Mengenal Adat dan Kebudayaan Suku Bali

Deskripsi: Sejarah, adat tradisi dan kebudayaan Suku Bali, dan kehidupan sosial.


Bali terkenal sebagai tempat liburan terbaik karena memiliki sumber daya alam berupa pantai dengan pemandangan luar biasa indahnya.

Tidak hanya itu, hal yang menarik dari sini adalah kebudayaannya yang masih kental dan tetap dilestarikan oleh Suku Bali.

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Bali tentu harus mengetahui penjelasan tentang daerah ini secara lengkap.

Hal ini bertujuan agar Anda dapat menjaga perilaku dan pola pikir agar sesuai dengan nilai dan norma sosial yang ada di sana.

Berikut merupakan ulasan lengkap tentang Suku Bali.

Sejarah Suku Bali

Sejarah Suku Bali

folderdesa.com

Asal usul masyarakat Bali ternyata memiliki sejarah yang panjang. Sejarah masyarakat ini terbagi menjadi 3 tahap yang menjadi faktor pembentuknya.

Berikut merupakan sejarah masyarakat Bali yang wajib Anda ketahui.

1. Zaman Pra Sejarah

Zaman pra sejarah identik dengan manusia zaman purba yang masih menjalankan kehidupan mengandalkan sumber daya alam sekitar.

Pada zaman ini manusia purba melakukan perpindahan atau yang disebut nomaden.

Manusia pra sejarah tidak memiliki tempat tinggal tetap, hal ini karena perpindahan dilakukan berdasarkan terpenuhinya kebutuhan hidup.

Masyarakat Bali juga berasal dari manusia pra sejarah yang melakukan nomaden.

2. Zaman Perkembangan Agama Hindu

Berdasarkan sejarah, agama pertama kali yang masuk ke Indonesia adalah agama Hindu.

Hal ini dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat India yang menjadikan Indonesia sebagai tempat berdagang.

Aktivitas berdagang tersebut tidak hanya dilakukan untuk memperoleh keuntungan namun juga dilakukan untuk menyebarkan agama.

Masyarakat Bali terbentuk karena adanya penyebaran agama Hindu. Di masa ini, di pulau Bali juga sudah berdiri kerajaan yang yaitu Bali Dwipa.

Sebelum kedatangan masyarakat Jawa setelah keruntuhan Majapahit, masyarakat Bali asli juga masih ada hingga saat ini. Kelompok masyarakat Bali asli biasa di sebut Suku Bali Aga.

3. Zaman Migrasi Penduduk Kerajaan Majapahit

Tahap ini menjadi akhir dari terbentuknya masyarakat Bali. Hal ini berasal dari leluhur masyarakat Suku Bali yang berasal dari Pulau Jawa.

Hal ini berhubungan dengan mulai melemahnya Kerajaan Majapahit setelah masa pemerintahan Hayam Wuruk karena beliau wafat.

Pasca runtuhnya kerajaan tersebut, mulai berkembang agama Islam pada abad ke-15 di tanah Jawa.

Hal ini dibarengi dengan berdirinya Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam kuno dan kemudian melanjutkan pemerintahan Kerajaan Majapahit yang sebelumnya mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Penduduk Majapahit yang tidak ingin beragama Islam kemudian pindah ke Pulau Bali sehingga membentuk kelompok sendiri, hingga kini menjadi masyarakat Bali.

Masyarakat ini sangat unik karena membuat sinkretisme atau perpaduan antara tradisi Bali dan agama Hindu.

Kepercayaan Masyarakat Bali

kepecayaan masyarakat bali

detik.com

Mayoritas kepercayaan yang dianut oleh masyarakat suku ini adalah Hindu.

Hal ini berhubungan dengan agama pertama kali yang diterima pada saat tinggal sebagai penduduk Kerajaan Majapahit dan melekat dalam kehidupannya sehari-hari.

Berdasarkan jumlah, kurang lebih 3,2 juta masyarakat yang melakukan pengungsian ke Bali memeluk agama Hindu. Sedangkan kepercayaan yang dianut oleh penduduk Bali adalah Buddha.

Keduanya merupakan jenis agama berbeda namun tetap berasal dari India.

Agama Hindu disebarkan oleh para pendeta asal India yang memperkenalkan sastra Hindu dan Buddha kepada suku Bali atau tokoh adat di Bali.

Masyarakat menerima ajaran tersebut kemudian menjalankan kepercayaan tersebut beriringan dengan kepercayaan pra Hindu.

Kepercayaan pra Hindu diiringi dengan kepercayaan yang dibawa oleh pendeta India ini dianut oleh kelompok Bali Aga yaitu masyarakat Bali pribumi.

Kepercayaan Bali Aga dengan Suku Bali umumnya merupakan keturunan Majapahit, namun keduanya mempertahankan kepercayaan berbeda.

Agama Hindu yang melekat di Bali ini juga merupakan andil dari pemerintah kolonial Belanda. Tahun 1881, Belanda melarang misionaris menjalankan aktivitas di Bali.

