Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Puncak Kejayaan dan Peninggalannya

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Sejarah Berdirinya, Puncak Kejayaan Sriwijaya dan Raja-rajanya.


Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim Buddha paling berpengaruh yang berada di Pulau Sumatera.

Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya membentang mulai dari daratan Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Semenanjung Malaya, hingga Kamboja, dan Thailand.

Kerajaan bahari ini terkenal sebagai penguasa pusat perdagangan di jalur Selat Malaka, yang membuat relasinya begitu besar dan menyebar luas, terutama dengan raja-raja di Jawa.

Namun di sisi lain, eksistensi Sriwijaya sendiri masih banyak dijadikan perdebatan oleh berbagai pihak.

kerajaan sriwijaya

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Meskipun sejarah eksistensi Kerajaan Sriwijaya masih menjadi bahan perbincangan hangat sampai saat ini.

Namun, jejak peninggalan yang menjadi bukti fisik dan tak terbantahkan dari keberadaan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara tersebut masih eksis hingga sekarang.

  • Prasasti Kedukan Bukit – 682 M, berisi informasi tentang pendiri Sriwijaya, yaitu Dapunta Hyang.
  • Prasasti Talang Tuo – 684 M, menginformasikan nama raja pertama dengan lebih jelas, yakni Dapunta Hyang Sri Janayasa.
  • Prasasti Ligor, Thailand Selatan – 775 M, informasi mengenai pendirian kuil dan Raja Sri Indrawarman, dan Raja Dharanindra.
  • Prasasti Kota Kapur – 686 M, isinya tentang kutukan terhadap pemberontak.
  • Prasasti Telaga Batu, berisi kutukan pada pengkhianat.
  • Prasasti Leiden – 1005 M, menunjukan jalinan hubungan Sriwijaya dengan Cola, India Selatan.
  • Prasasti Nandala – 860 M, mencatat tentang Balaputradewa sebagai raja yang mendukung aktivitas belajar di Nalanda.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Awal mula berdirinya Sriwijaya masih menjadi suatu misteri yang sulit dipecahkan oleh para peneliti.

Hal tersebut dikarenakan tidak adanya susunan struktur genealogis pada sumber-sumber yang ditemukan, dan bukti fisik dari jejak peninggalan kerajaan tersebut juga sangat sedikit.

Menariknya, tidak ada orang Indonesia modern pernah mendengar mengenai Kerajaan Sriwijaya hingga tahun 1920-an, saat seorang sarjana dari Prancis, George Coedes menerbitkan hasil risetnya mengenai referensi Tiongkok, dimana “San-fo-ts’i” merujuk kekaisaran yang sama.

Dalam historiografi, catatan sejarah Sriwijaya diperoleh dari 2 sumber utama, yaitu keberadaan beberapa prasasti batu di Asia Tenggara, dan sejarah Tiongkok.

Salah satu catatan menyebutkan, bahwa biksu I Ching pernah mengunjungi kerajaan tersebut selama 6 bulan di tahun 671.

Berikut ini adalah rangkuman sejarah singkat Sriwijaya yang disepakati oleh sebagian ahli:

Pembentukan dan Pertumbuhan

Berdasarkan catatan I Tshing, Srijaya sudah ada sejak tahun 671 M. Sedangkan prasasti Kedukan Bukit tahun 682 M, ditemukan nama Dapunta Hyang, dan prasasti Talang Tua berahun 684 M memperjelas nama tersebut sebagai Dapunta Hyang Sri Janayasa.

Para ahli sepakat kedua prasasti tersebut adalah bukti mengenai pemimpin Sriwijaya di masa awal berdiri.

Sedangkan prasasti Kota Kapur 686 M yang ditemukan di Pulau Bangka menjadi bukti bahwa pada masa tersebut Sriwijaya telah berhasil menguasai Sumatera Selatan.

Masa Kejayaan

Seorang sejarawan era Arab klasik bernama Al Masudi juga menulis sebuah catatan mengenai Sriwijaya pada tahun 955 M.

Ia menggambarkan Sriwijaya sebagai kerajaan besar dan kaya raya, memiliki jumlah pasukan yang banyak dengan jangkauan wilayah sangat luas.

Sementara itu, dalam sejarah disebutkan bahwa Balaputradewa merupakan raja yang berhasil membawa Sriwijaya mencapai masa keemasan dengan menguasai Selat Malaka.

Pada dasarnya, kerajaan ini mengalami kejayaan hingga generasi Sri Marawijaya.

Kemunduran Sriwijaya

Setelah Sri Marawijaya wafat, penerusnya disibukkan dengan peperangan melawan Jawa. Hal tersebut terjadi sekitar tahun 922 M – 1016 M.

Sehingga tidak siap ketika harus menghadapi serangan Rajendra Chola (I) dari dinasti Chola, Koromandel, India Selatan.

Dalam prasasti Tanjore bertahun 1030 M disebutkan, bahwa Kerajaan Cola telah terlebih dahulu menaklukkan wilayah koloni Sriwijaya sebelum menyerang pusat, dan berhasil menawah Raja Sangrama Vijayottunggawarman.

Faktor lain yang menjadi penyebab melemahnya Sriwijaya adalah karena faktor alam.

