Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Biografi Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

Biografi Ki Hajar Dewantara

image via canva.com/goodminds.id

Tokoh yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini merupakan salah satu pejuang pendidikan di Indonesia. Saat ini mungkin kamu lebih mengenalnya dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Pria kelahiran Pakualam 2 Mei 1889 ini merupakan seorang penulis, tokoh politik, jurnalis dan pelopor pendidikan bagi bangsa Indonesia saat era penjajahan Belanda.

Bapak pendidikan inilah yang merupakan sosok dibalik berdirinya taman siswa, sebuah lembaga pendidikan yang memberi kesempatan pada rakyat pribumi untuk dapat mengenyam pendidikan.

Setelah berdirinya taman siswa, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan Republik Indonesia yang pertama kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional dengan gelar Bapak Pendidikan Nasional.

Hingga saat ini kamu bisa mengenang tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Perjuangannya dalam mengedepankan pendidikan bagi masyarakat Indonesia harus terhenti ketika beliau berusia 69 tahun, yakni tepat ketika beliau wafat pada 36 April 1956.

Salah satu semboyang yang melegenda dari Ki Hajar Dewantara adalah Tut Wuri Handayani yang menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.

Berikut adalah biografi Ki Hajar Dewantara

Nama lengkap : Soewardi Soerjaningrat
Tempat lahir : Pakualaman, Hindia Belanda
Tanggal lahir : 2 Mei 1889
Tempat meninggal : Yogyakarta, Indonesia
Tanggal meninggal : 26 April 1959
Agama : Islam.

Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra GPH Soerjaningrat serta cucu dari Pakualam III. Ki Hajar Dewantara aau Soewardi mengenyam pendidikan dasar di ELS milik Belanda.

Kemudian beliau melanjutkan pendidikan di STOVIA (sekolah dokter Bumiputera), tetapi tidak bisa sampai tamat lantaran sakit. Selanjutnya beliau bekerja sebagai wartawan dan penulis di beberapa surat kabar, seperti Sediotomo, De Expres, Midden Java, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, Kaoem Moeda serta Poesara.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara

Selain bekerja menjadi penulis handal, Ki Hajar Dewantara juga terkenal aktif dalam berorganisasi baik dalam bidang politik maupun sosial. Ia sering melakukan sosialisasi tentang pentingnya kesatuan dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara, terutama setelah berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908.

Ki Hajar Dewantara juga menjadi salah seorang anggota organisasi Insulinde, yakni organisasi multietnik yang didominasi oleh kaum Indo untuk memperjuangkan pemerintahan sendiri di bumi Hindia Belanda. Beliau juga bergabung dengan Inische Partij yang didirikan oleh Ernest DD.

Ki Hajar Dewantara pernah mempublikasikan sebuah karya tulis berjudul ‘Seandainya Aku Seorang BElanda’ atau aslinya ‘Als ik ee Nederlander Was’. Pada karya tulis tersebut Ki Hajar Dewantara mengkritik kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang bertujuan merayakan kemerdekaan Belanda dari Perancis di tanah jajahannya yakni Indonesia.

Berasal dari tulisan tersebut Ki Hajar Dewantara bersama dengan dua rekannya, Douwes Dekker serta Tjipto Mangoenkoesoemo ditangkap kemudian diasingkan ke Belanda. Ketika tokoh yang dijuluki ‘Tiga Serangkai’ ini diasingkan sejak tahun 1913.

Meskipun tak hidup di negeri sendiri, namun perjuangannya tak pernah berhenti dan terus aktif dalam organisasi, salah satunya ialah organisasi pelajar asal Indonesia Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Beliau juga mendirikan Indonesisch Pers-bureau pada tahun 1913.

Dalam pengasingannya beliau juga tetap menempuh pendidikan hingga memperoleh gelar Europeesche Akta yang dijadikannya sebagai pijakan untuk mendirikan lembaga pendidikan. Berbagai ide ia pelajari dari barat dan India kemudian dikembangkan dalam sistem pendidikan Indonesia.

Pada tahun 1919, Ki Hajar Dewantara kembali ke Indonesia dan bergabung bersama sekolah binaan saudaranya. Tanggal 3 Juli 1922, National Onderwijs Instituut Taman Siswa berdiri guna mengembangkan pendidikan di Indonesia.

Ki Hajar Dewantara Sebagai Bapak Pendidikan Nasional

Setelah kemerdekaan Indonesia, Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut dengan Menteri Pendidikan, Pengajaran serta Kebudayaan) pada kabinet pertama RI.

Di tahun 1957, ia memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa, Dr.H. . ) dari Universitas Gadjah Mada yang merupakan Universitas tertua di Indonesia. Dan atas segala jasa yang ia berikan pada Indonesia, beliau dianugerahi gelar Bapak Pendidikan Nasional.

Pengambilan tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional sendiri berasal dari tanggal kelahiran beliau.

Semboyan Ki Hajar Dewantara

Selain terkenal dengan perjuangan kerasnya untuk meningkatkan pendidikan di tanah air ini, Ki Hajar Dewantara juga sangat terkenal dengan semboyannya. Semboyan pada sistem pendidikan yang digunakan ini memberi pengertian dan makna yang begitu mendalam. Berikut adalah semboyan utuh yang menjadi ciri dari Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.

  • Ing ngarsa sung tuladha
    Artinya di depan memberi contoh.
  • Ing madya mangun karsa
    Artinya di tengah memberi semangat.
  • Tut wuri handayani
    Artinya di belakang memberi dorongan.

Hingga sekarang ini semboyan tersebut masih digunakan dalam dunia pendidikan Indonesia, terlebih lagi pada sekolah-sekolah Perguruan Taman Siswa.

Wafatnya Ki Hajar Dewantara

Sukses mendirikan Taman Siswa dan memperoleh gelar penghargaan sebagai Bapak Pendidikan Nasional, pada 26 April 1959 Ki Hajar Dewantara menghembuskan nafas terakhir. Tempat peristirahatan terakhirnya ada di pemakaman Taman Wijaya Brata.

Selain dikenang sebagai tokoh pendidikan Indonesia, jasa KI Hajar Dewantara juga dikenang dalam uang pecahan 20.000 rupiah. Ya wajah beliau diabadikan oleh Pemerintah dalam mata uang rupiah 20.000.

Hingga saat ini Indonesia tampaknya belum bisa membalas budi beliau, berkat kegigihan dan perjuangannya yang begitu keras, pendidikan di Indonesia semakin maju. Bahkan sampai sekarang lembaga pendidikan elit terus berkembang yang menandakan bangsa Indonesia sudah mekain mementingkan pendidikan serta menunjukkan kemajuan yang begitu pesat.