Sejarah Kerajaan Tulang Bawang dan Peninggalannya

Deskripsi: Kerajaan Tulang Bawang, bukti sejarah hingga peninggalannya.


Kerajaan Islam di Pulau Sumatera tidak hanya Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh saja, tetapi masih ada beberapa kerajaan Islam lainnya yang memiliki pengaruh cukup besar.

Kerajaan Tulang Bawang merupakan kerajaan yang sudah ada sejak abad ke-4 Masehi.

Sejarah Kerajaan Tulang Bawang

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tulang Bawang

Kerajaan Tulang Bawang adalah salah satu kerajaan cukup tua yang pernah ada di bumi pertiwi ini. Kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan di Lampung.

Cerita kerajaan ini dimulai dari tokoh Buddha bernama I-Tsing.

1. Masa Sebelum Kemerdekaan RI

Musafir I-Tsing sempat berkunjung ke To-Lang P’o-Hwang (Tulang Bawang) pada abad ke VII. Wilayah ini merupakan sebuah kesatuan adat dengan pusat pemerintahan di hulu Way atau sekitar 20 km dari pusat kota Menggala.

Hingga saat ini, catatan sejarah mengenai berdirinya Kerajaan Tulang Bawang dan bagaimana pemerintahannya masih belum diketahui secara pasti.

Hal ini disebabkan eksistensi Kerajaan Sriwijaya atau Che Li P’o Chie semakin meroket hari demi hari.

Pada saat agama Islam masuk ke Nusantara, kawasan Menggala dan Tulang Bawang, kehidupan ekonominya mulai meningkat dan menjadi pusat perdagangan.

Komoditas rempah, khususnya lada hitam sangat disukai para saudagar karena kualitasnya sangat baik.

VOC yang saat itu berkuasa mulai melakukan perdagangan hasil bumi Menggala dan Tulang Bawang dengan ketentuan yang memberatkan rakyat.

Meskipun membawa dampak laju ekonomi yang pesat, tetapi kebijakan pemerintah Belanda yang plin-plan sangat merugikan masyarakat.

Para petinggi adat di Kerajaan Tulang Bawang berusaha mengatasi kondisi ini dengan membuat sebuah pemerintahan kecil untuk rakyat pribumi.

Pemuka adat ini membentuk sebuah marga bernama Buay Tegamoan, Umpu dan Bulan serta disusul Buay Aji.

Namun, karena sistem pemerintahan marga yang belum sempurna, usaha untuk mengusir VOC tidak berhasil. Selanjutnya tahun 1864, dibuatlah sebuah sistem adat baru bernama pesirah.

Sistem pemerintahan ini tujuan utamanya adalah membangun fasilitas lengkap di daerah Tulang Bawang.

Ketika kolonial Jepang mulai masuk, sistem pemerintahan adat tidak banyak berubah. Kawasan Menggala dan Tulang Bawang tetap dijuluki Sai Bumi Nengah Nyampur.

Artinya kawasan Tulang Bawang menjadi sebuah kawedanan, sedangkan Lampung menjadi karesidenan.

2. Masa Kemerdekaan RI

Kerajaan Tulang Bawang yang tidak bisa bertahan lama, memutuskan untuk bergabung dengan pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan dicapai.

Kawasan Tulang Bawang yang masih kenal dengan sistem pemerintahan adat harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah.

Sebagai kawasan yang berdiri sendiri dan pernah menjadi letak kerajaan Islam, pemerintah mulai mengadakan pertemuan dengan para sesepuh adat untuk membahas pengembangan provinsi Lampung untuk diubah menjadi 10 kota/kabupaten.

Pada tahun 1972, pembahasan ini mulai diadakan untuk yang pertama kalinya. Selanjutnya pada 1981, diambil sebuah keputusan mengenai pembagian wilayah provinsi Lampung.

Beberapa pejabat yang terlibat dari perencanaan pembagian wilayah ini adalah:

  • Hj. M. Yusup Nur
  • Kardinal, BA
  • Hj. Somali Saleh
  • Rukhyat Kusumayudha
  • Tamanuri
  • Santori Hasan

Setelah ada keputusan di tahun 1997, kawasan Tulang Bawang menjadi sebuah kabupaten sendiri yang diproses dengan kajian cukup panjang.

Hingga peresmian kabupaten Tulang Bawang terjadi pada 20 Maret 1997 dan disahkan oleh UU nomor 2 tahun 1997 mengenai pembentukan wilayah tingkat II.

Bupati pertama yang menjabat sebagai pemimpin kabupaten Tulang Bawang adalah Hj. Santori Hasan.

