Kerajaan Banjar merupakan sebuah kesultanan di Kalimantan Selatan. Luas wilayah kekuasaannya membentang dari Tanjung Sambar hingga ke Tanjung Aru.
Di masa awal, kerajaan ini didirikan pada tahun 1520 M, namun kemudian dihapuskan secara sepihak oleh pemerintah kolonial di tahun 1860.
Peninggalan Kesultanan Banjar
Selain meninggalkan warisan dalam bentuk sejarah, Kerajaan Banjar di masa lalu juga memiliki beberapa peninggalan-peninggalan yang menjadi bukti akan eksistensinya.
Beberapa di antaranya bahkan masih dalam kondisi kokoh dan terawat, sedangkan yang lainnya disimpan rapi di museum.
Berikut ini adalah peninggalan dari era Kesultanan Banjar:
1. Masjid Sultan Suriansyah
Masjid tertua di Kalimantan ini dibangun di masa kepemimpinan Sultan Suriansyah, yang merupakan Raja Banjar yang pertama kali memeluk agama Islam.
Ia mendirikan Masjid Kuin dengan arsitektur khas di era pemerintahannya, sekitar kurun waktu 1526 M – 1550 M.
2. Candi Agung Amuntai
Peninggalan Banjar selanjutnya adalah Candi Agung, yang dibangun saat kerajaan tersebut masih didominasi pengaruh Hindu.
Dibangun oleh Mpu Jatmika sekitar tahun XIV M, hingga saat ini kondisi Candi Agung masih sangat bagus dan bahkan belum pernah dipugar.
3. Candi Laras
Lokasinya tidak begitu jauh dari Candi Agung, karena terletak di Tapin. Candi Laras sengaja dibangun dengan maksud khusus, yaitu mengelabui para kolonial yang ingin menghancurkan Candi Agung.
Sampai sekarang Candi Laras masih difungsikan sebagai tempat ibadah.
4. Makam Raja Raja Banjar
Para penguasa Banjar dimakamkan di beberapa tempat berbeda di Kalimantan Selatan.
Namun, kompleks pemakaman raja-raja dari Banjar yang paling terkenal adalah lokasi makam Sultan Suriansyah, yang berdekatan dengan makam Pangeran Muhammad, dll.
5. Benda-Benda Bersejarah
Di era pemerintahannya, Banjar juga telah memproduksi berbagai macam benda kerajinan tangan, seperti persenjataan, buku-buku, perkakas batu, perkakas pertanian, ukiran kayu ulin, alat musik tradisional, perabotan, stempel kerajaan, serta perahu tambangan.
Asal Mula Berdirinya Kerajaan Banjar
Kesultanan Banjar sebenarnya adalah penerus dari Kerajaan Daha yang bercorak Hindu, dan merupakan penguasa di kawasan Kalimantan Selatan.
Namun kemudian, terjadi konflik sengit perebutan kekuasaan saat Raja Sukarama sedang menjemput ajal.
Pertikaian untuk menduduki posisi raja antara Pangeran Samudra dan Pangeran Tumenggung pun tidak dapat dihindarkan lagi.
Meskipun pada akhirnya keduanya harus menelan kecewa karena kekuasaan jatuh kepada anak tertua Raja Sukarama, yaitu Pangeran Mangkubumi.
Hanya saja, masa pemerintahan Mangkubumi sangatlah singkat karena ia dibunuh oleh orang suruhan Tumenggung.
Setelah tampuk kekuasaan dipegang Tumenggung, Pangeran Samudera memutuskan untuk pergi meninggalkan istana dan memilih menyamar menjadi seorang nelayan.
Penyamarannya diketahui oleh Raja Banjar, yaitu Patih Masih yang kemudian mengangkatnya sebagai raja baru di Banjar.
Waktu berlalu, dan Pangeran Samudera akhirnya berhasil mengumpulkan kekuatan guna menyerang musuh utamanya, yaitu Pangeran Tumenggung di Daha.
Peperangan terus berlanjut tanpa hasil memuaskan bagi kedua belah pihak karena selalu berakhir seimbang.
Hingga akhirnya, Sultan Demak menawarkan bantuan kepada Pangeran Samudera, namun dengan catatan ia mau memeluk agama Islam, dan Pangeran Samudera menyetujuinya.
Setelah kesepakatan tersebut, Demak mengirimkan ribuan pasukan serta armada kapal yang tidak mungkin ditandingi oleh Daha, hingga Banjar meraih kemenangan mutlak.
Sesuai janjinya, Pangeran Samudra dan rakyatnya masuk Islam, dan ia mengganti namanya menjadi Sultan Suryanullah.
Masa Kejayaan Kerajaan Banjar
Kerajaan Banjar mengalami masa keemasan saat memasuki abad ke-17. Negeri tersebut memiliki komoditas dagang utama seperti lada yang membuat kerajaan menerima upeti dari berbagai daerah lain.
Sebelumnya, Banjar selalu mengirimkan upeti kepada Kerajaan Demak.
