9 Puisi Hujan yang Penuh dengan Makna

Puisi Hujan

Puisi Hujan, image via canva.com/goodminds.id

Puisi merupakan bentuk karya sastra yang terikat oleh rima, irama dengan penyusunan bait serta barisnya yang tampak indah dan juga penuh dengan makna.

Hal inilah yang membuat puisi banyak digunakan oleh sebagian orang untuk mengungkapkan perasaannya. Ada beberapa jenis puisi. Salah satunya yakni puisi bebas.

Nah, puisi bebas ini bisa diisi dengan menggunakan beberapa tema. Namun, yang akan dibahas disini adalah puisi hujan. Pastinya Kamu sering kali menemukan puisi dengan tema satu ini bukan?

Contoh Puisi tentang Hujan

Hujan memang menjadi salah satu objek puisi yang tepat yang banyak digunakan untuk membuat sebuah karya sastra yang indah.

Di bawah ini ada beberapa contoh dari puisi hujan yang bisa Kamu simak.

Puisi Tentang Hujan Pertama

#1. Hujan di Bulan Juni

Karya: Prof. Sapardi Djoko Damono

 

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon yang berbunga itu

 

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapuskannya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

 

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar

Pohon bunga itu

 

Puisi Tentang Hujan Kedua

#2. Hujan dan Namamu

Karya: E. Natasha

 

Senandung lagu mendekap lirih romansa jiwa

Benak menyapa raut wajah yang nyaris tenggelam

Dalam lautan mimpi sang penghirup malam

Melawan hujan, mereguk jejak tanpa nama dunia

 

Dia yang mencoba membaca arah

Dalam gelap, memanggil cahaya yang tersembunyi di balik aksara

Berdiri sendiri mencoba mengenal suara kerinduan

Adakah dia disana masih terpaku menatap kenangan

 

Kemana kau akan berlari

Melepas pagi dan mencoba memutar mentari

Apakah kau masih terlelap dan terus bermimpi

Memuja cinta tanpa rasa haus duniawi

 

Kenangan hujan memanggilmu dan tetap memanggil namamu

Meski luka mencoba menjauhkan dirimu dari putaran waktu masa lalu

Bulan disana masih merindukanmu

Untuk kembali padanya, tanpa menghapus tangisan hujan di wajahmu

 

Puisi Tentang Hujan Ketiga

#3. Setetes Kenangan dalam Hujan

Karya: Tarisya Widya Safitria

 

Dulu

Saat semburat merah jingga nan elok

Saat gumpalan kapas gelap bersanding bersama cakrawala

Tetes kehidupan jatuh serentak

Memborbardir ribuan kilometer lahan

 

Impresi menguap di atas tanah

Larut bersama wewangian hujan

Di bawah rintik-rintik nikmat Tuhan

Tersemat manis indahnya janji masa depan

Penuh kebahagiaan semu berselimut basah

 

Kini,

Beradu dengan nestapa

Menatap seruan hina yang menyayat jiwa

Menusuk hingga rindu menyeruak keluar

Dengan satu tarikan nafas gusar

 

Puisi Tentang Hujan Keempat

#4. Kenangan di Basah Hujan

Karya: Rayhandi

 

Di basah itu memori tersangkut

Menyanyut ingat membara baying

Terlihat warna di pucuk mata

Kurasa memori menari bernyanyi berputar

 

Masih teringat olehku

Kenyataan yang menggenggam

Hangat menguat melawan dingin

Terbawa sampai ke ulu hati

 

Aku tak ingin melupa

Rasa di bidang merah masih menyenja

Di baying barat rasa itu kugantung

Bersama hujan ia melebur

 

Hujannya deras terasa

Merangkak mencari celah

Batu keras memukulku

Terngiang ingin mengapak

 

Aku belum larut menjadi abu

Aku masih menjadi ingatan yang takkan raib

Menjadi sepertiga kenangan yang hidup di hujan malam

Aku masih menjadi cerita untuk hari ini dan selamanya

 

Puisi Tentang Hujan Kelima

#5. Musim Hujan

Karya: Rayhandi

 

Disini kasih

Berbalut selimut menghangat raga

Dingin terasa hingga sampai ke tangan

Merambah mencari celah

 

Hujan kali ini begitu berbeda

Berbeda karena di ujung malam

Sepi mencekam bosan

Bermain kantuk membutakan mata

 

Aku masih disini

Masih menjadi beku yang tak hangat

Terasa sesak tatkala tertatap

Mungkin dingin menjadi penawar

 

Atap dan daun rimbun jadi saksi

Bahwa bening mencumbu hijau

Terlarut basah meninggal subur

Penawar di musim kemarau

 

Puisi Tentang Hujan Keenam

#6. Hujan dan Kebersamaan

Karya: Dedik B

 

Hujan ini mengingatkanku pada angan

Pada kebersamaan pernah kita jalankan

Setiap orang menarikan imajinasi yang disampaikan

Melalui kertas putih tak diharapkan

 

Langit terasa gelap mencekam

Air berjatuhan tanpa memberi kesempatan

Hawa dingin menusuk pori-pori badan

Semangat tetap tak terbantahkan

 

Ada yang tidur dengan kesakitan

Ada yang merenung dengan kesendirian

Ada yang ragu dalam penyampaian

Ada pula cinta dalam kebersamaan

 

Kasih ku tatap mata tajam

Ada kerinduan terlalu dalam

Seperti tanah gersang merindukan hujan

Kasih bila hujan telah tiada

Adakah kebersamaan kita tetap terjaga?

