Asal Daerah Suku Asmat dan Kebudayaannya

Deskripsi: Daerah asal Suku Asmat Papua, nama rumah adat, pakaian adat, bahasa, ciri khas dan kebudayaannya.


Suku-suku di Indonesia ada beragam, bahkan masing-masing pulau besar hingga kecilnya mempunyai suku yang mendiami wilayah tersebut.

Salah satu contohnya yaitu Suku Asmat yang berada di Papua.

Daerah Asal dari Suku Asmat

Suku Asmat sendiri merupakan suatu suku yang menempati daerah Papua, selain itu suku ini juga dikenal dengan keunikannya dalam menghasilkan ukiran kayu.

Populasi dari suku tersebut terbagi atas dua kelompok, yaitu tinggal di kawasan pesisir pantai serta menempati wilayah pedalaman.

Kedua populasi itu pun mempunyai perbedaan satu sama lainnya, yaitu dalam hal cara hidup, dialek, ritual, struktur hidup, dan lain sebagainya.

Suku dari pesisir pantai kemudian dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu Suku Sima’i dan Suku Bisman.

Suku itu pun mempunyai jarak tempuh mulai dari 100 km sampai dengan 300 km.

Bahkan suku-suku di pedalaman akan menghabiskan waktu tempuh kurang lebih selama 1 hingga 2 hari, agar dapat mencapai daerah pemukimannya.

Nama Rumah Adat Suku Asmat

Suku Asmat mempunyai rumah adat yang terbagi menjadi dua jenis. Rumah tersebut pun bahkan memiliki peran dan fungsinya masing-masing dalam memelihara budaya Suku Asmat.

Adapun dua jenis rumah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tysem

Rumah adat Tysem suku Asmat

roomah.id

Rumah keluarga atau nama lain dari Rumah Tysem ini mempunyai fungsi sebagai tempat tinggal bagi yang telah berkeluarga.

Rumah adat itu pun pada umumnya dihuni oleh  2 hingga 3 keluarga, terdiri atas keluarga inti senior sebanyak 1 keluarga, keluarga junior 2-3 keluarga.

Jumlah anggota keluarga inti sendiri biasanya terdapat 4-5 orang atau bisa juga 8-10 orang. Rumah adat satu ini diletakkan di sekeliling Rumah Jew.

Hal itu dilakukan karena Tysem berukuran lebih kecil, yaitu 3 x 4 x 4 meter.

Kesamaan antara rumah adat Jew dan Tsem yaitu terletak pada bentuknya berupa rumah panggung, tidak menggunakan materi pembangunan seperti paku saat proses pembangunannya.

Hal itu dikarenakan hanya memakai bahan-bahan pilihan alami dari hutan.

Baca juga : Tempat Wisata di Papua Terbaik

2. Jew

rumah adat Jew suku Asmat

Ricky Martin/National Geographic Indonesia, nationalgeographic.grid.id

Suku Asmat mempunyai rumah adat Jew atau yang sering disebut dengan rumah adat Bujang, berbentuk panggung, yang pada umumnya memiliki luas sekitar 10 hingga 15 meter.

Namun panjangnya ada yang mencapai hingga 50 meter, sementara lebar rumahnya belasan meter.

Perlu Anda ketahui bahwa rumah adat Jew Suku Asmat memiliki posisi istimewa pada struktur masyarakatnya.

Hal itu dikarenakan rumah adat dibangun demi kepentingan khusus, terutama pada saat melaksanakan kegiatan bersifat tradisional atau berdasarkan ketentuan adat setempat.

Rumah adat ini pun dipilih sebagai tempat membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan para warganya.

Mulai dari rapat untuk acara adat, pembuatan kerajinan tangan berupa ukiran kayu dan lainnya, hingga pengambilan keputusan menyangkut desa.

Bahkan bisa juga sekaligus menyangkut tempat tinggal bujang-bujang Suku Asmat, sehingga masyarakat setempat mengenalnya sebagai rumah bujang.

Fungsi rumah adat Jew di antaranya:

  • Tempat upacara keagamaan.
  • Tempat yang sakral, sehingga terdapat aturan-aturan harus dipahami dan dipelajari masyarakat sukunya, bahkan termasuk syarat pembangunan rumah adat Jew.
  • Tempat penyimpanan senjata suku, seperti panah, tombak, noken berupa tas dari anyaman serat-serat tumbuhan.

Masyarakat Asmat percaya bahwa noken tidak boleh disentuh oleh sembarang orang, karena dipercaya bisa memberikan kesembuhan terhadap berbagai jenis penyakit dengan syarat tertentu.

