Kerajaan Mataram Islam, Sejarah, Perkembangan dan Peninggalannya

Kerajaan Mataram Islam adalah kesultanan Islam di pulau Jawa yang berdiri sekitar abad ke-17 M.

Sebenarnya, Kesultanan Mataram telah berdiri sejak abad 16 M, tapi baru menjadi negara yang berdaulat pada abad 17 M dengan dipimpin oleh wangsa atau keluarga, yaitu Wangsa Mataram.

Pada masa kejayaannya, Mataram Islam pernah mempersatukan pulau Jawa, kecuali kawasan Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Banten, termasuk Madura.

Mataram adalah salah satu kerajaan agraris dengan pengaruh agama Islam terbesar pada masanya, khususnya di Jawa.

kerajaan mataram islam

Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Ada beberapa bukti peninggalan sejarah dari Kesultanan Mataram yang masih bisa disaksikan hingga saat ini.

Melalui warisan arkeologis tersebut pula, para ahli lebih mudah menarik benang simpul mengenai keberadaan kerajaan tersebut secara lebih runtut.

Di bawah ini adalah beberapa contoh peninggalan Mataram Islam:

1. Masjid Agung Gedhe Kauman

Masjid yang terletak di sisi barat Alun-alun Utara Yogyakarta ini didirikan di Kampung Kauman, Gondomanan dan cukup famous sampai saat ini.

Disebutkan, bahwa masjid ini mempunyai sebuah gedung induk dengan 1 ruang utama yang difungsikan tempat shalat.

Masjid Agung memiliki kaitan yang erat dengan Kasultanan Yogyakarta, karena pendirinya tidak lain adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I, tepatnya pada tahun 1773 M.

Di halaman masjid juga terdapat maksura, dan pagongan atau tempat penyimpanan gong.

2. Masjid Pathok Negoro Plosokuning

Masjid yang didirikan di Desa Minomartani, Sleman ini dibangun di atas tanah seluas 228 meter persegi.

Pendirinya ialah Kiai Mursodo (keponakan Sultan Hamengkubuwono I), di tahun 1724 M.

3. Masjid Kotagede

Seperti namanya, masjid ini berlokasi di area Selatan Pasar Kotagede, Provinsi Yogyakarta. Usia Masjid Kotagede lebih tua dibandingkan Masjid Agung.

Pembangunan dilakukan sekitar tahun 1640 M dengan pola gapura rana atau kelir.

4. Situs Pleret

Letak situs Keraton Pleret diduga tidak jauh berada di Masjid Kauman Pleret. Diketahui, bahwa masjid tersebut dulunya adalah bagian Keraton Pleret yang dibangun oleh Sultan Amangkurat II. Situs ini dibangun menggunakan material batu bata.

5. Masjid Al Fatih Kepatihan Solo

Peninggalan lain dari Kerajaan Mataram Islam adalah Masjid Al Fatih Kepatihan Solo. Masjid ini dibangun pada tahun 1891 M, oleh Raden Adipati Sosrodiningrat IV untuk mahar lamaran Paku Buwono X pada istrinya.

6. Masjid Agung Surakarta

Terletak di sebelah barat Alun-alun Utara Kesultanan Surakarta, Masjid Agung dibangun Paku Buwono III di tahun 1763 M.

Arsitektur yang diaplikasikan pada masjid masih dipengaruhi Jawa Kuno serta Belanda, ini dapat dilihat dari tempelan prasasti Jawa Kuno.

7. Situs Kerto

Menurut perkiraan, Situs Kerto yang berbentuk umpak dengan diameter 85 cm x 85 cm ini ditemukan di Dukuh Kerto, Pleret, Bantul ini dibuat saat Kesultanan Mataram ada masa kejayaan.

Tepatnya di bawah pemerintahan Sultan Hanyakrakusuma.

Sejarah Berdirinya Mataram Islam

Di masa awal, Mataram merupakan sebuah daerah kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang.

Daerah tersebut adalah hadiah dari Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), kepada Ki Ageng Pemahan karena telah berhasil membantunya menumpas Aria Penangsang.

Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan di tahun 1575 M, posisinya digantikan putranya, yaitu Sutawijaya.

Namun, Sutawijaya tidak puas hanya dengan menjadi bupati, ia ingin jadi raja dan menguasai seluruh kawasan pulau Jawa. Ambisi tersebut akhirnya memantik peperangan di 1528 M.

Setelah Sultan Hadiwijaya wafat, Danang Sutawijaya menjadi Raja Pajang bergelar Panembahan Senapati.

