Yuk, Ketahui Indahnya Geguritan atau Puisi Bahasa Jawa, Di Lengkapi Contoh Geguritan

Puisi Bahasa Jawa

gambar digawe nganggo canva.com/goodminds.id

Pernahkah Kamu mendengar tentang puisi dengan bahasa Jawa? Ya, saat di sekolah, Kamu pasti pernah mendapatkan pelajaran tentang hal ini.

Puisi bahasa Jawa memang menjadi salah satu bahan ajar yang diajarkan di berbagai sekolah, tentu terutama di Jawa –terkhusus daerah Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Secara umum, puisi bahasa Jawa sama seperti pada umumnya karena memang ini adalah salah satu karya sastra.

Namun, seperti namanya, puisi ini menggunakan bahasa Jawa untuk menyusun kata yang membentuk bait puisi guna menceritakan kejadian, perasaan dan lainnya.

Dikarenakan tidak cukup familiar dengan bahasa Jawa, cukup banyak siswa yang kesusahan dengan tema pelajaran ini. Nah, bagaimana dengan Kamu? Jangan-jangan, Kamu juga mengalami masalah yang sama.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini kita akan membahas beberapa hal tentang puisi bahasa Jawa. Dengan pembahasan ini,

Kamu bisa belajar memahami jenis puisi ini dengan lebih baik dan menyeluruh sebelum nanti bisa membuatnya sendiri. Penasaran bagaimana penjelasan lengkap tentang jenis puisi ini?

Simak beberapa ulasan di bawah ini.

Pengertian Puisi Bahasa Jawa

Perlu Kamu ketahui bahwa puisi bahasa Jawa ini disebut juga dengan istilah geguritan. Lalu, apa pengertian dari geguritan ini?

Nah, geguritan adalah salah satu karya sastra Jawa dengan bentuk puisi. Puisi ini memiliki bentuk yang baku atau semi tidak bebas dibuat dengan bait yang berbeda-beda, jumlah suku kata yang beda dan lainnya.

Cara pengungkapan geguritan juga sama dengan puisi pada umumnya. Ya, untuk mengungkapkannya, Kamu harus menggunakan bahasa yang memiliki irama, rima, mitra, bait serta penyusunan kata yang tepat.

Meskipun, sebagaimana dibahas tadi, ada beberapa aturan yang harus diikuti dalam pembuatannya. Dalam fungsinya, geguritan bisa dibuat sesuai dengan ungkapan pikiran dan perasaan.

Ya, hal ini dikarenakan geguritan memiliki fungsi untuk mengungkapkan kritik, gagasan, ide atau hal lainnya melalui rangkaian kata yang indah.

Dengan penyampaian tersebut, upaya dan keinginan yang disampaikan akan lebih bisa dipahami dan diterima.

Ciri-Ciri Geguritan

Pemahaman tentang geguritan harus ditambahi dengan memahami ciri-ciri dari geguritan ini. Nah, Kamu harus tahu bahwa ada ciri-ciri khusus dari geguritan.

Dengan memahami ciri-ciri geguritan ini, Kamu bisa membuat geguritan dengan lebih mudah.

Setidaknya, ada empat ciri-ciri dari geguritan yang perlu Kamu ketahui. Beberapa ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Geguritan memiliki beberapa aturan dasar yang harus dipahami, seperti guru lagu, guru wilangan dan guru gatra
  • Dalam membuat geguritan, digunakan kalimat yang memiliki arti atau memiliki makna
  • Bahasa yang digunakan dalam geguritan adalah bahasa yang indah namun tetap sopan
  • Umumnya, geguritan menyertakan nama pengarang yang ditulis di atas teks geguritan.

Beberapa ciri di atas harus menjadi pegangan sebelum membuat geguritan ini. Nah, sebagai tambahan, kita akan membahas tentang guru lagu, guru wilangan dan guru gatra yang disebutkan di atas. Kamu pasti penasaran dengan maknanya, bukan?

  • Guru lagu adalah jatuhnya suara vokal di setiap akhir baris atau dengan bahasa lain yang lebih singkat disebut dengan rima
  • Guru wilangan adalah jumlah suku kata yang ada dalam setiap baris geguritan
  • Guru gatra adalah jumlah baris dalam geguritan yang dibuat.

Nah, ketiga hal ini adalah aturan utama dalam geguritan yang harus dipahami dengan baik. Dengan memahami ketiga istilah tadi, tentu saja geguritan yang Kamu hendak buat akan menjadi geguritan yang tepat dan benar serta sesuai dengan aturan yang diharuskan.

Namun, dalam perkembangannya, geguritan juga mengalami beberapa perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan mengenai aturan dalam membuat geguritan.

