Peninggalan Kerajaan Bali Dwipa – Sejarah, Perkembangan, Raja-Rajanya

Kerajaan Bali sebenarnya hanya istilah yang digunakan untuk menunjukkan serangkaian kerajaan Hindu Buddha yang pernah berkuasa di pulau tersebut.

Sedangkan kerajaan yang pernah berkuasa dibagi menjadi beberapa dinasti tergantung pada periode pemerintahannya.

Keberadaan kerajaan-kerajaan di Bali sudah dimulai sejak abad ke-10 M hingga awal abad ke-20 M.

Umumnya, kerajaan yang didirikan di daratan Bali menonjolkan eksistensi budaya, sejarah, seni, dan penghormatan terhadap dewa, karena masyarakat lokal Bali merupakan penganut ajaran Hindu.

kerajaan bali

Peninggalan Kerajaan Bali

1. Pura Besakih

Salah satu objek wisata keagamaan, sejarah, dan budaya yang telah terdaftar sebagai salah satu warisan dunia UNESCO ini adalah salah satu peninggalan dari era kerajaan yang sangat populer saat ini.

Terlebih lagi Pura Besakih dibangun di lereng Gunung Agung.

2. Pura Tirta Empul

Tirta Empul dibangun sekitar tahun 967 M, tepatnya pada masa kepemimpinan Sri Candrabhaya Warmadewa.

Pura ini merupakan sebuah tempat suci yang dibuat dengan maksud menjadi gambaran kehidupan yang bebas dari kemelut duniawi.

3. Prasasti Blanjong

Blanjong merupakan prasasti tertua yang ditemukan di Pulau Bali. Prasasti bertahun 913 M yang berisi mengenai pemberian nama lain untuk Bali menjadi Walidwipa ini dibuat saat Raja Sri Kesari Warmadewa menjadi penguasa Bali.

4. Prasasti Panglapuan

Pada Prasasti Panglapuan tertulis tentang suatu Badan Penasehat yang terdiri atas para pendeta Hindu dan Buddha.

Prasasti bertarikh 914 M ini juga menganjurkan supaya setiap pihak saling bahu membahu dalam mematuhi perintah kebijakan dari Raja Bali.

5. Prasasti Gunung Panulisan

Gunung Panulisan terletak di bagian dalam Pura Puncak Panulisan. Hingga saat ini prasasti tersebut masih difungsikan sebagai batu untuk sembahyang pemeluk agama Hindu.

6. Candi Mengening

Mengusung pola arsitektur yang megah, siapa sangka kalau candi yang dibangun di tepian sungai Pakerisan ini telah eksis sejak tahun 1022 M.

7. Candi Wasan

Candi yang berada di Gianyar ini termasuk salah satu candi paling tua di Pulau Bali.

Meskipun kelengkapan benda di dalamnya tinggal puing-puing, namun bangunan candi masih utuh dan tidak mengalami kerusakan sedikitpun.

8. Candi Padas

Di bangunan Candi Padas terdapat 315 anak tangga dari bebatuan alam yang wajib dilewati supaya bisa sampai ke puncak candi. Candi ini dibangun di kawasan Tampaksiring.

Sejarah Kerajaan Dwipa

Kerajaan Bali berada tepat di sisi timur Pulau Jawa, tidak mengherankan apabila Bali sangat dipengaruhi kerajaan di Jawa, seperti Medang dan Majapahit.

Pengaruh Jawa yang diadopsi Bali terbilang cukup kompleks, yaitu mulai dari bahasa, gaya arsitektur, seni, dan juga budaya.

Salah satu sumber sejarah paling penting yang mengungkapkan tentang eksistensi kerajaan di Bali adalah penemuan prasasti bertarikh 881 M dengan tulisan Bahasa Bali Kuno.

Namun tidak sedikit prasasti yang ditulis menggunakan bahasa Sansekerta.

Menurut sumber Prasasti Blanjong bertahun 914 M misalnya, diceritakan mengenai sebuah keluarga terkenal yang pernah menguasai Bali.

Namanya adalah Wangsa Warmadewa. Tulisan yang diaplikasikan adalah bahasa Sansekerta dan Nagari India.

Masa Keruntuhan Kerajaan di Bali

Menurut Babad Arya Tabanan, di tahun 1342 M tentara Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada dan jendralnya Arya Damar mendarat di Bali.

Pertempuran tidak dapat terhindarkan lagi, namun memasuki bulan ke-7, Raja Bedulu berhasil dikalahkan oleh pasukan Majapahit pada 1343 M.

Kekalahan Bedulu sekaligus menjadi simbol keruntuhan Kerajaan Dwipa. Karena setelahnya, Majapahit memberikan perintah kepada Bali untuk tunduk di bawah bendera Majapahit.

