Suku Sasak dan Kebudayaannya

Deskripsi: Sejarah dan daerah asal Suku Sasak, karakteristik, pakaian dan rumah adat, bahasa dan kebudayaannya.


Siapa yang belum pernah mendengar nama Pulau Lombok?

Selain terkenal karena menawarkan pemandangan alam super eksotis, Lombok juga memiliki kekayaan budaya unik dan menarik yang disuguhkan oleh penduduk lokalnya, yang tidak lain adalah Suku Sasak.

Kehidupan tradisional masyarakat Sasak masih dapat disaksikan hingga sekarang, tepatnya di Desa Sade, yang merupakan kawasan cagar budaya di Lombok Tengah.

Desa Sade ini dihuni oleh kurang lebih 700 orang penduduk Sasak yang masih melaksanakan tradisi warisan leluhur.

Sejarah dan Daerah Asal Suku Sasak

Sejarah dan Daerah Asal Suku Sasak

seputarpernikahan.com

Suku Sasak adalah suku asli dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurut catatan sejarah, penduduk Sasak telah menghuni Lombok selama berabad-abad, tepatnya 4.000 tahun sebelum Masehi.

Sementara itu, secara etimologi “Sasak” diambil dari kata “Sak-Sak” atau utama.

Hal tersebut erat hubungannya dengan Kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, di mana terdapat catatan mengenai kekuasaan Majapahit pada abad ke-14 M, dan terdapat ungkapan tentang “Lombok Sasak Mirah Adi” yang artinya “Kejujuran merupakan permata utama”.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan kalau banyak pihak yang meyakini jika leluhur dari suku ini adalah penduduk dari Pulau Jawa.

Selain itu, masyarakat Sasak juga sangat identik dengan memakai baju batik dalam berbagai kesempatan, meskipun corak batiknya berbeda.

Ciri Khas Masyarakat Sasak

Ciri Khas Suku Sasak

wartantb.com

Masyarakat Sasak memiliki beragam keunikan yang menjadi ciri khasnya. Di bawah ini adalah beberapa sisi unik orang-orang Sasak yang perlu diketahui:

  • Nilai-nilai dan kearifan lokal masih sangat kental di kalangan masyarakat Sasak.
  • Umumnya bangunan rumah dibuat dengan atap lebih pendek di sisi depan. Dalam adat Sasak, hal ini erat kaitannya dengan budaya saling menghormati, khususnya dari tamu ke tuan rumah.
  • Dalam tradisi Sasak, biasanya pasangan suami istri akan tidur terpisah. Terutama yang telah mempunyai anak.
  • Bersikap ramah tamah terhadap tamu.
  • Bagi penduduk Sasak yang masih memegang teguh nilai tradisional, maka setiap keluarga diwajibkan memiliki alat tenun dari kayu.
  • Sebagian besar masyarakat Sasak bekerja sebagai petani.
  • Memiliki logat khas yang hampir mirip dengan dialek Bali dan Sumbawa.

Bahasa Suku Sasak

Suku Sasak menggunakan Bahasa Sasak untuk berkomunikasi sehari-hari. Sasak hampir sama dengan bahasa dari Suku Samawa, Bima, dan Sulawesi Tenggara (Bahasa Tolaki).

Sebagaimana bahasa tradisional lain, Sasak juga terbagi atas 2 tingkatan, yaitu formal dan non formal.

Uniknya, bahasa Sasak terdiri atas 5 dialek berbeda yang dibedakan berdasarkan pada wilayah tempat tinggal.

Jadi, jangan heran apabila antara orang Lombok yang berasal dari daerah berbeda tidak memahami bahasa Sasak dari daerah lainnya.

Berikut ini adalah dialek Sasak yang digunakan:

  • Kuto Kute >> Lombok Utara
  • Ngeto Ngete >> Lombok Timur
  • Meno Mene >> Lombok Tengah
  • Ngeno Ngene >> Lombok Timur Tengah dan Barat Tengah
  • Mriak Mriku >> Lombok Selatan Tengah

Meskipun bukan merupakan bahasa resmi, namun sebagian besar masyarakat Lombok selalu menggunakan bahasa ini.

Bahkan, faktanya di kawasan pedesaan masih banyak yang tidak bisa berbahasa Indonesia, khususnya orang-orang lanjut usia, di mana hanya bisa berbicara Sasak.

Baca juga: Sejarah dan Kebudayaan Suku Toraja

Nama Pakaian Adat Suku Sasak

Pakaian Adat Suku Sasak

mobillombok.com

Pakaian adat Suku Sasak dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu pakaian adat untuk laki-laki (pegon) dan pakaian perempuan (lambung).

Biasanya, pakaian adat dikenakan lengkap dengan berbagai aksesoris yang menjadi ciri khasnya. Untuk penjelasan lengkapnya bisa simak di bawah ini.

1. Pakaian Adat Pria (Pegon)

Pegon adalah baju dengan model yang kental akan pengaruh budaya Jawa dan Eropa.