Pada tahun 1924 juga misionaris Katolik Roma berusaha memasuki wilayah Bali namun ditolak oleh elit Bali dan kolonial Belanda.

Adanya penolakan yang dilakukan oleh tokoh agama di Bali dan elit politik dari Belanda menyebabkan langgengnya agama Hindu di Bali.

Hal ini karena tidak adanya penyebaran agama lain yang masuk dan berkembang di dalam wilayah Bali.

Baca juga: Minuman khas Bali

Strata Sosial Masyarakat Bali

Strata Sosial Suku Bali

id.wikipedia.org

Suku Bali memiliki sistem kehidupan bertingkat yang disebut kasta. Sistem kehidupan ini disebut wangsa atau sistem kekeluargaan yang dianut berdasarkan garis keturunan.

Pada zaman dahulu, sistem kasta ini sangat ketat dan dipercaya menjadi pedoman dalam menjalin hubungan pernikahan.

Wangsa tidak hanya digunakan untuk melangsungkan pernikahan, namun juga digunakan dalam upacara adat yang menjadi tradisi.

Setiap tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Bali memiliki peran dan fungsi, sehingga dilakukan oleh kasta tertentu.

Sistem kasta masyarakat Bali dibuat oleh masyarakat pribumi untuk membedakan antara masyarakat pindahan dari Majapahit dan masyarakat lokal.

Kasta yang berlaku di Bali ini berhasil menjadikan masyarakat yang berasal dari Kerajaan Majapahit membuat sistem sosial yang dianut hingga saat ini.

Pembagian sistem wangsa yang terdapat di Bali dibagi menjadi 4, di antaranya:

  • Brahmana yaitu kelompok pemuka agama dan pendeta.
  • Ksatria yaitu berasal di kalangan Raja, kaum bangsawan, bala tentara, sekaligus petinggi kerajaan.
  • Waisya yaitu kelompok ahli pembuat senjata, abdi keraton, cendekiawan, dan kalangan yang berasal dari Jawa.
  • Jaba yaitu sebutan untuk masyarakat Bali sehingga ditaklukkan oleh masyarakat pendatang. Pada dasarnya jumlah masyarakat lokal Bali banyak, namun mereka tidak mendapat kedudukan pemerintahan.

Adat Istiadat Suku Bali

tradisi adat bali

rimbakita.com

Suku Bali sangat menjaga kebudayaan dan warisan berupa adat istiadat hingga saat ini.

Sehingga adat dan istiadat masyarakat Bali masih sangat kental dan banyak ditemukan aktivitas adat yang unik dan menarik untuk diketahui.

Berikut merupakan adat istiadat yang wajib diketahui:

1. Upacara Nyambutin

Nyambutin berasal dari kata sambut yang artinya salam atau selamat datang.

Suku Bali percaya bahwa ketika seorang bayi dilahirkan, tidak hanya bayi yang datang, namun juga niskala. Niskala adalah pengiring bayi yang tidak terlihat.

Upacara Nyambutin dilakukan saat bayi berusia 3 bulan atau sering disebut turun tanah bagi orang Jawa.

Dilakukan pada usia tersebut karena pada waktu tersebut seorang bayi belajar duduk dan dibersihkan dari pengaruh negatif.

2. Upacara Tutug Kambuhan

Upacara ini dilakukan untuk bayi yang baru lahir, upacara ini bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga bayi dari adanya pengaruh buruk.

Sedangkan ibu dari anak tersebut membersihkan diri dari noda dan kotoran.

Adat ini bertujuan sebagai rasa syukur yang diberikan kepada Sang Pencipta karena telah menjaga bayi di dalam kandungan dengan baik.

Tutug Kambuhan disebut sebagai Bulan Pitung, dilakukan saat bayi berusia 42 hari.

Baca juga: Tempat wisata Romantis di Bali

3. Upacara Melarung Bumi

Melarung Bumi atau Mecaru Bumi merupakan upacara yang dilakukan untuk memuja 9 dewa, yaitu Wisnu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Sangkara, Mahadewa, Indra atau Sambu, dan Siwa.

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan bumi dari pengaruh negatif.

4. Upacara Melasti

Upacara Melasti dilakukan tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, aktivitas yang dilakukan adalah sembahyang di tepi pantai untuk mensucikan diri.

Makna tradisi ini dilakukan untuk menghilangkan perbuatan buruk di masa lalu kemudian dibuang di laut.

Selain membersihkan diri, upacara ini juga dilakukan untuk mensucikan berbagai benda sakral.

Pembersihan ini diusung kemudian diarak keliling desa lalu dibersihkan di danau, samudra, laut, sungai, dan mata air lainnya agar suci.

Bagaimana? Rasa ingin tahu Anda terhadap Suku Bali terjawab, bukan? Penjelasan tentang masyarakat Bali yang membuat kedudukan agar mendapat strata tertinggi di atas menjadi sejarah yang unik.

Semoga bermanfaat ya.

Baca juga: Kebudayaan Suku Sasak di Lombok

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close