Dalam Negarakertagama, nama beberapa tempat suci di Bali juga pernah dibahas beberapa kali.

Letak Kerajaan Bali

Secara umum, Kerajaan Dwipa atau Bali terletak di Pulau Bali, dan juga Kepulauan Sunda Kecil yang lokasinya tidak begitu jauh dari Bali.

Sementara letak persis kerajaannya tergantung pada periode pemerintahan. Contohnya adalah Raja Udayana yang membangun kerajaan di Ubud, Gianyar.

Sedangkan Raja Warmadewa meletakkan pusat kekuasaan di Bedulu. Lain lagi dengan zaman Sembilan Kerajaan, di mana ibu kota kerajaan berada di Klungkung.

Raja-Raja Penguasa Bali

Berdasarkan sumber catatan sejarah, Kerajaan Bali Dwipa pernah dipimpin oleh beberapa raja pada masanya.

Kepemimpinan para raja tersebut tertulis pada situs dan bangunan prasasti yang telah ditemukan dan ditelusuri jejak keabsahannya oleh para ahli arkeolog dan sejarawan.

Berikut ini adalah daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Bali:

1. Sri Kesari Warmadewa

Dalam Prasasti Bajong dituliskan, bahwa Sri Kesari Warmadewa merupakan pendiri sekaligus raja pertama di Kerajaan Dwipa. Era pemerintahannya sekitar tahun 914 M.

2. Sri Ugrasena

Sepeninggal Warmadewa, kekuasaan jatuh ke tangan Sri Ugrasena. Pada masanya, kehidupan rakyat Bali mulai berubah menjadi lebih baik. Pembangunan pura dan prasasti semakin gencar, dan pemungutan pajak ke daerah-daerah mulai diterapkan.

3. Tabenendra Warmadewa

Keturunan dari Warmadewa naik tahta menjadi raja ke-3 di Kerajaan Dwipa. Ia memerintah sejak 955 M – 967 M.

Di periode kekuasaannya, Tabenendra membangun tempat pemakaman Air Mandaru, dan ia juga memberikan pembebasan pajak untuk daerah tertentu.

4. Jayasingha Warmadewa

Setelah wafatnya Tabanendra, putranya Jayasingha menggantikan posisinya sebagai raja.

Pada masa tersebut pula pemandian suci Tampaksiring yang diiberi nama Tirta Empul dibangun. Jayasingha memimpin Bali selama 15 tahun, terhitung sejak 960 M – 975 M.

5. Jayasadhu Warmadewa

Penguasa Kerajaan Bali selanjutnya adalah Jayasadhu Warmadewa (periode 975 M – 983 M). Ia terkenal sebagai seorang raja yang bijak serta peduli terhadap pembangunan fasilitas ibadah.

Ia bahkan memerintahkan rakyatnya supaya mau merawat dan memperbaiki pura.

6. Dharma Udayana Warmadewa

Pada masa kekuasaan Raja Udayana, Bali mencapai puncak kejayaannya. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan istrinya, yaitu Mahendradatta yang berasal dari Jawa Timur. Dharma Udaya memerintah selama 10 tahun, sejak 1001 M – 1011 M.

7. Marakata

Raja Marakata adalah putra kedua dari Raja Udayana. Ia dikenal sebagai sosok raja yang mampu mengayomi rakyatnya. Masa pemerintahannya berlangsung selama 11 tahun (1011 M – 1022 M).

8. Anak Wungsu

Setelah lengsernya Marakata, posisi raja dipegang oleh putra Udaya lainnya yang bernama Anak Wungsu.

Di masa kekuasaannya tahun 1049 M – 1077 M, pembangunan prasasti gencar dilakukan. Saat ini telah ditemukan sekitar 28 prasasti dari zaman Anak Wungsu.

9. Jaya Sakti

Pemegang kekuasaan Kerajaan Dwipa selanjutnya adalah Jaya Sakti, di era 1133 M – 1150 M. Ia menjamin undang-undang yang dibuat sebagai pengatur pemerintahan.

Undang-undang yang dibuat diberi nama Kitab Utara Widdhi Belawan dan Kitab Rajawacana.

10.  Bedahulu

Raja terakhir Bali yang berkuasa di tahun 1342 M ini menjalankan pemerintahan dengan didampingi dua orang patih, yaitu Kebo Iwa dan Pasung Grigis. Di masa kepemimpinan Bedahulu, Majapahit berhasil menaklukkan Kerajaan Dwipa.

Selama masa kekuasaan Kerajaan Bali, membangun situs dalam bentuk prasasti, pura, maupun candi seolah menjadi sebuah ciri khasnya.

Karena setiap raja-raja yang berkuasa di Bali pasti meninggalkan sebuah jejak bukti berupa bangunan yang erat kaitannya dengan kegiatan keagamaan.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close