Kerajaan Malaka, Sejarah, Masa Kejayaan dan Peninggalan

Indonesia merupakan sebuah negara yang dibentuk dari gabungan kerajaan-kerajaan besar yang tersebar di setiap pulau.

Setiap kerajaan yang berdiri memiliki kisah dan sejarah cukup menarik untuk diketahui, salah satunya Kerajaan Malaka.

Bagaimana dengan sejarah dan peninggalan kerajaan ini?

kerajaan malaka

Sejarah Kerajaan Malaka

Asal-usul suatu daerah pasti menyimpan sebuah kisah yang menarik. Hal itu pula yang juga dimiliki oleh kerajaan-kerajaan di Indonesia, termasuk Kerajaan Malaka.

Kerajaan ini memiliki daerah kekuasaan di Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya.

Kerajaan Malaka juga merupakan kerajaan penting di kawasan selat Malaka sejak 1393 hingga 1414 yang dipimpin oleh Prameswara.

Selanjutnya kekuasaan kerajaan ini semakin luas hingga bertahan di tahun 1488 oleh kepemimpinan Sultan Alaudin Syah dengan bantuan sosok Laksamana Hang Tuah.

1. Hancurnya Kerajaan Sriwijaya

Pada mulanya, Kerajaan Malaka sendiri berdiri tahun 1380 oleh Pawameswara yang merupakan anak dari Raja Sam Agi.

Raja Prameswara sebenarnya berasal dari Sriwijaya, tetapi pergi ke Malaka akibat serangan Majapahit terhadap Sriwijaya.

Ketika sampai di Malaka, Prameswara mulai mendirikan kerajaannya dan berperan sebagai pemimpin dari tahun 1380 hingga 1403.

Pada awal pendirian, di kawasan Malaka tersebut ditempati oleh penduduk asli Suku Laut sebanyak 30 kepala keluarga yang bekerja sebagai nelayan.

Kerajaan Malaka ini awalnya merupakan kerajaan Hindu karena raja Prameswara juga menganut agama tersebut.

Meskipun sebagai pendatang, raja dan rombongannya memiliki tingkat kebudayaan leluhur yang tinggi.

2. Sistem Perdagangan Malaka

Adanya pengaruh besar dari Raja Prameswara dan rombongan membuat penduduk asli mulai terpengaruh khususnya pada bidang perdagangan, sehingga terciptalah kawasan kota Malaka yang ramai.

Pada akhirnya, kota ini juga menjadi pusat perdagangan dan para pendatang baru semakin banyak yang masuk ke kawasan Malaka dan mulai mengajak penduduk asli menanam rempah-rempah, pisang hingga tebu sebagai tanaman baru saat itu.

Potensi yang ada di Malaka juga berupa bijih timah di kawasan daratan. Dikarenakan kegiatan perdagangan sebagai ramai setiap harinya, maka mulailah kegiatan impor dan ekspor.

Kegiatan impor yang dilakukan di kawasan ini adalah beras karena minimnya sawah dan ladang.

3. Terciptanya Nama Malaka

Nama Kerajaan Malaka sendiri memiliki kisah yang cukup unik dari pendirinya, Raja Prameswara.

Berdasarkan Sejarah Melayu tahun 1565 yang ditulis oleh Tun Sri Lanang, kisah ini dimulai dari pelarian raja Prameswara dari Tumasik hingga Muar karena serangan Siam.

Muar atau biawak ini jumlahnya sangat banyak dan beliau tidak bisa mengatasinya. Kemudian, beliau memutuskan untuk berlari terus hingga ke Burok.

Namun, bertahan di burok tidak berhasil. Sang Raja pindah ke Sening Ujon hingga sampailah di sungai Bertam.

Ketika berada di sungai Bertam, beliau bertemu dengan penduduk asli kawasan itu dan menginginkan Prameswara menjadi seorang raja.

Setelah beliau menjadi raja, pada suatu hari beliau melakukan hobi berburunya.

Salah satu anjing buruan beliau ditendang seekor pelanduk. Karena merasa kagum dengan keberanian si pelanduk, Raja Prameswara terus saja memperhatikannya hingga si pelanduk berteduh di pohon Malaka.

Pada saat itulah beliau memberikan nama kerajaannya yakni Kerajaan Malaka.

4. Menjadi Kerajaan Islam

Pada awalnya Kerajaan Malaka memang menjadi salah satu kerajaan Hindu karena raja Prameswara sendiri masih menganut agama tersebut.

Namun, pada tahun 1414 Prameswara menjadi seorang muslim dan tentu saja mengubah status kerajaannya.

Sejak itulah Kerajaan Malaka berganti menjadi kerajaan Islam di Pulau Sumatera. Selain karena pengaruh rajanya, masuknya agama islam juga dipengaruhi oleh para pedagang yang masuk di kawasan ini.