Dalam hal ini, kini geguritan juga dibuat dengan bebas. Artinya tidak terpaku lagi pada aturan baku sebagaimana jenis geguritan yang telah diketahui sebelumnya.

Kondisi ini juga bisa dilihat dengan perbandingan adanya puisi lama dan puisi baru. Nah, geguritan yang terikat dengan bentuk adalah puisi lama, sedangkan geguritan yang bebas bentuk adalah puisi baru.

Dengan adanya pembagian ini, maka Kamu akan lebih ekspresif dan juga leluasa untuk membuat geguritan. Dengan membuat geguritan yang bebas bentuk dan aturan, Kamu bisa mengejawantahkan ide serta gagasan dengan lebih optimal dan menyeluruh.

Unsur Intrinsik dalam Geguritan

Untuk membuat geguritan yang baik dan benar, ada beberapa unsur intrinsik yang harus diperhatikan. Unsur-unsur ini akan menentukan bagaimana hasil geguritan yang akan Kamu buat. Nah, unsur intrinsik tersebut tentu saja wajib untuk ada dalam geguritan yang dibuat.

Lalu, apa saja unsur intrinsik yang harus ada dalam geguritan? Beberapa unsur intrinsik yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Tema

Tema adalah unsur intrinsik pertama yang harus ada dalam geguritan. Hal ini dikarenakan tema merupakan unsur yang sangat penting dan akan berpengaruh pada isi geguritan yang akan dibuat.

Tema ini juga disebut sebagai gagasan pokok yang disuguhkan oleh pembuat geguritan kepada para pembaca.

2. Diksi

Unsur intrinsik geguritan yang kedua adalah diksi atau pilihan kata. Sebagaimana puisi pada umumnya yang diketahui, pemilihan kata adalah hal yang sangat penting.

Kata dalam puisi adalah senjata untuk menyampaikan gagasan atau ide agar lebih mudah diterima dengan bahasa yang indah.

Selain itu, dikarenakan adanya aturan guru lagu, guru wilangan dan guru gatra tadi, diksi menjadi hal yang sangat penting dalam geguritan. Untuk membuat geguritan, Kamu harus memperhatikan detail dari ketiga hal tersebut.

3. Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah unsur intrinsik ketiga yang harus ada dalam geguritan. Seperti diksi, gaya bahasa akan berpengaruh pada keindahan hasil geguritan yang Kamu buat.

Dengan gaya bahasa yang tepat, maka pembaca geguritan bisa membacakan geguritan dengan irama yang bagus dan makna geguritan juga akan lebih mudah dipahami.

Ada beberapa gaya bahasa yang umum digunakan dalam proses membuat geguritan. Adapun beberapa gaya bahasa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Personifikasi, ini adalah majas yang sangat sering digunakan untuk membuat rangkai kata pada geguritan. Personifikasi pada dasarnya merupakan majas yang membuat benda mati seolah-olah menjadi benda hidup atau menggunakan performa dari manusia ke benda-benda selain manusia.
  • Metafora, ini adalah majas yang termasuk dalam majas perbandingan. Dalam proses membuat geguritan, majas ini seringkali digunakan untuk membandingkan dua benda yang memiliki sifat yang mirip atau sama. Perbandingan ini dilakukan untuk memberikan penekanan pada gagasan geguritan yang hendak disampaikan.
  • Repetisi, ini adalah majas yang masuk golongan pengulangan. Maksudnya, repetisi adalah majas yang digunakan dengan cara mengulang kata atau frase dalam baris geguritan. Pengulangan ini gunanya adalah untuk memberikan penegasan, terutama untuk ide yang ingin disampaikan.

4. Citraan

Unsur intrinsik berikutnya yang harus ada dalam geguritan adalah citraan. Citraan seringkali disebut dengan istilah imajinasi.

Unsur intrinsik ini digunakan untuk memberikan gambaran yang bisa diraba oleh indra. Memberikan citraan ini penting agar geguritan lebih menarik.

Selain itu, dengan adanya citraan dalam geguritan ini, maka ide atau gagasan yang disampaikan dalam baris geguritan seakan-akan hadir di sekitar pembaca.

Keadaan ini akan membuat gagasan dan ide dalam geguritan bisa lebih dirasakan dan akhirnya bisa dipahami dengan lebih baik.

5. Latar

Latar juga masuk dalam unsur intrinsik dalam geguritan yang akan mempengaruhi hasil dari geguritan yang dibuat.

Latar ini dibagi menjadi beberapa jenis, seperti latar tempat yang menjelaskan tempat kejadian, latar waktu yang menjelaskan kapan kejadian itu berlangsung dan latar suasana yang menggambarkan bagaimana suasana yang terjadi.