Pakaian ini identik dengan warna gelap tanpa motif serta dilengkapi berbagai atribut dengan makna berbeda, namun tetap memiliki lambang sebagai keagungan dan kesopanan.

Perlengkapan pegon terdiri atas Sapuk atau mahkota yang dikenakan di atas kepala. Kemudian ada leang (dodot) yang merupakan kain songket tempat menyelipkan keris.

Cara mengenakan leang adalah dengan dililitkan di sekitar pinggang.

Dalam adat Sasak, keris harus diletakkan dalam posisi bagian muka menghadap ke depan, karena keris merupakan lambang ksatria.

Selain itu, ada juga selendang umbak yang dilambangkan sebagai kebijaksanaan dan kasih sayang pemakainya. Selendang umbak biasanya hanya dipakai oleh pemangku adat.

Selendang sepanjang empat meter berwarna hitam dan merah, yang dihiasi kepeng bolong ini dibuat khusus dengan sebuah ritual keluarga Sasak.

Oleh karena itu, tidak bisa dipakai sembarang orang.

2. Pakaian Adat Wanita (Lambung)

Lambung atau pakaian adat wanita Lombok terdiri atas 2 jenis, yaitu:

  • Jenis Tangkong dan Tongkak

Tangkong terbuat dari brokat atau beludru gelap. Biasanya dikenakan dengan tongkak atau kain sabuk panjang yang dikenakan dengan cara dililitkan di pinggang, dan ujung rumbainya di sisi kiri.

Kemudian dilengkapi pangkak (mahkota emas).

Bagi masyarakat Sasak kuno, tangkong adalah lambang keagungan perempuan. Sedangkan tongkak lambang kepatuhan terhadap Tuhan YME, serta pengabdian pada orang tua, dan suami bagi yang sudah menikah.

Namun, seiring perkembangan zaman, pangkak sudah mulai jarang digunakan dikarenakan sebagian besar perempuan Sasak telah mengenakan jilbab yang merupakan lambang menjaga kesucian kaum wanita.

  • Lempot

Selanjutnya adalah lempot atau kain tenun panjang bermotif khas Lombok, dan cara mengenakannya adalah dengan dilampirkan di bahu kiri.

Lempot dipasangkan dengan kereng (tenun songket yang dililitkan mulai pinggang hingga mata kaki).

Lempot dipakai dengan aksesoris kalung dan giwang etnik dan ikat pinggang rantai perak. Lempot merupakan lambang kasih sayang, sementara kereng adalah lambang kesopanan sikap dan kesuburan tubuh.

Rumah Adat Suku Sasak

Rumah adat Suku Sasak

grid.id

Rumah adat Suku Sasak disebut Bale. Bentuk rumah ini sangat unik, terutama karena bagian lantainya terbuat dari kombinasi material, seperti tanah liat, abu jerami, dan kotoran kerbau.

Bangunan Bale tradisional ini dapat dilihat di kawasan cagar budaya Desa Sade (Lombok Tengah).

Bagian dinding bangunan biasanya dibuat dari anyaman bambu, dengan beratapkan alang-alang berbentuk gunungan yang menjadi ciri khasnya.

Secara umum, Bale terdiri atas 3 jenis, antara lain:

  • Bale Bonter (untuk petinggi suku).
  • Bale Kodong (tempat tinggal pengantin baru/orang tua yang ingin menikmati masa tua).
  • Bale Tani (khusus untuk pasangan yang sudah berkeluarga).

Baca juga: Pantai Terindah di Lombok

Kebudayaan dan Tradisi Sosial

Tradisi dan Kebudayaan Suku Sasak

Salah satu kebudayaan atau tradisi masyarakat Sasak yang paling terkenal adalah kawin lari.

Jadi, apabila seorang laki-laki hendak menikahi seorang perempuan atas dasar suka sama suka, maka laki-laki tersebut harus menculik pasangannya dan menyembunyikannya di rumah kerabat pria.

Sehari setelahnya, pihak keluarga pria akan mengirimkan utusan kepada keluarga perempuan untuk memberitahukan orang tua calon pengantin perempuan mengenai keberadaan anaknya, serta tujuan penculikan.

Proses memberi informasi ini disebut dengan nama Nyelabar.

Selain itu, suku ini juga masih menjaga tradisi menggelar upacara adat di waktu tertentu, seperti Bau Nyale, yang merupakan tradisi untuk menangkap cacing laut di batu karang.

Penduduk Sasak Ende mempercayai, bahwa Nyale adalah jelmaan Putri Mandalika.

Meskipun zaman sudah semakin modern, namun penduduk Sasak masih melestarikan tradisi berburu menggunakan senjata tradisional yang disebut Tulup dan Klewang.

Suku Sasak memang memiliki pikiran terbuka dan sangat welcome dengan dunia luar. Namun, konsistensi dan kesadaran masyarakat Sasak dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal patut diberi apresiasi.

Apalagi, rasa bangga terhadap tradisionalitas seolah dimiliki oleh semua generasi.

Baca juga: Tempat Bulan Madu di Lombok

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close