Sungai Musi serta beberapa anak sungai lain mengalami pengendapan lumpur sehingga mengurangi jumlah kapal dagang yang singgah di Palembang, dan wilayah tersebut tidak lagi strategis.

Letak Kerajaan Sriwijaya

Lokasi persis berdirinya Kerajaan Sriwijaya masih dipersoalkan berbagai kalangan sampai saat ini.

Namun yang paling populer adalah pendapat dari G. Coedes, yang menyatakan bahwa pusat Sriwijaya berada di Palembang. Meskipun penemuan arkeologis di Palembang sangat minim.

Sementara itu, J.L Moens menyebutkan, bahwa pada awal berdirinya Sriwijaya berpusat di Kedah, kemudian pindah ke Muara Takus.

Ahli sejarah lain, Soekmono berpendapat jika Jambi merupakan lokasi strategis sebagai pusat Sriwijaya, sebab lokasinya berada di teluk menghadap lautan lepas.

Hingga hari ini, Palembang dianggap pusat Sriwijaya. Meskipun masih terjadi banyak ketidaksepahaman antara para peneliti.

Bahkan, Robert von Heine Geldern menyatakan, jika pusat dari kerajaan kuno di Asia Tenggara bukan berdasarkan kekuasaan teritorial, melainkan pengaruh.

Raja-Raja Sriwijaya

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa silsilah mengenai raja-raja dari Kerajaan Sriwijaya telah banyak terputus. Selain itu, bukti-bukti yang ditemukan juga dianggap kurang akurat.

Di bawah ini adalah nama-nama dari raja Sriwijaya yang telah disepakati ahli.

1. Dapunta Hyang (Sri Jayanasa)

Berdasarkan catatan dari perjalanan I Tsing di tahun 671 M – 685 M mengenai penaklukan Malayu dan penaklukan Jawa, serta prasasti Kedukan Bukit 683 M, prasasti Talang Tua 684, Palas Pasemah, prasasti Kota Kapur 686, dan Karang Brahi.

Disebutkan bahwa penguasa Sriwijaya saat itu adalah Dapunta Hyang, dengan ibu kota kerajaan di Srivijaya (Shih-li-fo-shih).

2. Rudra Wikrama (Liu T’eng Wei Kung)

Sumber dari utusan Tiongkok yang dikirim pada tahun 728 M – 742 M mengatakan, bahwa waktu itu Sriwijaya dipimpin oleh Rudra Wikrama.

3. Sri Indrawarman (Shih-li-t-‘o-pa-mo)

Sama seperti sebelumnya, bukti kepemimpinan Sri Indrawarman juga berasal dari laporan utusan Tiongkok yang tiba sekitar tahun 702 M – 724 M.

4. Sri Maharaja

Prasasti Ligor A bertahun 775 yang ditemukan di Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan menyebutkan tentang Sri Maharaja. Pada masa ini juga diyakini bahwa Sriwijaya mulai mengembangkan kekuasaannya ke Jawa Tengah (Yogyakarta).

5. Dharanindra (Rakai Panangkaran)

Dalam prasasti Kelurak 782 M di bagian utara kompleks Prambanan, dan prasasti Kalasan 778 M pada Candi Kalasan disebutkan bahwa Sriwijaya telah pindah ke Jawa.

6. Samaragrawira (Rakai Warak)

Berdasarkan sumber prasasti Mantyasih dan Nalanda bertahun 907 M, Sriwijaya masih berada di Jawa pada masa pemerintahan Rakai Warak, khususnya sekitar 782 M – 907 M.

7. Samaratungga (Rakai Garung)

Prasasti Karangtengah 824 M, dan 825 M tertulis mengenai penyelesaian pembangunan candi Borobudur.

8. Balaputradewa

Prasasti Nalanda bertahun 860 M yang ditemukan di India menyatakan bahwa pada masa ini Sriwijaya mulai kehilangan kuasa di Jawa, dan memutuskan kembali ke Swarnadwipa.

9. Sri Udayaditya Warmadewa dan Sri Cudamani Warmadewa

Mengirim utusan ke Tiongkok tahun 960 M, 962 M, 980 M, 983 M dengan raja hie-tche. Sedangkan kekuasaan Sri Cudamani bersumber dari utusan Tiongkok 988 M – 1003 M.

10. Sri Mara Vijayottunggawarman

Berkuasa sekitar tahun 1008 M berdasar prasasti Leiden, serta utusan Tiongkok 100 M.

11. Haji Sumatrabhumi

Memimpin di tahun 1017 M dari sumber utusan Tiongkok.

12. Sangrama Vijayottunggawarman

Sriwijaya diserang Rajendra dan tertulis pada prasasti Tanjore, dalam kurun waktu 1025 M – 1178 M.

13. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa

Sriwijaya berpusat di Dharmasraya di bawah kekuasaan Dinasti Mauli dan Kerajaan Melayu. Hal tersebut tertera pada prasasti Grahi bertahun 1183 di sisi selatan Thailand.

Kerajaan Sriwijaya pernah menguasai jalur perdagangan maritim terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-10.

Pada masa pertumbuhan dan kejayaannya, Sriwijaya bahkan berhasil mendominasi kerajaan-kerajaan lain di berbagai negara dan penjuru Nusantara, khususnya Jawa.

Baca juga: Kerajaan Majapahit

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close