Di masa tersebut, lingkupan kawasannya hanya di sekitar Jawa Tengah, dengan pusat pemerintahannya di Kotagede, kira-kira sebelah timur dari Kota Yogyakarta.

Masa Keemasan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam mengalami masa kejayaan saat berada di bawah kepimpinan Raden Mas Rangsung atau Sultan Agung.

Periode pemerintahannya dimulai pada tahun 1713 M – 1645 M. Di masa tersebut pula bidang budaya serta perdagangan Kesultanan Mataram semakin maju pesat.

Selain itu, wilayah kekuasaan Mataram juga diperluas hingga meliputi sebagian besar Pulau Jawa serta Madura.

Namun, di masa tersebut juga terjadi pemindahan letak Kraton karena gesekan kawasan perdagangan antara VOC di Batavia, dan Kesultanan Mataram.

Kemunduran Mataram Islam

Masa kemunduran Mataram Islam bermula pada masa kekuasaan Amangkurat I, dimana kerajaan menjadi tidak stabil dikarenakan konflik internal yang muncul akibat ketidakpuasan serta pemberontakan.

Di masa kepemimpinannya juga, terjadi pemberontakan besar Trunajaya.

Hal tersebut pula yang memaksa Amangkurat I untuk bekerjasama dengan VOC. Sedangkan penggantinya, yaitu Amangkurat II sangat patuh kepada VOC yang menjadi pemicu pemberontakan. Di masa itu juga, terjadi pemindahan keraton ke Kartasura.

Namun, kekacauan tersebut dapat diselesaikan di era kepemimpinan Pakubuwana III. Tepatnya setelah kekuasaan Mataram dibagi atas 2 bagian, yakni Kesultanan Ngayogyakarta, serta Kasunan Surakarta pada bulan Februari tahun 1755 M.

Pembagian tersebut tertuang pada Perjanjian Giyanti, yang merupakan nama letak penandatanganan di sisi timur Karanganyar, Jawa Tengah. Masa tersebut menjadi tanda berakhirnya Kerajaan Mataram Islam sebagai sebuah wilayah kesatuan politik.

Letak Mataram Islam

Berdasarkan catatan sejarah, Nagari Kasultanan Mataram pada awalnya beribukotakan Kutha Gedhe di tahun 1588 M – 1613 M.

Kemudian dipindahkan ke Karta pada 1613 M – 1647 M, dan terakhir Plered, Bantul 1674 M – 1681 M, yang menjadi bukti bahwa kerajaan tersebut ada di Yogyakarta.

Silsilah Raja-raja Mataram Islam

Sebelum terpecah belah menjadi dua bagian, Kesultanan Mataram yang berdaulat dipimpin oleh beberapa orang raja keturunan Ki Ageng Pemanahan, yang merupakan pendiri kerajaan serta Wangsa Mataram.

Di bawah ini adalah daftar raja-raja dari Mataram Islam:

1. Raden Mas Danang Sutawijaya

Pendiri sekaligus penguasa pertama Mataram yang bergelar Panembahan Senopati ini naik takhta di tahun 1584 M – 1601 M (kurang lebih 14 tahun). Sutawijaya diangkat sebagai pemimpin baru di Mataram oleh Sultan Hadiwijaya sendiri.

2. Raden Mas Jolang

Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati yang merupakan anak Panembahan Senopati naik takhta menggantikan ayahnya pada tahun 1601 sampai wafat 12 tahun setelahnya, tepatnya 1613 M.

3. Raden Mas Wuryah

Pangeran Arya Martapura hanya memerintah Kesultanan Mataram dalam 1 hari saja. Anak Panembahan Hanyakrawati ini turun takhta sehari setelah ia diangkat menjadi raja.

4. Raden Mas Rangsang

Sri Susuhunan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma merupakan adik tiri Pangeran Arya Martapura. Ia naik takhta di usia 20 tahun untuk menggantikan sang adik yang menderita tunagrahita.

Raden Rangsang berkuasa selama 32 tahun, dari 1613 M – 1645 M.

5. Raden Mas Sayidin

Raja bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Amangkurat I ini adalah anak Sultan Agung Hadi Prabu. Masa pemerintahannya berlangsung selama sekitar 31 tahun, dimulai sejak 1646 M – 1677 M.

Setelah wafatnya Sultan Amangkurat I, perpecahan tidak dapat terhindarkan. Hal tersebut pula yang menjadi tonggak berakhirnya kedaulatan Kerajaan Mataram Islam.

Meskipun begitu, trah atau pewaris wangsa Mataram masih berkuasa hingga saat ini, tepatnya di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Surakarta Hadiningrat.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close