Biografi Gus Dur, Tokoh Islam yang Menjadi Presiden RI ke-4

Biografi Gus Dur

image via canva.com/goodminds.id

Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur merupakan seorang ulama, guru besar, pemikir, cendikiawan, dan juga pemimpin politik Indonesia. Kyai Haji Abdurrahman Wahid juga merupakan presiden keempat Indonesia menggantikan B.J Habibie setelah dipilih MPR melalui hasil pemilu pada tahun 1999.

Loading...

Beliau menjabat sebagai presiden sejak 20 Oktober 1999 hingga 2001. Semasa kepemimpinannya begitu banyak peristiwa yang menjadikan sosok Gus Dur menjadi idola bagi masyarakat Indonesia sebagian besar.

Biografi Gus Dur

Gus Dur pun menjadi sisi menarik lain yang hingga sekarang masih dicari tahu banyak kalangan.

Nama Lengkap : KH. Abdurrahman Wahid
Tempat, Tanggal Lahir : Jombang, 04 Agustus 1940
Ayah : KH. A Wahid Hasyim
Ibu : Hj. Sholehah
Istri : Sinta Nuriyah
Anak : Alissa Qutrunnada, Zannba Ariffah Chafsoh, Anita Hayatunnufus, Inayah Wulandari

Gus Dur adalah putra pertama dari 6 bersaudara, dimana beliau berasal dari keluarga yang begitu terhormat di komunitas muslim Jawa Timur. Kakek Gus Dur dari ayahnya adalah pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan kakek dari ibunya adalah KH. Basri Syansuri yang merupakan kyai di sebuah pesantren.

Ayah Gus Dur sendiri terlibat pada Gerakan Nasionalis serta menjadi Menteri Agama pada 1949, dan ibunya adalah anak pendiri Pondok Pesantren Denanyar Jombang.

Setelah dideklarasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang kemudian menetap disana selama perang kemerdekaan melawan Belanda. Hingga akhir 1949 ia pindah ke Jakarta lantaran ayahnya ditunjuk menjadi Menteri Agama.

Hidup di Jakarta menjadikan Gus Dur banyak mempelajari ilmu non agama, seperti koran, majalah dan buku pengetahuan lainnya. Di tahun 1953 duka mendalam menyelimuti Gus Dur sekeluarga karena ditinggal ayah tercintanya akibat kecelakaan mobil.

Di tahun 1954 Gus Dur meneruskan pendidikan di SMP namun tak naik kelas, tentunya ini bukan karena masalah intelektual. Kemudian ibunya mengirim Gus Dur ke Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan disana. Setelah lulus dari SMP, Gus Dur meneruskan pendidikan di Pesantren Tegalrejo, Magelang.

Hanya dalam kurun waktu 2 tahun Gus Dur mampu menyelesaikan pendidikannya di Pesantren dan mendapatkan predikat siswa berbakat (seharusnya 4 tahun).

Belajar dari Baghdad Sampai ke Prancis

Lulus dari PEsantren Tegalrejo Gus Dur melanjutkan pendidikan di Pesantren Tambakberas di Jmbang kemudian mendapakan pekerjaan pertamanya sebagai guru serta kepala madrasah. Presiden keempat RI ini juga menjadi seorang wartawan di Horizon dan Majalah Budaya Jaya.

Hingga pada tahun 1963 Gus Dur mendapatkan beasiswa dari Departemen Agama untuk belajar di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Selesainya di Universitas Al Azhar Gus Dur masih melanjutkan belajar di Universitas Baghdad.

Sayangnya pendidikannya di Baghdad kurang diakui, dan beliau pun melanjutkan pendidikan di Jerman serta Prancis dan baru kembali ke Indonesia pada tahun 1971.

Kembalinya ke Indonesia Gus Dur bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang merupakan organisasi dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.

Saat menjadi contributor LP3ES Gus Dur banyak berkunjung ke pesantren-pesantren dan kondisi miris yang ia dapati lantaran perubahan dan kemiskinan pesantren.

Karir Politik Gus Dur

Pengalaman politik pertama Gus Dur dimulai pada tahun 1982 yakni pada pemilihan umum dan berkampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), gabungan 4 partai Islam termasuk NU.

Pada Musyawarah Nasional NU 1984, Gus Dur dinominasikan menjadi ketua PBNU kemudian dia menerimanya dengan syarat bisa mendapatkan wewenang penuh untuk memilih pengurus.

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Soeharto. Ini dijadikan pedoman bagi Gus Dur untuk mendukung rezim dengan mengkritik PPP pada pemilu legislatif 1987 serta memperkuat Partai Golkar.

Menjadi Anggota MPR RI

Bergabungnya Gus Dur membawanya masuk menjadi anggota MPR. Sebagai anggota MPR, Gus Dur kerap mengkritik pemerintah terkait proyek Waduk KEdung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia dan menjadikan hubungannya dengan Soeharto merenggang.

Saat menjabat Gus Dur memfokuskan reformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan sistem pendidikan pesantren. Di tahun 1989 Gus Dur kembali terpilih menjadi Ketua PBNU.

Kala itu Soeharto sedang dalam perang politik dengan ABRI dan berusaha menarik simpati Muslim.

Mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Menjadi Presiden RI

Juli 1998 merupakan masa dimana PKB berdiri dan dijadikan Gus Dur sebagai cara untuk melawan Golkar dalam pemilihan umum. Hingga pada 7 Februari PKB resmi menyatakan Gus Dur menjadi kandidat presidennya.

Kemenangan Gus Dur atas Megawati menjadikan Gus Dur berhasil menjadi Presiden Ke-4 RI. Selama pemerintahannya, Gus Dur membubarkan Departemen Penerangan serta Departemen Sosial.

Beliau juga menjadi pemimpin pertama yang memberikan referendum terhadap Aceh untuk menentukan otonomi, bukan kemerdekaan seperti Timor Timur.

Meski telah banyak mendatangkan perubahan, namun di tahun 2000 muncul 2 skandal yang menjatuhkannya dari jabatan presiden, yakni skandal Buloggate dan Bruneigate.

Hingga pada tahun 2001 Gus Dur lengser dari jabatannya. Meski sudah tak menjabat menjadi Presiden, namun perannya dalam dunia politik masih begitu banyak.

Dan salah satu yang paling berpengaruh adalah kritikannya bersama Try Sutrisno, Akbar Tanjung, Wiranto dan Megawati untuk kebijakan Susilo Bambang Yudhoyono yang mencabut subsidi BBM.

Gus Dur Wafat

Rabu 30 Desember 2009 menjadi hari yang menyedihkan bagi Indonesia dan keluarga Gus Dur khususnya. Dimana pada hari tersebut, Gus Dur menghembuskan nafas terakhir di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta tepat pukul 18.45 akibat komplikasi penyakit.

Sebelum dibawa ke Jakarta Gus Dur sebelumnya sudah melakukan perawatan di Surabaya. Hari-hari terakhirnya pun banyak dihabiskan untuk cuci darah dan menjalani berbagai pengobatan.