Peninggalan-Peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia

Penganut agama Islam di Indonesia berjumlah lebih dari 80% dari seluruh penduduk. Agama Islam menjadi agama mayoritas karena dipengaruhi perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di masa lalu.

Maka, tidak heran jika banyak peninggalan-peninggalan kerajaan Islam di Indonesia.

peninggalan kerajaan islam di indonesia

Peninggalan-peninggalan Kerajaan Islam di Indonesia

Peninggalan sejarah dari kejayaan kerajaan Islam masih bisa Anda temui hingga sekarang. Peninggalannya bisa berupa benda hingga bangunan seperti masjid atau istana kesultanan.

Setiap kerajaan pasti meninggalkan warisan yang berbeda-beda di masing-masing daerah.

Agar Anda lebih mudah memahaminya, berikut peninggalan sejarah berdasarkan wilayah kekuasaan kerajaan Islam di Nusantara, di antaranya:

1. Peninggalan Kerajaan Mataram Islam (Berjaya dari Tahun 1588 M hingga 1680 M)

Penggingalan Masjid-masjid di Yogyakarta, Kerajaan Mataram memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas. Untuk bukti peninggalannya di daerah Istimewa Yogyakarta yakni:

  • Masjid Agung Gedhe Kauman
  • Masjid Kotagede
  • Masjid di Solo

Selain memiliki peninggalan masjid di Yogyakarta, Kerajaan Mataram juga meninggalkan bangunan masjid sebagai warisan di Kota Solo.

Setidaknya ada 3 masjid yaitu:

  • Masjid Pathok Negara Sulthoni Plosokuning
  • Masjid Agung Surakarta
  • Masjid Al Fatih Kepatihan Solo
  • Aksara Jawa

Tulisan aksara Jawa ternyata menjadi bagian dari warisan Kerajaan Mataram yang masih ada hingga sekarang. Tulisan ini juga diajarkan pada jenjang sekolahan mulai dari SD hingga SMA.

Bahkan, juga dipelajari oleh mahasiswa yang mengambil jurusan sastra, khususnya Jawa.

Anda bisa melihat langsung peninggalan naskah aksara Jawa tulisan tangan.

Cukup berkunjung ke beberapa museum di Jogja dan Solo, misalnya museum Sonobudoyo hingga Kirti Griya di daerah Taman Siswa, Jogja.

Meskipun tulisan aksara Jawa ini cukup sulit, namun sudah sepantasnya jika generasi muda mulai peduli dan melestarikan warisan leluhur ini.

Ada banyak manfaat jika Anda belajar tulisan Aksara Jawa, mulai dari sejarah tulisannya hingga kisah kerajaan di tanah Jawa.

2. Peninggalan Kerajaan Cirebon

  • Masjid Sang Cipta Rasa

Masjid besar Sang Cipta Rasa berada di daerah pusat kota dan masih digunakan hingga sekarang. Masjid ini juga digunakan pada acara-acara besar hingga pengajian peringatan haul Sunan Gunung Jati.

  • Peninggalan 4 Keraton Cirebon

Cirebon memang memiliki keraton yang terdiri dari empat bagian. Meskipun terpecah menjadi empat, tetapi tetap satu kesatuan karena memiliki fungsi masing-masing.

Keraton ini bisa Anda kunjungi untuk wisata edukasi. Empat keraton Cirebon terdiri dari:

  1. Kacirebonan
  2. Kasepuhan Cirebon
  3. Kanoman
  4. Keprabon
  • Makam Sunan Gunung Jati

Banyak peziarah yang datang silih berganti ke makam sunan Gunung Jati. Kegiatan ini sebagai bentuk penghormatan kepada sunan karena menjadi bagian dari masuk dan berkembangnya Islam di tanah Jawa.

  • Kereta Singa Barong Kasepuhan

Kereta SInga Barong Kasepuhan masih dirawat dan dijaga hingga sekarang. Pihak Kesultanan Cirebon telah membuat duplikatnya agar bisa digunakan ketika hari-hari besar seperti grebeg syawal.

  • Patung Singa Putih

Patung singa putih mencerminkan sepasang penjaga untuk wilayah pintu masuk Kerajaan Cirebon. Warna putih melambangkan sebuah kesucian yang berarti kerajaan adalah kiblat bagi rakyatnya.

  • Mande Karesmen dan Pengiring

Bangunan Kerajaan Cirebon memiliki 2 buah Mande yakni Karesmen dan Pengiring. Kedua Mande ini memiliki fungsi yang berbeda dan masih digunakan hingga saat ini.

3. Peninggalan Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang berkuasa di Jawa Tengah sejak tahun 1568 M hingga 1586 M. Kerajaan ini juga turut andil dalam penyebaran agama Islam di Nusantara, khususnya Pulau Jawa.

Beberapa peninggalan Kerajaan Pajang antara lain:

  • Makam Sultan Hadiwijaya
  • Makam Pejabat Kerajaan Pajang
  • Masjid Laweyan
  • Pasar Laweyan
  • Kisah Jaka Tingkir

4. Peninggalan Kerajaan Ternate dan Tidore

Tanah Maluku juga memiliki kerajaan Islam yang cukup besar dan menjadi salah satu pengaruh masuknya Islam, yaitu Kerajaan Ternate dan Tidore.

