Sejarah Tari Bedhaya Ketawang, Daerah Asal, Makna, Pola Lantai, dan Properti

Deskripsi: Pengertian dan sejarah Tari Bedhaya Ketawang, daerah asal, makna, pola lantai, dan properti.


Bagi Anda yang tinggal daerah Yogyakarta tentu sudah tidak asing lagi dengan tari Bedhaya Ketawang, bukan?

Tari tradisional yang berasal dari lingkungan kraton ini dianggap sebagai tarian sakral yang digelar pada acara-acara tertentu.

Karena kesakralannya inilah yang membuat tarian Bedhaya hanya bisa dilakukan oleh para penari yang terpilih alias tidak boleh sembarangan.

Mari simak ulasan berikut ini untuk mengenal tarian Bedhaya Ketawang secara lebih jelas.

 

tari bedhaya ketawang

tintapendidikanindonesia.com

Daerah Asal Tari Ketawang dan Sejarahnya

Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian tradisional asal Jawa Tengah dan Yogyakarta, tepatnya lingkungan kraton.

Tari ini diperkirakan mulai muncul sekitar 1612-1645 ketika masa kerajaan Mataram. Karena menjadi salah satu tarian kraton, tarian Bedhaya Ketawang tergolong tari yang sakral.

Tarian ini hanya bisa dilakukan oleh penari yang dipilih secara khusus berjumlah 9 orang. Pada saat itu, tarian ini akan digelar di hadapan raja ketika raja berulang tahun, diwisuda, atau perayaan penting lainnya.

Pemilihan penari berjumlah 9 orang ini juga bukan tanpa tujuan, karena angka 9 melambangkan kesempurnaan hidup manusia sebelum ia mengalami kematian.

Selain itu, angka 9 juga melambangkan jumlah warna pelangi dan jumlah mata angin yang dikuasai dewa.

  • Utara : Batara Wisnu
  • Timur Laut : Batara Sumbu
  • Timur : Batara Iswara
  • Tenggara : Batara Mahasora
  • Selatan : Batara Brahma
  • Barat Daya : Batara Rudra
  • Barat : Batara Mahadewa
  • Barat Laut : Batara Sengkara
  • Tengah : Batara Siwa
Kesenian Tari Bedhaya Ketawang

bedhaya.blogspot.com

Makna Tari Bedhaya Ketawang

Sebagai tarian sakral yang mengandung nilai-nilai luhur, tarian Bedhaya memiliki beberapa makna.

Berikut ini makna yang terkandung dalam tarian Bedhaya Ketawang

1. Sakral

Menurut kepercayaan yang diyakini oleh Keraton Surakarta, beberapa orang yang peka terhadap kekuatan supranatural dan hal-hal gaib dapat melihat adanya kehadiran Nyi Roro Kidul baik dalam setiap latihan maupun pementasan.

Bahkan ketika ada penari yang salah, Nyi Roro Kidul akan membetulkan gerakan yang salah tersebut.

Namun, bagi orang-orang biasa yang tidak memiliki kepekaan terhadap hal-hal gaib dan mistis, mereka tidak akan merasakan atau melihat kehadiran Ratu Selatan tersebut.

2. Religius

Selain mengandung makna yang sakral, tarian Bedhaya Ketawang juga mengandung makna religius di mana tarian ini akan mengingatkan kepada manusia tentang hubungan dengan Tuhan dan kematian.

Hal ini dibuktikan dari lirik salah satu gending pengiring yang menjadi pengingat kematian manusia.

3. Adat dan Upacara

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, tarian Bedhaya merupakan tarian sakral yang hanya digelar pada acara-acara tertentu.

Bahkan dalam sejarah Keraton Surakarta, tarian Bedhaya Ketawang memiliki kedudukan sebagai tarian pusaka.

Karena berkaitan erat dengan adat dan upacara, ketika tari ini dipentaskan para tamu undangan tidak diperkenankan untuk berbicara sama sekali.

Hidangan makanan juga tidak boleh dikeluarkan terlebih dahulu sampai tarian selesai ditampilkan.

4. Ungkapan Cinta

Gerakan-gerakan dalam tari Bedhaya memiliki makna ungkapan cinta dari Nyi Roro Kidul kepada Panembahan Senopati.

Gerakan-gerakannya yang sengaja dibuat selembut dan segemulai mungkin ini bertujuan agar orang awam tidak menyadarinya.

Untuk penampilan para penari sendiri sengaja dirias seperti mempelai wanita dalam pernikahan adat Jawa lengkap dengan busananya.

Seni Tari Bedhaya Ketawang

inibaru.id

Sejarah Tarian Bedhaya Ketawang

Ada dua versi yang beredar di masyarakat mengenai sejarah tari Bedhaya Ketawang.

Ada yang mempercayai bahwa Awal mula kemunculan tari Bedaya ini diperkirakan sejak masa Kerajaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung.

Kemunculan tarian ini berawal ketika beliau melakukan ritual semedi di mana beliau mendengar suara senandung yang merdu dan membuatnya terkesan.