Dalam membuat geguritan, Kamu sebaiknya menggunakan ketiga jenis latar tersebut.

Dengan demikian, maka kejadian akan tergambar dengan lebih jelas dan tentu saja makna dalam geguritan akan cenderung lebih terbaca dengan saksama.

6. Pesan atau Amanat

Pesan atau amanat adalah unsur intrinsik selanjutnya yang harus ada dalam geguritan. Sebagaimana dibahas di awal, geguritan digunakan untuk menyampaikan gagasan atau ide.

Nah, oleh karena itu, dalam geguritan harus ada pesan yang disampaikan. Pesan ini biasanya adalah pesan moral untuk para pembaca tentang beberapa tema.

7. Rima

Rima adalah salah satu unsur intrinsik yang sebaiknya ditambahkan dalam geguritan. Rima ini adalah unsur yang akan memperindah geguritan yang Kamu buat.

Rima berbentuk pengulangan bunyi baik di awal, tengah ataupun akhir. Dengan adanya rima, pembaca geguritan akan menemukan irama.

8. Enjambment

Enjambment adalah salah satu unsur intrinsik yang sebaiknya juga ditambahkan dalam membuat geguritan. Nah, apa yang dimaksud dengan enjambment ini? Enjambment adalah pemotongan kata, kalimat atau frase yang diakhiri dengan lirik.

Setelah itu, potongan tadi diletakkan di awal lirik berikutnya. Tujuan unsur intrinsik ini adalah untuk memberikan penekanan pada kata tertentu dan menjadi penghubung pada bagian yang berikutnya.

Unsur ini juga akan berpengaruh pada bunyi dalam pembacaan geguritan.

9. Perasaan

Dalam membuat geguritan, Kamu perlu memasukkan unsur perasaan di dalamnya. Perasaan ini adalah sikap dari penulis untuk memberikan tekanan pada geguritan.

Beberapa contoh perasaan yang bisa digunakan dalam geguritan adalah konsisten, simpatik, senang, sedih, marah, kecewa dan lainnya.

Unsur Ekstrinsik pada Geguritan

Selain unsur intrinsik, ada pula unsur ekstrinsik dalam geguritan yang harus diperhatikan. Unsur ekstrinsik adalah unsur di luar geguritan yang akan mempengaruhi hasil atau penilaian dari geguritan yang dibuat.

Unsur ini cukup penting untuk diperhatikan karena secara umum juga menjadi bahan penilaian dari pembaca geguritan.

Namun, berbeda dengan unsur intrinsik, beberapa macam unsur ekstrinsik ini tidak dituliskan dalam bait-bait geguritan yang dibuat. Adapun beberapa unsur ekstrinsik yang terdapat pada geguritan adalah sebagai berikut:

1. Biografi

Biografi adalah latar belakang atau riwayat penulis. Biografi ini bisa dijadikan sebuah media untuk memperkenalkan jati diri penulis agar pembaca mengetahui bagaimana latar belakang penulis tersebut.

Hal ini penting karena terkadang, pembaca akan mencari geguritan dari penulis tertentu.

2. Nilai Cerita

Nilai cerita adalah unsur ekstrinsik yang penting untuk membuat geguritan. Ada beberapa pembagian dari nilai cerita yang dimaksud.

Adapun beberapa jenis nilai cerita dalam geguritan yang bisa ditambahkan adalah nilai ekonomi, nilai politik, nilai sosial, nilai adat istiadat, nilai budaya dan lainnya.

Nah, beberapa unsur ekstrinsik di atas akan lebih baik jika ditambahkan dalam membuat geguritan. Dengan menambahkan unsur ekstrinsik, tentu saja hasil geguritan yang akan Kamu buat akan semakin bagus dan sempurna.

Jenis-Jenis Geguritan

Dalam praktik pembuatannya, ada beberapa jenis geguritan yang bisa dibuat. Beberapa jenis geguritan tersebut tentu saja mewakili detail yang berbeda-beda. Artinya, jenis geguritan yang berbeda bisa mengantarkan makna yang berbeda pula.

Nah, secara umum, ada tiga jenis geguritan yang harus Kamu ketahui. Dengan mengetahui jenis geguritan ini, tentu saja Kamu akan bisa membuat geguritan yang tepat seperti maksud yang Kamu kehendaki.

Adapun beberapa jenis-jenis geguritan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Geguritan Deskriptif

Jenis geguritan yang pertama adalah geguritan deskriptif. Ini adalah jenis geguritan yang sangat umum dijadikan tema pembahasan.

Jenis geguritan ini berisi tentang suatu peristiwa yang dijelaskan secara berurutan atau deskriptif.