Peninggalan Kerajaan Ternate dan Tidore yang bisa Anda temui hingga sekarang adalah:

  • Masjid Sultan Ternate

Masjid ini berada di kawasan pusat kota dan masih aktif digunakan untuk kegiataan keagamaan umat muslim di Ternate.

  • Keraton Kesultanan Ternate

Anda bisa berkunjung ke keraton Kesultanan Ternate untuk wisata edukasi sejarah. Lokasinya tidak jauh dari Masjid Sultan Ternate. Jika Anda berkunjung, pastikan untuk menggunakan pakaian yang sopan.

  • Benteng Tolukko

Benteng Tolukko ini merupakan peninggalan dari penjajahan Portugis yang juga menggambarkan perjuangan rakyat pribumi untuk mempertahankan Kerajaan Ternate dan Tidore.

  • Makam Sultan Baabullah

Selain berupa bangunan sejarah, Anda juga bisa melihat makam Sultan Baabullah sebagai pendiri Kerajaan Ternate. Lokasi makamnya berada di Maluku Utara.

5. Peninggalan Kerajaan Gowa

Kerajaan Islam memang menyebar di setiap pulau di Nusantara. Kerajaan Gowa di Sulawesi juga memiliki pengaruh besar terhadap persebaran agama Islam.

Peninggalan dari kerajaan pimpinan Tumanurung Bainea (sultan pertama) ini berupa:

  • Masjid Tua Katangka
  • Museum Balla Lompoa
  • Istana Tamalate
  • Benteng Ford Rotterdam
  • Benteng Somba Opu

6. Peninggalan Kerajaan Demak

Eksistensi Demak juga melahirkan kebudayaan Islam di Nusantara, khususnya wilayah Jawa.

Peran Sunan Kalijaga membawa agama Islam dengan kemasan yang baik, sehingga mampu diterima masyarakat hingga saat ini.

Peninggalan Kerajaan Demak berupa:

  • Makam Sunan Kalijaga

Makam sunan Kalijaga selalu ramai dikunjungi para peziarah apalagi jika memasuki bulan-bulan baik bagi umat muslim.

Kunjungan ini sebagai wisata religius sekaligus penghormatan terhadap sunan Kalijaga yang telah membawa agama Islam dengan damai.

  • Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak berlokasi di pusat kota Demak, berdekatan dengan alun-alun kota. Masjid ini menjadi bukti sejarah adanya Kerajaan Demak dan kepemimpinan sunan Kalijaga.

  • Pawestren

Pawestren merupakan sebuah tiang atau sosiofak yang letaknya di masjid Jawa Kuno. Kerajaan Demak juga mewariskan pawestren ini di Masjid Agung Demak.

Pawestren sendiri memiliki makna dan fungsi khusus untuk sebuah kerajaan Islam Jawa.

  • Pintu Bledeg

Peninggalan-peninggalan kerajaan Islam di Indonesia dari Kerajaan Demak yang cukup tersohor adalah pintu bledeg.

Peninggalan ini berupa pintu dengan pahatan Ki Ageng Selo tahun 1466. Pintu ini berada di Masjid Agung Demak.

7. Peninggalan Kerajaan Perlak

Kerajaan Perlak juga merupakan salah satu kerajaan Islam terbesar di Indonesia dan memiliki beberapa peninggalan seperti:

  • Mata Uang
  • Dirham
  • Kuningan
  • Kupang
  • Stempel
  • Makam Benoa

Menjaga Peninggalan-Peninggalan Kerajaan dari Masa Lampau

Sebagai masyarakat Indonesia yang syarat akan budaya dan warisan leluhur, sudah selayaknya jika Anda tetap menjaga warisan tersebut hingga ke generasi selanjutnya.

Sebab, bukti peninggalan dari berbagai kerajaan Islam di Indonesia masih bisa ditemui sampai saat ini.

Ada banyak cara yang bisa Anda lakukan sebagai bentuk pelestarian peninggalan-peninggalan kerajaan Islam di Indonesia yakni:

  1. Menggunakan tempat-tempat warisan leluhur untuk berbagai kegiatan, misalnya saja masjid untuk tempat ibadah atau mengadakan pengajian besar ketika momen-momen tertentu.
  2. Berkunjung atau wisata edukasi. Misalnya saja ke situs keraton atau kesultanan sekaligus menggali informasi sejarah pada bangunan yang dikunjungi.
  3. Ikut mempromosikan tempat-tempat wisata bersejarah melalui media sosial apa saja agar banyak diketahui khalayak umum.
  4. Masih melaksanakan tradisi Islam yang dibawa sejak berdirinya kerajaan Islam, misalnya saja acara kenduri, grebeg syawal dan sebagainya.

Hampir sebagian besar peninggalan-peninggalan kerajaan Islam di Indonesia didominasi dalam bentuk bangunan, khususnya masjid.

Biasanya masjid warisan leluhur ini dijadikan masjid besar di pusat kota sekaligus simbol dari kejayaan kerajaan beberapa abad silam.

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close