Berikut ini hal-hal yang berhubungan dengan Jew milik Suku Asmat, yaitu:

  • Jew terbuat dari bahan dasar kayu dan selalu berdiri menghadap menuju ke arah sungai.
  • Luas pada umumnya sekitar 10 x 15 meter.
  • Kayu besi dijadikan sebagai tiang penyangganya, kemudian diukir dengan seni ukir dari Asmat.
  • Daun sagu dipilih sebagai atap untuk rumah, namun harus sudah dianyam terlebih dahulu sebelum menggunakannya.
  • Memakai akar tumbuhan dan rotan karena tidak menggunakan berbagai bahan bangunan.

Pakaian Adat Suku Asmat

Koteka Suku Asmat Papua

Koteka, via bataswaktu.com

Pakaian adat di Asmat secara umumnya sama, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Mereka memakai bawahan seperti rok dari rajutan daun sagu kemudian dirapikan hingga menyerupai rok.

Penutup untuk bagian kepala dibuat dari daun sagu yang dirajut, serta dipenuhi bulu kasuari.

Suku tersebut memakai pakaian adat berupa rumbai-rumbai dengan tujuan untuk menutup bagian tertentu. Rumbai-rumbai itu dibuat dari pemanfaatan daun sagu.

Bahasa yang Dipakai Oleh Suku Asmat

Masyarakat Suku Asmat menggunakan bahasa yang dibedakan berdasarkan pada tempat tinggalnya, yaitu di hilir dan di hulu sungai.

Bahkan para ahli bahasa membagi bahasa suku ini berdasarkan sub kelompok Pantai Flamingo (sebelah barat laut) dan Pantai Kasuarina (sebelah barat daya).

1. Sub Kelompok dari Pantai Flamingo atau Sebelah Barat Laut

Bahasa yang digunakan:

  • Bisman
  • Kaniak
  • Becembub
  • Simay

2. Sub Kelompok dari Pantai Kasuarina atau sebelah Barat Daya

Bahasa yang digunakan:

  • Batin
  • Sapan

Ciri Khas dari Suku Asmat

Masyarakat Asmat memiliki ciri khas berupa tutang atau tato pada tubuhnya.

Tato tersebut pun mempunyai makna yang berhubungan erat dengan tujuan atau suatu kejadian, sehingga pembuatan tutang ini tidak dilakukan secara sembarangan.

Kebudayaan yang Dimiliki Suku Asmat

Kebudayaan Suku Asmat Papua

travel.okezone.com

1. Adat Istiadat yang Dimiliki

  • Acara Kehamilan

Selama masih berlangsung proses kehamilan, calon bayi akan terus dijaga dengan baik. Hal itu bertujuan agar lahir ke dunia dengan selamat atas bantuan dari ibu mertua dan ibu kandung.

  • Kelahiran

Setelah sang bayi lahir, tidak lama setelahnya akan dilakukan upacara selamatan yang digelar secara sederhana. Acara itu pun dilakukan dengan pemotongan tali pusar menggunakan sembilu, alat dari bambu.

Kemudian bayi akan diberikan ASI sampai dengan berusia 2 atau 3 tahun.

  • Pernikahan

Upacara pernikahan dapat berlangsung apabila pemuda tersebut telah memasuki usia 17 tahun, yaitu dilakukan setelah pihak orang tua pria mencapai kesepakatan serta menguji keberanian dalam membeli wanita.

Hal tersebut dilakukan dengan mas kawin dari piring antik.

  • Kematian

Suku Asmat mempunyai adat istiadat tentang kematian seseorang dengan penguburan jenazah pada masyarakat umum.

Namun hal itu berbeda dengan perlakuan jenazah pada kepala adat, jenazah akan disimpan dalam bentuk mumi serta dipajang di Joglo depan.

Seluruh proses tersebut dijalankan dengan iringan nyanyi-nyanyian dengan menggunakan Bahasa Asmat.

Selain itu juga dilakukan pemotongan pada ruas jari anggota keluarga yang telah ditinggalkan jenazah.

2. Kesenian

Suku Asmat memang dikenal akan kemahirannya dalam mengukir suatu kayu maupun patung.

Setiap ukurannya pun mempunyai gambaran akan besarnya penghargaan nenek moyang dari suku meskipun pola ukiran tidak jelas.

Anda bisa melihat secara kasat mata bahwa ukirannya membentuk perahu, manusia, atau perisai (gembes).

Selain budaya-budaya di atas, Suku Asmat juga memiliki kesenian berupa alat musik khusus untuk acara penting, yaitu ti’a.

Ti’a sendiri ternyata memiliki bentuk memanjang seperti gendang. Bahkan Ada ukiran pada permukaannya, lambangnya berasal dari patung Bis karena dianggap sakral.

Ti’a seringkali dimainkan saat mengiringi tarian tradisional masyarakatnya, seperti tari Perang dan Kobe.

Baca juga: Suku Dani dan Kebudayaannya

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close