Setiap peristiwa melahirkan suka dan duka

Dan menjadi penyebab guncangan jiwa

..

Puisi Tentang Hujan Ketujuh

#7. Hujan

Karya: Nalaili

 

Ditengah lelap tidurku

Aku terbangun akan suara petir yang bergemuruh

Angin mulai berdesir menderuh

Hawa sejuk mulai menyergap tubuh

 

Butiran itu kembali jatuh

Dari awan yang mulanya biru

Menarik penasaran dalam perasaan

Melihat daun dan dahan yang berbasahan

 

Seakan mengembalikan puing-puing kenangan

Yang dulu terjadi pada saat bersamaan

Juga secercah harapan

Dari-Nya

 

Tuhan menghantarkan pesan

Agar kesalahan di masa yang telah sudah

Tak berulang saat mentari kembali menyapa

Bukan hanya teguran namun juga pengajaran

 

Karena sejatinya matahari dan hujan

Adalah bahan untuk melukis pelangi yang indah

 

Puisi Tentang Hujan Kedelapan

#8. Memory Hujan

Karya: Arek Ndeso

 

Hujan

Oh, hujan

Engkau bagiku

Ingatan kenanganku

Mengapa aku selalu teringat

Kenangan manisku

Kenangan waktu-waktu yang terlewat

 

Oh hujan

Engkau memory, memory

Yang tak pernah hilang

Hingga sampai aku bisa mengingatnya kembali

 

Hujan,

Engkaulah kehidupan dunia

Meneteskan air, mengalir

Hingga mengalir di fikiranku

 

Oh hujan,

Mengapa aku tersenyum

Saat engkau turun dan juga sedih

Saat engkau turun bagaikan kenangan

Memory yang hilang

 

Hujan

Tetapi sesaat, aku juga teringat

Akan kenangan-kenangan yang membuatku

Merasa sedih, kesal

Tetapi aku menyalahkanmu wahai hujan

Karena engkau adalah memory

Yang kembali kepada diriku

 

Puisi Tentang Hujan Kesembilan

#9. Tangisan Langit

Karya: PMS

 

Kaki-kaki kecil berlarian

Di atas genangan air yang banyak

Wajah-wajah mereka memandang langit

Yang sedang menangis pilu

 

Mengundang nikmat yang tak bisa dibeli dengan uang

Rintik-rintiknya mengenai wajah mereka

Bukan berlindung tapi malah menari

Suara tertawa mereka terdengar menyenangkan

 

Angin mengikuti kesenangan mereka

Membuat badan menggigil

Tapi, mereka tidak peduli

Tetap bersenang-senang

 

Angin dan air adalah perpaduan yang menakjubkan

Kadang mengakibatkan bencana

Dan kadang pula menjadi nikmat

Semua tergantung kita mengartikan tangisan langit

 

Tidak bisa membayangkan

Langit tak mengis

Tak bisa membayangkan

Tanah-tanah menjadi kering

Juga tak bisa membayangkan

Rumah-rumah ditamui air

Benar kata orang

Pandailah mengolah tangisan air

 

Di atas sana ada yang berhasil

Berhasil menenangkan langit

Sehingga tangisannya perlahan tapi pasti

Akan berhenti sempurna

 

Kaki-kaki kecil itu berlari

Berlari memasuki rumah mereka

Disana telah menunggu

Seorang wanita yang membentangkan handuk

 

Menyambut tubuh mereka yang basah kuyup

Seperti mereka yang menyambut tangisan langit

Dengan tersenyum

 

Sekarang tangisan itu berhenti sempurna

Benar-benar sempurna

Hanya menyisihkan tetesan air

Dari atap daun dan palang-palang kayu

Sungguh nikmat yang sempurna

Nikmat dari Tuhan yang Agung

Tuhan yang tidak akan meninggalkan kita

Dimana pun dan kapan pun

..

 

Itu dia deretan puisi hujan yang bisa Kamu jadikan sebagai referensi. Hujan memang menjadi objek yang menarik untuk dijadikan sebuah puisi. Tak heran, jika puisi tentang hujan ini mengandung banyak makna.

Baca juga : Kata kata tentang hujan

Terimakasih sudah berkunjung dan membaca artikel ini.

Klik star berikut untuk memberikan dukungan pada kami 😀

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

By continuing to use the site, you agree to the use of cookies. more information

The cookie settings on this website are set to "allow cookies" to give you the best browsing experience possible. If you continue to use this website without changing your cookie settings or you click "Accept" below then you are consenting to this.

Close