2. Geguritan Naratif

Jenis geguritan yang kedua adalah geguritan naratif. Ini adalah jenis geguritan yang cenderung menceritakan pengalaman diri sendiri.

Jadi, Kamu sebagai penulis geguritan membuat sebuah narasi tentang pengalaman yang Kamu alami.

3. Geguritan Kritikan atau Sindiran

Jenis geguritan yang ketiga adalah geguritan kritikan atau sindiran. Seperti namanya, geguritan jenis ini adalah geguritan yang di dalamnya terdapat kritikan atau sindiran kepada pemerintah, instansi terkait, kebiasaan masyarakat dan lainnya.

Dari beberapa poin di atas, Kamu bisa mencari tahu lebih dalam mengenai jenis-jenis dari geguritan tersebut.

Dengan mengetahui jenis-jenis geguritan tersebut, maka Kamu bisa membuat geguritan yang tepat dan cocok sesuai dengan gagasan yang akan Kamu sampaikan.

Syarat Membaca Geguritan

Beberapa poin dan penjelasan di atas adalah teori tentang apa itu geguritan dan hal-hal yang ada di dalamnya. Nah, hal lain yang penting untuk diperhatikan terkait geguritan adalah cara untuk membacanya.

Sebagaimana di bahas di awal bahwa geguritan adalah sama dengan puisi dalam bahasa Indonesia.

Tentu, Kamu sudah tahu, bukan, jika pembacaan puisi memerlukan teknik dan aturan sendiri yang bisa mengeluarkan keindahan yang tercantum di dalamnya?

Nah, begitu pula geguritan. Untuk dapat menyampaikan pesan geguritan dengan baik dan indah, ada beberapa syarat yang harus dipahami saat hendak membaca geguritan.

Adapun beberapa syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Wirama, yaitu tinggi atau rendahnya nada atau keras dan lembutnya suara. Ini adalah syarat utama yang harus diperhatikan saat hendak membaca geguritan. Dengan syarat ini, maka akan ada penekanan dan penegasan kata dalam geguritan yang dibuat.
  2. Wirasa, yaitu perasaan atau penghayatan saat membaca geguritan. Penghayatan ini sangat diperlukan pada saat membaca geguritan. Dengan adanya penghayatan, maka hasil bacaan geguritan akan lebih bagus dan tentu saja makna dari geguritan akan lebih mudah dipahami oleh para pendengar
  3. Wiraga, yaitu polah atau gerakan saat membaca geguritan. Pembaca geguritan harus mampu memberikan gerakan tubuh yang pas dengan isi dari geguritan. Gerakan tubuh ini akan menunjang performa dan juga penghayatan saat membaca geguritan.
  4. Wicara, yaitu kelancaran bacaan geguritan. Dalam hal ini, sangat penting untuk memperhatikan kelancaran bacaan karena kata demi kata yang terdapat dalam geguritan bisa dipahami dengan lebih baik.

Contoh Geguritan

Nah, untuk membantu Kamu dalam membuat geguritan, ada beberapa contoh yang bisa Kamu jadikan referensi di bawah ini. Dengan contoh ini, Kamu bisa melihat bagaimana geguritan yang baik dan benar.

#1. Impen Suci

Sun gegurit…
Reroncening aksara kang rinakit
Dumadi kereta wicaraning prana kang ora bisa njerit
Babagan impen kang gumantung ing sakduwuring langit
Kapendem ing sajroning driva bocah alit

Saben wayah lingsir wengi
Eseme chandra kang nyeseni
Lintang tansah setya ngancani
Bocah alit kang ngrogoh impen suci

Gumebruk ron padha gayeng
Katerak banyu, ora bisa anteng
Ngancani bocah alit kang jagong meneng
Sinambah marang Gusti kang Maha Agung

Minuju Gusti rasian dingenger
Supaya lakune oran keblinger
Rasian aja mung sipengker
Kudu diuber, nganti aber

Nandyan estri sami jaler
Ayo padha ngadek njegegeg meger-meger
Aja mung angker ngiler
Yen ora arep sesepuhe siwer

..

 

#2. Gusti

Gusti…

Dalem namung tiyang kang lemah

Kang boten saged mlampah piyambak

Gusti…

Dalem namung tiyang ingkang gampil gripil

Tansah kegoda kesenengan donya

Gusti…

Hamung siji panyuwunku

Tuntun dalem wonten ing margi kang padhang gusti

Duh Gusti…

..

Semoga dari penjelasan mengenai puisi Bahasa Jawa di atas bisa memberikan informasi yang bermanfaat buat Kamu ya.

Rekomendasi buat kamu baca : Pantun Nasehat

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close