berputar dengan kecepatan sekitar 1.700 km/jam? Wah, kalau begitu cepat sekali ya. Tapi, mengapa kita tidak bisa merasakannya?

Bumi bergerak dengan begitu cepat, sementara segala yang menjadi isinya tetap bisa diam, tak merasakan gerakan apapun. Kok bisa?

Pergerakan putaran bumi adalah konstan, namun karena massa dan ukuran bumi yang sangat besar, kita tidak bisa merasakan putarannya karena kita juga turut bergerak bersamanya.

Kita bisa menganalogikannya dengan saat kita berada dalam kereta yang tengah melaju. Dengan duduk diam sambil memandang keluar jendela, kita bisa melihat pepohonan yang berlalu lalang, seolah bergerak melewati, alih-alih kereta yang melaju bersama kita di dalamnya.

Fisikawan menyebut fenomena ini sebagai “bingkai referensi”.  Bingkai referensi adalah semacam perspektif. Seseorang yang berdiri di atas kereta memiliki satu perspektif, sedangkan orang yang berdiri di luar kereta memiliki perspektif yang lain.

Namun, ada satu perbedaan antara kereta dan bumi. Saat kereta melambat dan melaju, kita bisa merasakan kekuatan yang dihasilkan pada tubuh kita.

Itu karena hukum dasar fisika, yaitu gaya = massa x akselerasi. Tubuh kita adalah massa. Saat akselerasi nol (saat kereta bergerak dengan kecepatan konstan), tidak ada gaya pada tubuh kita. Kita tidak bisa merasakannya.

Tapi saat kereta berubah kecepatan dengan mempercepat atau melambat, ada gaya pada tubuh kita. Untungnya, hal itu tidak berlaku bagi bumi yang kita tinggali.

Coba bayangkan apa jadinya jika bumi tiba-tiba berputar melambat atau lebih cepat dari biasanya. Mungkin seisi bumi jadi berantakan, ya.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close