Sehingga, persebaran islam di Malaka semakin luas.

Raja-Raja Kerajaan Malaka

  • Tahun 1380 – 1424 dipimpin oleh Muhammad Iskandar Syah
  • Tahun 1424 – 1444 dipimpin oleh Sri Maharaja
  • Tahun 1444 – 1445 dipimpin oleh Sri Prameswara Dewa Syah
  • Tahun 1445 – 1459 dipimpin oleh Sultan Muzaffar Syah
  • Tahun 1459 – 1477 dipimpin oleh Sultan Mansur Syah
  • Tahun 1477 – 1488 dipimpin oleh Sultan Alaudin Riayat Syah
  • Tahun 1488 – 1551 dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah

Masa Kejayaan Malaka

Masa berjaya di Kerajaan Malaka ada di titik puncak pada tahun 1459 hingga 1477 yang dipimpin oleh Raja Sultan Mansur Syah.

Namun, sebelum itu kejayaan kerajaan ini dimulai dari pemerintahan raja Prameswara semenjak beliau masuk agama islam.

Para pengikut dan rakyat Malaka mulai mengikuti sang raja hingga agama islam menjadi agama mayoritas.

Kemudian, kawasan Malaka berkembang sebagai pusat agama islam untuk wilayah Asia Tenggara. Hampir semua negeri yang berada di bawah kekuasaan Malaka menjadi kerajaan Islam.

Dalam memudahkan perluasan penyebaran agama Islam, rakyat Malaka mulai melakukan perkawinan antar keluarga dekat berdasarkan syariat islam.

Tidak hanya itu saja, para tentara bayaran Malaka yang asalnya dari Jawa juga mulai berpindah keyakinan dan memutuskan untuk memeluk agama islam.

Ketika para tentara ini pulang kembali ke daerahnya di Pulau Jawa, mereka secara tidak langsung mulai menyebarkan agama islam.

Berikutnya, islam semakin menyebar di wilayah Kalimantan, Sulu, Mindanau/ Filipina bagian Selatan hingga Brunei.

Masa Kejayaan Kerajaan Malaka membuat kerajaan ini memiliki wilayah yang lebih luas yakni:

Wilayah yang Ditaklukan Sendiri

  • Pesisir Timur Sumatera
  • Semenanjung Melayu (Kelantan, Terengganu, Ligor, Patani, dsb)
  • Kepulauan Riau
  • Serawak dan Brunei
  • Kalimantan Barat (Tanjung Pura)

Wilayah Hasil Diplomasi dari Majapahit

  • Pulau Tambelan
  • Pulau Siantan
  • Pulau Jemaja
  • Palembang
  • Indragiri

Masa Keruntuhan Malaka

Semenjak memeluk agama islam, raja Prameswara mengubah namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah di tahun 1406.

Beliau juga disebut dengan nama Sultan Malaka 1 karena sebagai pendiri pertama Kerajaan Malaka.

Sultan Iskandar Syah memutuskan untuk menikah dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Samudera Pasai.

Setelah itu, perkembangan kerajaan memang semakin pesat dan menjadi salah satu pelabuhan paling ramai di daratan Sumatera.

Namun, ketika bangsa Portugis mulai masuk ke wilayah ini, kejayaan Malaka mulai bergoyah hingga berhasil direbut Portugis pada 24 Agustus 1511.

Serangan dilakukan bangsa Portugis dengan dipimpin panglimanya bernama Alfonso de Albuguerque.

Pada saat kerajaan diserang Portugis, raja yang memimpin Kerajaan Malaka adalah Sultan Mahmud Syah.

Setahun kemudian tepatnya pada tahun 1512, Sultan Mahmud Syah bersama Dipati Unus berusaha merebut kembali Malaka, tetapi gagal.

Peninggalan Kerajaan Malaka

Beberapa peninggalan dari Kerajaan Malaka dari raja pertama hingga terakhir yakni:

  1. Masjid Raya Baiturrahman Aceh
  2. Masjid Agung Deli
  3. Masjid Johor Bahru
  4. Benteng A’Farmosa (sebagai bukti ditaklukkannya kawasan Malaka oleh Portugis)
  5. Mata Uang (beredar pada abad 15)

Kerajaan Malaka merupakan salah satu kerajaan yang menyebarkan agama islam di Indonesia.

Kerajaan ini mengalami puncak kejayaan di tahun 1459 hingga 1477 ketika dipimpin Sultan Mahmud Syah. Namun, kerajaan ini direbut oleh Portugis pada 1511 dan menjadi masa keruntuhan Malaka.

Baca juga :

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close