Beliau kemudian memanggil para pengawalnya dan menceritakan hal yang terjadi padanya, hingga terciptalah tarian Bedhaya Ketawang.

Versi lain mengatakan bahwa tarian Bedhaya ini merupakan tarian yang muncul pada saat pemerintahan Panembahan Senopati.

Ketika itu, beliau sedang bersemedi di Laut Selatan dan bertemu dengan Ratu Pantai Selatan yaitu Nyi Roro Kidul.

Tarian ini tercipta sebagai ungkapan cinta dari Nyi Roro Kidul kepada Panembahan Senopati yang digambarkan dalam gerakan-gerakannya yang lembut dan gemulai.

Pola Lantai Tari Bedhaya

Tari Bedhaya menggunakan beberapa pola lantai seperti rakit lajur, iring-iringan, lumebet lajurdan lain-lain.

Berikut ini penjelasan selengkanya mengenai pola lantai yang digunakan dalam tarian Bedhaya Ketawang.

  • Rakit lajur merupakan pola lantai yang melambangkan perwujudan manusia secara lahiriah yang terdiri dari 3 bagian tubuh yaitu kepala, badan, dan anggota gerak tubuh.
  • Iring-iringan merupakan pola lantai yang menggambarkan proses hidup batiniah di mana dalam praktik kehidupan sehari-hari terjadi ketidaksesuaian antara pikiran dengan keinginan.
  • Ajeng-ajengan merupakan pola lantai yang menggambarkan siklus kehidupan bahwa manusia memiliki sifat dan takdir di mana ia selalu dihadapkan pada dua pilihan yaitu baik dan buruk.
  • Lumebet lajur merupakan pola lantai yang melambangkan sikap manusia yang patuh dan taat pada norma-norma yang berlaku di dalam kehidupan bermasyarakat.
  • Endhel-endhel apit medal merupakan pola lantai yang memberi gambaran sikap ketidakpuasan manusia yang kadang-kadang kurang bersyukur dan selalu menginginkan kebebasan terhadap aturan-aturan yang ada.
  • Rakit tiga-tiga merupakan pola lantai yang melambangkan perputaran pikiran manusia yang diawali dengan pikiran yang teguh/tetap, goyah, dan mencapai kesadaran hingga sampai pada kemanunggalan atau penyatuan.

Gerakan Tarian Bedhaya Ketawang

Sebagai salah satu tarian yang sakral, gerakan dalam tarian Bedhaya Ketawang harus memiliki nilai yang tinggi sehingga mampu menciptakan dan memberikan suasana teduh, tenang, dan khidmat.

Gerakan-gerakan tari Bedhaya menjadi gambaran kepribadian putri-putri keraton yang lembut.

Gerakan tari Bedhaya yang lembut menjadi gambaran gerak-gerik dan tingkah laku wanita Jawa yang penuh rasa sopan dan santun.

Tari Bedhaya Ketawang dalam pementasannya akan diiringi dengan gending ketawang gedhe bernada pelog.

Alat musik yang digunakan meliputi kendang, kemanak, kenong, kethuk, gong, dan tambahan alat musik lain seperti rebab, gender, gambang, dan suling.

Tembang lagu yang digunakan untuk iringan tari Bedhaya menggambarkan perasaan cinta Nyi Roro Kidul yang menggoda raja-raja Mataram.

Tari Bedhaya

pinterest.com

Properti Penari Bedhaya Ketawang

Dalam pementasan tari Bedhaya Ketawang, para penari harus menggunakan kostum dan properti khusus. Properti penari Bedhaya Ketawang antara lain sebagai berikut.

  • Dodot ageng merupakan kostum penari Bedhaya Ketawang yang berupa baju basahan yang dominan warna hijau dan biasa digunakan oleh pengantin wanita Jawa. Baju basahan ini juga dilengkapi dengan kain cindhe dan ikat pinggang dari sampur cindhe motif cakar warna merah.
  • Gelungan bokor mengkurep merupakan jenis gelungan rambut yang bentuknya seperti mangkuk terbalik dan ukurannya sedikit lebih besar dibandingkan dengan model sanggul Yogyakarta.
  • Centhung merupakan sepasang hiasan kepala yang bentuknya seperti gapura.
  • Garuda mungkur merupakan properti yang digunakan di bagian bawah sanggul bokor mengkurep dan terbuat dari bahan swasa yang bertaburan intan.
  • Perhiasan berupa cincin, gelang, dan bros yang terbuat dari logam berwarna keemasan.
  • Sisir jeram saajar
  • Cundhuk mentul adalah aksesori berupa bunga goyang berjumlah 9 yang menggambarkan walisongo.
  • Tiba dhadha adalah bunga melati yang dironce/dirangkai untuk hiasan gelungan yang menjuntai sampai dada di bagian sisi kanan.

Ulasan mengenai tari Bedhaya Ketawang seperti yang sudah dijelaskan di atas dapat menambah wawasan Anda. Tarian ini juga menjadi salah satu kesenian yang membanggakan dan menambah daftar kekayaan budaya Indonesia.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close