Selanjutnya, sistem pemerintahan di Tulang Bawang sudah sepenuhnya mengikuti aturan yang ditetapkan negara sebagai lembaga resmi dalam pengaturan suatu daerah.

Keberadaan Kerajaan Tulang Bawang yang kini menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Lampung tetap membawa nilai-nilai positif yang sudah ditanamkan pada masyarakat adat di wilayah tersebut.

Anda bisa menggali lebih lanjut mengenai kerajaan ini melalui para sesepuh di Tulang Bawang.

Bukti Peninggalan Kerajaan Tulang Bawang

Meskipun sejarah Kerajaan Tulang Bawang tidak diketahui secara detail, tetapi ada beberapa bukti peninggalan kerajaan yang masih bisa dilihat bahkan digunakan hingga sekarang, antara lain:

1. Makam Minak Sengaji dan Minak Ngegulung Sakti

Minak Sengaji dan Ngegulung Sakti adalah tokoh yang memperjuangkan keutuhan Tulang Bawang, khususnya ketika kapal Cina masuk ke Nusantara.

Jika Anda ingin melihat makam ini, langsung saja berkunjung ke desa Anyer, Serang, Banten.

2. Legenda Kapal Cina dan Pulau Daging

Cerita mengenai kapal Cina dan Pulau Daging di Menggala adalah salah satu bukti kuat adanya Kerajaan Tulang Bawang di masa lampau.

Legenda ini menceritakan tentang kapal Cina yang berusaha masuk ke Tulang Bawang dan ingin menguasai sistem perdagangan di Menggala.

Raja dan rakyat Tulang Bawang marah ketika mengetahui kejadian ini dan mengatur strategi untuk mengusir kapal Cina.

Peperangan pun akhirnya terjadi hingga kapal Cina berhasil ditenggelamkan. Oleh sebab itulah, legenda tersebut dinamakan Legenda Kapal Cina dan Pulau Daging

3. Masjid Kibang

Bangunan peninggalan kejayaan Tulang Bawang juga berupa sebuah masjid bernama Kibang. Masjid ini berada di pusat kota Menggala dan masih digunakan untuk kegiatan ibadah rutin maupun acara keagamaan lainnya.

Bangunan Masjid Kibang sudah mendapatkan sentuhan renovasi dengan arsitektur modern. Tetapi, masih ada beberapa bagian yang ornamennya cukup klasik dan menggambarkan perkembangan Islam di masa lalu.

4. Rumah Pangeran Wangsakerta

Rumah peninggalan pangeran Wangsakerta menjadi bukti nyata adanya Kerajaan Tulang Bawang di masa lampau. Rumah ini digunakan sebagai tempat persinggahan ketika sang pangeran merasa bosan saat di istana.

Ciri khas yang tampak dari bangunan ini adalah arsitekturnya yang sangat klasik. Diperkirakan rumah Pangeran Wangsakerta sudah dibangun sejak 1879, ketika beliau menjabat sebagai raja dengan gelar Sutan Ngukup.

Jika ditelusuri asal usulnya, Pangeran Wangsakerta merupakan keturunan Menak Kesuhur atau Krio Warganegara yang menjadi bagian dari bangsawan Menggala. Beliau lahir pada tahun 1852 dan meninggal di tahun 1927.

5. Kampung Bugis dan Pasar Lama

Peninggalan dari Tulang Bawang tidak hanya berupa rumah pangeran Wangsakerta saja, tetapi juga termasuk adanya Kampung Bugisan.

Letaknya sekitar 1 meter dari rumah tersebut. Sebelum menjadi Kampung Bugisan, wilayah ini dahulunya adalah pasar tradisional era Kerajaan Tulang Bawang.

Pasar ini juga menjadi tempat satu-satunya untuk menjalankan roda perekonomian rakyat Tulang Bawang. Terdapat satu bangunan yang sudah ada sejak tahun 1819.

Bangunan pasar terdiri dari 2 lantai yang menjual berbagai macam keperluan masyarakat saat ini.

Bukti kegiatan perdagangan di era Belanda dan Kerajaan Tulang Bawang bisa Anda lihat dari bangunan dermaga yang berada tidak jauh dari Kampung Bugisan.

Ketika VOC datang, dermaga ini selalu ramai dikunjungi para saudagar yang ingin membeli rempah Indonesia.

Kisah Kerajaan Tulang Bawang mungkin tidak diketahui secara utuh karena informasi yang tersedia hanya sedikit. Namun, beberapa peninggalan yang tersisa bisa menjadi gambaran bahwa kerajaan ini pernah berjaya di masa lampau.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close