Namun kebiasaan tersebut dihentikan setelah Demak runtuh dan kekuasaan digantikan oleh Pajang.
Di tahun 1615 sebenarnya terjadi supremasi Jawa untuk menguasai Banjarmasin yang dilakukan Tuban, dengan sekutunya Surabaya dan Madura, namun tidak berhasil.
Di masa selanjutnya, Banjar masih terus mendapatkan tekanan dari Kerajaan Mataram dan pemerintah kolonial Belanda.
Namun konflik antara Banjar dan Mataram dapat diredakan setelah kedua belah pihak memutuskan untuk berdamai.
Pada zaman tersebut, Kesultanan Banjarmasin adalah kerajaan terkuat di seantero Kalimantan. Khususnya sebelum kawasan kerajaan dibagi menjadi beberapa kerajaan kecil.
Hanya saja, raja di daerah pecahan Banjar tidak diperbolehkan menggunakan gelar Sultan, namun pangeran.
Runtuhnya Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar mengalami kejatuhan pada tahun 1905 karena Sultan Muhammad Seman berhasil dikalahkan oleh Belanda, yang menyebabkan semua kawasan Kesultanan Banjar jatuh ke tangan musuh, dan kerajaan besar tersebut harus menemui akhir dari masa-masa kekuasaannya.
Letak Kesultanan Banjar
Secara geografis, Kerajaan Banjar didirikan di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Banjar pernah mengalami perpindahan pusat kekuasaan selama beberapa kali, sebelum akhirnya menetap di Negara, yang saat ini adalah ibukota dari Kecamatan Daha Selatan.
Nama-Nama Penguasa Kesultanan Banjar
Sejak didirikan oleh Sultan Suryanullah di tahun 1500 M, Kesultanan Banjar telah dipimpin oleh beberapa penguasa dari generasi ke generasi.
Sultan Banjar diberi gelar sebagai Susunan Panembahan Banjarmasin atau Paduka Seri Sultan Banjar.
Di bawah ini adalah daftar Sultan Banjar dari awal hingga saat ini:
1. Sultan Suryanulah
Raja pertama Banjar sebagai kesultanan Islam dan merupakan pewaris tahta Kerajaan Negara Daha, yang kemudian diubah namanya menjadi Kesultanan Banjar.
2. Sultan Rahmatullah
Ia merupakan putra sulung dari Sultan Suryanullah. Sultan Rahmatullah memerintah Banjar pada periode 1540/1546 M – 1570 M.
3. Sultan Hidayatullah I
Raja bergelar Panembahan Batu Irang ini memimpin Banjar sejak tahun 1570 M – 1595 M.
4. Sultan Mustain Billah
Ia naik tahta setelah berhasil merampas kekuasaan dari tangan putra mahkota yang sah. Sultan Mustain Billah berkuasa tahun 1595 M – 1642 M.
5. Sultan Inayatullah
Inayatullah adalah anak pertama Mustain Billah. Ia dilantik menjadi raja pada periode 1636 M – 1645 M.
6. Sultan Saidullah
Raja selanjutnya adalah Sultan Saidullah, yang memimpin Banjar pada tahun 1645 M – 1660 M.
7. Sultan Ri’ayatullah
Periode pemerintahannya berlangsung sejak 1660 M hingga 1663 M.
8. Sultan Saidullah
Dalam catatan sejarah disebutkan, bahwa ia memimpin Banjar pada tahun 1663 M – 1679 M.
9. Sultan Agung
Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin. Ia memerintah periode 1663 M – 1679 M.
10. Sultan Amarullah Bagus Kasuma
Berkuasa pada tahun 1679 M – 1700 M.
11. Raja Raja Setelahnya
Karena tidak mungkin dijelaskan satu-persatu, maka di bawah ini akan diteruskan silsilah penguasa Banjar dengan lebih singkat, dimulai dengan sultan ke-11.
- Sultan Tahmidullah (1700 M – 1717 M)
- Panembahan Kusuma Dilaga (1717 M – 1730 M)
- Sultan Kuning (1730 M – 1734 M)
- Sultan Tamjidullah (1734 M – 1759M)
- Sultan Muhammadillah (1759 M – 1761 M)
- Pangeran Mangkubumi (1761 M – 1801 M)
- Sultan Sulaiman (1801 M – 1825 M)
- Sultan AL-Watsiq (1825 M – 1857 M)
- Sultan Tamjidullah II (1857 M – 1859 M)
- Sultan Hidayatullah Halililah (1859 M – 1862 M)
- Pangeran Antasari (1862 M)
- Sultan Muhammad Seman (1862 M – 1905 M)
- Sultan Haji Khairul Saleh (2010 M)
Meskipun telah direbut Belanda, rakyat Banjar meyakini bahwa Kerajaan Banjar tidak pernah punah.
Harapan tersebut sepertinya terjawab, karena pada Juli 2010 silam, kerajaan ini kembali dihidupkan dengan pelantikan Sultan Khairul Saleh yang merupakan putra mahkota Kesultanan Banjar.